Baca juga: Data Satelit Himawari, Sebaran Abu Vulkanik GAK Terpantau di Lampung Bagian Tengah hingga Barat
Selain abu vulkanik, Pemprov Lampung juga memantau kualitas udara di wilayah terdampak.
Di Bandar Lampung, hasil pemantauan pada 5-6 September menunjukkan konsentrasi sulfurdioksida (SO2) berada pada kisaran 212 hingga 224 mikrogram per meter kubik.
Selain itu, konsentrasi sulfurdioksida di Bandar Lampung dan sekitarnya tercatat mencapai 212–224 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori tidak sehat.
Sulfurdioksida merupakan gas vulkanik yang dapat mengganggu saluran pernapasan.
Analis Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang hingga Senin masih berstatus Level III atau Siaga.
"Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, membatasi aktivitas apabila tidak mendesak, serta menutup ventilasi rumah untuk mengurangi masuknya abu," kata Wahyu, Senin.
Masyarakat juga diminta segera menuju fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan maupun iritasi.
Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) juga berdampak terhadap kualitas udara di lingkungan kampus Institut Teknologi Sumatera (Itera).
Program Studi Teknik Lingkungan Itera pun melakukan pemantauan kualitas udara di lingkungan kampus untuk mengetahui kondisi udara di tengah paparan partikulat akibat aktivitas erupsi GAK.
Hasil pemantauan sementara menunjukkan konsentrasi partikulat di dalam ruangan telah masuk kategori tidak sehat dan perlu diwaspadai.
Kondisi tersebut membuat Itera menghentikan sementara perkuliahan tatap muka dan menggantinya dengan perkuliahan secara daring. Selain itu, aktivitas bekerja dari rumah atau work from home (WFH) juga diterapkan hingga kondisi memungkinkan.
Dosen Teknik Lingkungan Itera, Novi Kartika Sari, mengatakan pemantauan kualitas udara dilakukan menggunakan dua perangkat.
Satu alat ditempatkan di area depan pelataran Gedung A untuk mengukur kualitas udara ambien, sementara perangkat lainnya digunakan untuk memantau kondisi udara di dalam ruangan Gedung A.
"Parameter yang kami ukur meliputi PM2.5 dan PM10 untuk udara luar dan dalam ruangan, kemudian SO2, NO2, CO, CO2, serta parameter meteorologi seperti arah dan kecepatan angin, suhu, kelembapan, dan tekanan," ujar Novi, Senin.
Menurut Novi, pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi kualitas udara di lingkungan Itera sekaligus melihat potensi pengaruh partikulat dari aktivitas erupsi GAK.
Namun, alat yang digunakan tidak dapat secara langsung memastikan bahwa seluruh partikulat yang terukur berasal dari abu vulkanik.
"Alat ini merupakan instrumen untuk pengukuran kualitas udara ambien, sehingga tidak bisa secara langsung mengatakan partikulat yang terukur berasal dari abu vulkanik.
Namun, kita dapat memprediksi apakah lokasi yang menjadi reseptor terpengaruh oleh abu vulkanik atau tidak," jelasnya.
Prediksi tersebut, kata Novi, dilakukan dengan mempertimbangkan adanya episode erupsi yang menghasilkan material abu dalam jumlah besar serta arah angin dari lokasi erupsi yang mengarah ke wilayah Lampung.
( Tribunlampung.co.id )