Jadi Panggung Budaya Nusantara, dari Baju Cele hingga Busana Jawa Warnai Festival Nieuw Victoria
Mesya Marasabessy September 07, 2026 10:45 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Ada yang datang membawa baju cele. 

Ada yang mengenakan pakaian cakalele. 

Sebagian lainnya tampil dengan busana khas Jawa, Bali, Sulawesi, NTT hingga baju khas lokal dari daerah Maluku Barat Daya.

Malam itu, sekitar pukul 19.30 WIT pada Senin (7/9/2026), di Lapangan Merdeka Kota Ambon berubah menjadi satu panggung kebudayaan raksasa.

Bukan hanya satu budaya yang tampil.

Beragam identitas daerah berjalan berdampingan, disaksikan masyarakat yang memadati sisi-sisi lintasan parade.

Suasana itu terasa dalam Festival Benteng Nieuw Victoria Tahun 2026 yang diselenggarakan  Balai Pelestarian dan Kebudayaan Provinsi Maluku. 

Satu per satu rombongan bergerak melewati lintasan di tengah sorotan lampu.

Ada yang berjalan dengan tenang memperlihatkan detail busananya.

Ada pula yang tampil lebih atraktif, membawa suasana pertunjukan ke tengah parade.

Sesekali terdengar sorakan dan tepuk tangan dari penonton yang mengabadikan penampilan mereka.  

Rombongan ini telah tiba bertahan sejak pukul 16.30 WIT.

Mereka datang bersama rombongan masing-masing, membawa busana, kesenian dan ciri khas daerah yang ingin mereka perkenalkan dalam festival itu.

Victoria jawa
FESTIVAL BENTENG NIEUW VICTORIA - Kenakan busana ciri khas dari Jawa dalam festival Benteng Nieuw Victoria yang berlangsung di Lapangan Merdeka, Kota Ambon pada Senin (7/9/2026).

Ambon Tak Hanya Menampilkan Budaya Maluku

Festival ini tentu menarik, sebab panggungnya tidak hanya diisi kebudayaan Maluku.

Berbagai paguyuban dan sanggar dari daerah lain yang kini berada di Kota Ambon ikut tampil.

Ada Sanggar NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Bali, dan sejumlah komunitas daerah lainnya.

Masing-masing datang dengan identitasnya.

Perbedaan itu justru menjadi daya tarik utama.

Bukan Cuma Pakaian, Ada Tarian dan Cerita

Kemeriahan festival juga datang dari berbagai pertunjukan seni.

Atraksi bambu gila, menjadi salah satu kesenian yang ditampilkan.

Ada pula tarian dari Jawa dan pertunjukan budaya lainnya.

Setiap penampilan membawa karakter berbeda.

Ada yang energik, ada yang anggun, ada pula yang penuh warna.

Salah satu peserta bahkan tampil mengenakan busana yang menggambarkan Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan. 

Ia adalah Aqila Paramitha Alvaris, anak perempuan berusia 12 tahun dari Jawa Timur.

Aqila datang bersama rombongan Jawa Timur yang tinggal dan menetap di Kota Ambon. 

Baginya, tampil di Ambon menjadi pengalaman baru sekaligus kesempatan memperkenalkan budaya daerahnya.

“Kesan saya sangat berbahagia dapat berpartisipasi dalam acara ini,” ujar Aqila saat ditemui TribunAmbon.com usai acara parade.

Ia mengaku baru pertama kali mengikuti penampilan seperti itu. 

“Ini saya baru menampilkan seperti ini baru pertama kali dan senang,” 

Menurut Aqila, ada tujuan yang lebih penting di balik penampilannya, yaitu pelestarian kebudayaan dimanapun berada. 

“Ini tujuannya juga untuk melestarikan busana-busana dari Jawa Timur.”

Di sinilah festival tersebut terasa berbeda.

Budaya tidak hanya ditempatkan di dalam ruang pertunjukan atau dipajang sebagai benda yang dilihat dari kejauhan.

Malam itu, budaya dipakai, dimainkan, ditarikan dan dibawa langsung oleh orang-orang yang menjalaninya.

Anak-anak muda ikut mengenakan pakaian tradisional.

Paguyuban dari berbagai latar belakang ikut berjalan dalam satu parade.

Kota Ambon pun menjadi titik temu.

Budaya Maluku tetap menjadi tuan rumah, tetapi memberikan ruang bagi budaya lain untuk ikut hadir.

Festival Benteng Nieuw Victoria 2026 mengusung tema “Merangkai Warisan Budaya dalam Harmoni” memang dirancang sebagai ruang perjumpaan kebudayaan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku dan menjadi bagian dari rangkaian memeriahkan HUT ke-451 Kota Ambon. 

UMKM Juga Mendapat Panggung

Keramaian festival juga tidak berhenti di panggung dan lintasan parade.

Puluhan UMKM di Kota Ambon ikut dilibatkan.

Produk-produk mereka hadir di tengah masyarakat yang datang menikmati festival.

Begitu, perayaan budaya tidak hanya memberi ruang bagi sanggar dan pelaku seni, tetapi juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal.

Pada akhirnya, kekuatan Festival Benteng Nieuw Victoria justru terletak pada keberagamannya.

Hingga pukul 22.00 WIT, Festival Benteng Nieuw Victoria masih berlangsung. 

Festival Benteng Nieuw Victoria masih berlangsung hingga Selasa 8 September 2026. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.