Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah material abu vulkanik dari letusan utama menyebar ke sejumlah wilayah.
Lantas, sampai kapan abu vulkanik tersebut dapat bertahan dan menyebar di atmosfer?
Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, memberikan penjelasan melalui cuitannya di akun X pada Minggu (6/9).
Ia menjelaskan, material hasil erupsi yang terbawa hingga atmosfer atas dapat menyebar dalam beberapa hari.
Secara umum, jika tidak terjadi hujan, material tersebut dapat bertahan dan terdistribusi selama sekitar lima hari.
Penyebarannya pun tidak selalu mengikuti arah angin di permukaan.
Hal ini karena arah angin di setiap lapisan ketinggian atmosfer bisa berbeda.
Angin di permukaan misalnya bergerak ke arah barat atau barat laut.
Namun, di lapisan atmosfer yang lebih tinggi, arah anginnya bisa bergerak ke timur maupun ke selatan.
Kondisi inilah yang membuat abu vulkanik Anak Krakatau tidak hanya bergerak menuju Sumatra.
Material abu dengan kolom erupsi yang sangat tinggi dapat terbawa angin di berbagai lapisan atmosfer, sehingga ketika perlahan turun, distribusinya bisa meluas ke berbagai arah.
Selain abu vulkanik, perhatian juga diberikan terhadap material sulfur yang terbawa ke atmosfer.
Karena itu, perkembangan arah dan luas penyebaran material hasil erupsi masih terus dipantau menggunakan data model atmosfer.
BRIN juga mengimbau masyarakat di wilayah Jawa bagian barat hingga Lampung untuk tetap waspada dan menggunakan masker, terutama jika terdapat paparan abu vulkanik.
Meski demikian, kondisi ini masih terus dipantau dan diharapkan tidak terjadi letusan susulan yang dapat memperluas dampak erupsi.