Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 51.591 unit rumah warga telah melewati proses verifikasi dan validasi dua pekan pascagempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa jumlah tersebut setara dengan 50,39 persen dari total sasaran pendataan awal sebanyak 102.384 unit rumah yang tersebar di tujuh kabupaten terdampak.

"Dari hasil verifikasi sementara, sebanyak 2.382 unit rumah masuk kategori rusak berat, 7.276 unit rusak sedang, dan 14.177 unit rusak ringan, sementara 27.756 unit dinyatakan tidak mengalami kerusakan," kata dia.

Berton menjelaskan pendataan ini masih bersifat dinamis seiring percepatan penyandingan data berbasis by name by address (BNBA), pembersihan data ganda, serta verifikasi lapangan terhadap data susulan di tingkat daerah.

Berdasarkan sebaran wilayah per 7 September 2026, Kabupaten Manggarai Barat mencatatkan cakupan verifikasi tertinggi mencapai 12.367 unit dari 12.613 data awal (468 rusak berat, 1.930 rusak sedang, 4.187 rusak ringan).

Sementara di Kabupaten Nagekeo terverifikasi 15.929 unit (218 rusak berat, 1.523 rusak sedang, 3.475 rusak ringan).

Selanjutnya di Kabupaten Manggarai Timur telah terverifikasi 7.366 unit (1.078 rusak berat), Kabupaten Manggarai 7.089 unit (448 rusak berat), Kabupaten Ngada 7.544 unit (126 rusak berat), Kabupaten Sikka 1.001 unit (43 rusak berat), dan Kabupaten Ende 295 unit (1 rusak berat).

Secara paralel, BNPB kini menerjunkan tim pendampingan ke pemda terdampak untuk menyusun Kajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) serta Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) agar pemulihan hunian warga berbasis data tervalidasi.