SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat turunnya hujan di sejumlah titik di beberapa wilayah kanupaten
Turunnya hujan itu merupakan indikator keberhasilan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang tengah dijalankan Pemrov Jatim sebagai upaya penanganan kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut hujan turun di 11 titik .
“Berdasarkan pemantauan alat Automatic Rain Gauge (ARG), hujan dengan intensitas ringan hingga sedang telah turun di 11 titik yang tersebar di enam kabupaten,” kata Khofifah, Senin (7/9/2026) malam.
Tim BPBD Jatim bekerja sama dengan Kemenhut dan juga BMKG menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Jatim.
Hingga 6 September 2026, sebanyak 3.200 kilogram atau 3,2 ton NaCl telah disemai dalam empat kali pelaksanaan OMC.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Jatim, OMC telah dilaksanakan sebanyak empat kali pada 3-6 September 2026.
OMC perdana dilakukan pada Kamis (3/9/2026) pukul 15.50 WIB menggunakan pesawat CASA NC212/A-2104.
Operasi pertama menyasar wilayah Lumajang dan Probolinggo dengan menyebarkan 800 kilogram NaCl.
Kemudian pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 15.25 WIB, OMC kembali dilakukan dengan sasaran wilayah Probolinggo-Lumajang.
Operasi juga menyasar kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), area di atas Kota Batu dan Gunung Arjuno, serta wilayah Malang.
Sebanyak 800 kilogram NaCl kembali disebarkan dalam operasi itu.
Secara keseluruhan, rangkaian OMC menyasar sejumlah wilayah, mulai dari Malang, Kota Batu, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso hingga Banyuwangi.
Khofifah menjelaskan, pelaksanaan OMC tidak dilakukan secara sembarangan.
Waktu dan lokasi penyemaian disesuaikan dengan kondisi atmosfer serta keberadaan awan potensial yang bergerak memasuki wilayah daratan.
Karena itu, pemantauan dari BMKG menjadi salah satu dasar dalam menentukan waktu dan lokasi pelaksanaan OMC.
“OMC dilaksanakan ketika kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial memungkinkan. Awan yang mulai bergerak memasuki sejumlah wilayah terus dipantau,” jelasnya.
“Ketika dinilai potensial, kondisi tersebut dioptimalkan melalui OMC untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran,” lanjut Khofifah.
Baca juga: Kekeringan Meluas, Pemprov Jatim Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, hasil dari OMC tersebut mulai terlihat.
Hasilnya, hujan mulai terpantau turun di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Hujan mulai turun di enam kabupaten, yakni Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan.
Menurut Khofifah, hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah diharapkan dapat membantu masyarakat yang menghadapi dampak kekeringan.
“Semoga hujan yang turun ini memberikan manfaat bagi masyarakat, membantu menjaga ketersediaan air, mengurangi dampak kekeringan, serta menekan risiko kebakaran hutan dan lahan,” imbuhnya.
Pascarangkaian OMC, hujan paling banyak terpantau di Kabupaten Lumajang.
Hujan dengan intensitas sedang tercatat di ARG Pronojiwo.
Sementara hujan ringan terpantau di ARG Pasrujambe, Pasirian, dan Jokarto.
Di Kabupaten Banyuwangi, hujan ringan terpantau di ARG Lidjen Jambu dan ARG Kalibaru.
Kemudian di Kabupaten Malang, hujan ringan tercatat di ARG Sitiarjo dan ARG Dampit.
Hujan ringan juga terpantau di ARG Rekayasa Panti, Kabupaten Jember; ARG Trenggalek, Kabupaten Trenggalek; serta ARG Sudimoro, Kabupaten Pacitan.
Baca juga: Langit Jatim Diguyur 3,2 Ton Garam Modifikasi Cuaca, Hujan Akhirnya Basahi Wilayah Kekeringan
Khofifah menegaskan, OMC merupakan salah satu upaya untuk menghadapi kekeringan dan Karhutla.
Penanganan tidak hanya mengandalkan rekayasa cuaca.
Pemprov Jatim juga tetap melakukan distribusi air bersih, penyediaan tandon, optimalisasi sumber air, serta meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat.
“Tidak ada satu intervensi yang berdiri sendiri. Selain OMC, penanganan di lapangan melalui distribusi air bersih, penyediaan tandon, dan optimalisasi sumber air tetap berjalan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” ungkapnya.
Selain menghadapi kondisi kekeringan saat ini, Pemprov Jatim juga mulai memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi El Nino yang dapat meningkatkan risiko Karhutla.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla.
Sejumlah langkah disiapkan, mulai dari penguatan sistem deteksi dan peringatan dini, pemetaan daerah rawan, hingga peningkatan patroli.
Peran Masyarakat Peduli Api (MPA) juga akan dioptimalkan untuk membantu mencegah kebakaran meluas.
Selain itu, kesiapan satuan tugas darat, personel, dan peralatan juga terus diperkuat.
Khofifah menegaskan, respons cepat menjadi hal penting ketika muncul informasi mengenai karhutla.
“Pemantauan dan respons cepat harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap informasi mengenai karhutla harus segera dikoordinasikan dan ditindaklanjuti agar api tidak meluas dan dampaknya dapat diminimalkan,” tegasnya.