Apakah Erupsi Anak Krakatau Berpotensi Tsunami? Pakar ITS Minta Publik Tak Samakan Letusan 1883
Sarah Elnyora Rumaropen September 07, 2026 10:35 PM

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Pakar Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Alutsyah Luthfian S.Si., M.Sc., mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tidak berspekulasi terkait potensi tsunami imbas meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, Senin (7/9/2026). 

Luthfian menegaskan, publik kurang tepat jika menjadikan peristiwa letusan dahsyat pembentukan kaldera pada 1883 sebagai patokan untuk mengukur erupsi saat ini. 

Masyarakat diminta tetap tenang, fokus pada langkah mitigasi bencana, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi di media sosial.

Fian sapaan akrabnya mengatakan, potensi tsunami akibat aktivitas Anak Krakatau tidak bisa dipastikan kapan akan terjadi. 

Baca juga: 7 Provinsi di Jawa–Sumatera Terancam Abu Erupsi Krakatau, BMKG Deteksi Ketinggian 50 Ribu Kaki

Oleh karena itu, Fian tidak ingin berspekulasi mengenai kemungkinan tsunami dari aktivitas gunung api tersebut, terlebih  meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau juga kembali mengingatkan masyarakat akan pengalaman tsunami Selat Sunda pada 2018.

“Kalau tsunami itu untuk saat ini kita tidak berani berspekulasi,” katanya saat ditemui di Laboratorium Departemen Teknik Geofisika ITS, Surabaya, Jawa Timur, Senin (7/9/2026).

Tsunami Tahun 2018

Menurut Fian, pengalaman pada 2018 menunjukkan perubahan pada tubuh Anak Krakatau dapat menimbulkan konsekuensi yang sulit diprediksi.

Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Peristiwa tersebut berbeda dengan tsunami yang terjadi akibat gempa tektonik karena sumbernya berkaitan dengan longsoran material gunung api ke laut.

Baca juga: 4 Kereta Malang–Jakarta yang Disiagakan KAI Imbas Pembatalan Penerbangan akibat Erupsi Krakatau

Fian mengatakan, kejadian tersebut juga menjadi pengingat masyarakat perlu memiliki kesiapan menghadapi kemungkinan bencana.

“Gunungnya seperti diam-diam, entah meletus, entah longsor, kemudian longsornya jatuh ke laut dan menimbulkan tsunami,” ujarnya.

Pentingnya Mitigasi Bencana 

Meski demikian, Fian menekankan kesiapsiagaan tidak sama dengan kepanikan.

Menurutnya, masyarakat lebih baik mempersiapkan langkah antisipasi, mitigasi, dan rencana yang dapat dijalankan apabila terjadi kondisi darurat.

“Kita lebih kepada antisipasi, mitigasi, dan juga memiliki plan yang bisa kita jalankan ketika hal itu terjadi,” jelasnya.

Fian mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan informasi yang beredar di media sosial sebagai dasar untuk mengambil keputusan, terutama informasi yang belum diketahui sumber dan kebenarannya.

Baca juga: Daftar 12 Penerbangan Cancel di Bandara Juanda Imbas Erupsi Krakatau: Lion Air, Batik, dan Garuda

Masyarakat, lanjut Fian perlu mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui kanal resmi pemerintah, termasuk informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Jadi tetap monitor saja situasi, tetap waspada, tetap awas, tetap siaga, jangan sampai kita lengah,” tegasnya.

Jangan Samakan dengan Letusan 1883

Fian juga meminta masyarakat tidak langsung menyamakan aktivitas Anak Krakatau saat ini dengan letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883.

Menurutnya, peristiwa 1883 merupakan kejadian luar biasa yang berkaitan dengan pembentukan kaldera.

Oleh karena itu, letusan tersebut tidak tepat dijadikan patokan untuk memperkirakan kapan Anak Krakatau akan kembali mengalami letusan besar.

“Kalau kita menggunakan tahun 1883 sebagai patokan itu jelas kurang tepat. Itu eksepsional, kasus yang di luar kebiasaannya,” ungkapnya.

Setelah pembentukan kaldera akibat letusan besar 1883, aktivitas vulkanik kemudian melahirkan Anak Krakatau yang tumbuh di kawasan kaldera tersebut.

Anak Krakatau pertama kali muncul di atas permukaan laut pada 1927 dan sejak itu mengalami aktivitas erupsi secara berkala.

Fian mengatakan, perilaku Anak Krakatau setelah terbentuknya kaldera lebih relevan untuk dijadikan bahan dalam memahami aktivitas gunung tersebut saat ini.

Aktivitas erupsi yang berulang tidak otomatis berarti Anak Krakatau akan mengulang peristiwa besar seperti 1883, namun menurut Fian, risiko tetap perlu diperhitungkan karena Anak Krakatau berada di lingkungan laut.

Fian menilai, masyarakat yang tinggal di wilayah berpotensi terdampak perlu memahami jalur evakuasi dan mengetahui langkah yang harus dilakukan apabila terdapat peringatan resmi.

“Antisipasi, mitigasi, dan memiliki plan yang bisa kita jalankan ketika hal itu terjadi,” katanya.

Pemantauan Aktivitas Anak Krakatau

Sementara itu, pemerintah melalui PVMBG masih memantau aktivitas Anak Krakatau.

Status gunung api tersebut tetap berada pada Level III atau Siaga.

Setelah erupsi menerus sekitar 25 jam berakhir pada 6 September 2026, aktivitas erupsi masih berlanjut dan potensi erupsi susulan tetap diwaspadai.

Di sisi lain, BMKG terus memantau sebaran abu vulkanik Anak Krakatau.

Pada 6 September, abu terpantau bergerak pada lapisan atmosfer berbeda ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, serta perairan di sekitarnya.

Oleh karena itu, Fian kembali mengingatkan masyarakat agar tidak lengah, tetapi juga tidak panik menghadapi aktivitas Anak Krakatau.

Menurutnya, kesiapsiagaan yang baik justru dilakukan sebelum bencana terjadi, dengan memahami informasi resmi, mengenali wilayah risiko, serta mengetahui rencana evakuasi yang dapat dijalankan ketika kondisi darurat benar-benar terjadi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.