Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, menyoroti dugaan pencatutan nama sejumlah tokoh dalam buku berjudul Islam ala Prabowo.
Ia mengkritik pencatutan nama tersebut sebagai persoalan serius, bahkan menyebutnya sebagai kejahatan intelektual.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram-nya pada Senin (7/9/2026), Guntur secara terbuka menyebut ada kebohongan besar di balik penerbitan buku Islam ala Prabowo.
"Yang jauh lebih janggal dan sama sekali tak bisa diterima adalah pengakuan tiga tokoh yang namanya dicatut sebagai penulis," kata Guntur.
Ia kemudian menyinggung pengakuan tiga tokoh yang namanya disebut dalam buku tersebut, yakni Gus Kautsar, Tuan Guru Bajang (TGB), dan Said Aqil Siradj.
Guntur menyebut ketiganya mengaku tidak pernah dilibatkan dalam penulisan buku Islam ala Prabowo.
"Ini bukan sekadar kesalahan redaksional, melainkan pencatutan nama yang pantas disebut kejahatan intelektual," sambungnya.
Selain masalah pencatutan nama, ia juga menyoroti pemilihan judul buku Islam ala Prabowo yang dinilai terkesan dipaksakan.
Pasalnya, Ketua Umum Partai Gerindra tersebut dinilai tidak memiliki rekam jejak yang kuat dalam pemikiran Islam.
Sebagai informasi, buku Islam ala Prabowo diluncurkan dalam acara Rakornas BAZNAS 2025 di Jakarta.
Peluncuran dilakukan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, bersama Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Prof. Dr. KH Noor Achmad.
Pada Senin (7/9/2026), BAZNAS menegaskan tidak ada dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang digunakan untuk pembuatan maupun penerbitan buku Islam ala Prabowo.
Keterlibatan BAZNAS dalam peluncuran buku tersebut pada 2025 hanya dalam konteks hubungan kelembagaan dan literasi dakwah keagamaan.