Krisis Dokter Israel Memburuk: 1.370 Tenaga Medis Eksodus, Orang-Orang Kaya Ikut Cabut
Hasiolan Eko P Gultom September 08, 2026 12:38 AM

Krisis Dokter Israel Memburuk: 1.370 Tenaga Medis Eksodus, Orang-Orang Kaya Ikut Cabut

TRIBUNNEWS.COM - Krisis tenaga medis di Israel dilaporkan semakin serius setelah 1.370 dokter meninggalkan negara tersebut sepanjang 2023 hingga 2025.

Data itu berasal dari studi yang disusun Universitas Tel Aviv dan dipublikasikan surat kabar Israel berbahasa Ibrani, Haaretz pada Minggu (6/9/2026).

Temuan tersebut menjadi perhatian karena eksodus tenaga medis terjadi ketika sistem kesehatan Israel juga menghadapi persoalan kekurangan dokter dan tingginya usia tenaga spesialis.

Dalam penelitian tersebut, seseorang dikategorikan sebagai dokter yang meninggalkan Israel apabila berada di luar negeri lebih dari 270 hari pada tahun pertama setelah pergi dan kemudian tidak tinggal di Israel selama lebih dari tiga bulan berturut-turut.

Peneliti memperingatkan bahwa persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah dokter yang telah pergi, tetapi kecenderungan peningkatan eksodus tersebut.

Dokter Senior Mulai Pergi

Salah satu penulis studi, Profesor Itai Etter, mengatakan peringatan mengenai fenomena brain drain sebenarnya telah muncul sejak 2023.

Menurut Etter, kekhawatiran tersebut awalnya berkaitan dengan perkembangan politik, termasuk rencana pemerintah melakukan perubahan terhadap sistem peradilan. Situasi kemudian memburuk setelah serangan 7 Oktober 2023 dan perang yang menyusul.

Para peneliti secara khusus melihat dokter berusia di atas 45 tahun. Kelompok ini dianggap penting karena umumnya telah menyelesaikan pendidikan spesialisasi dan memiliki peran dalam melatih dokter generasi berikutnya.

Hasil penelitian menunjukkan sekitar satu dari lima dokter yang meninggalkan Israel pada periode 2023–2025 berusia lebih dari 45 tahun.

Kondisi tersebut dinilai mengkhawatirkan karena kepergian dokter senior bukan hanya mengurangi jumlah tenaga yang tersedia untuk melayani pasien, tetapi juga berpotensi memengaruhi proses pendidikan dan regenerasi dokter spesialis.

Spesialisasi Tertentu Terdampak

Eksodus juga terlihat pada sejumlah bidang spesialisasi.

Sebanyak 116 dokter dari bidang THT, dermatologi, dan oftalmologi dilaporkan berhenti, atau sekitar 6,2 persen dari dokter yang bekerja dalam bidang-bidang tersebut.

Sementara itu, sebanyak 188 ahli bedah meninggalkan Israel. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 6 persen dari total ahli bedah.

Wilayah Tel Aviv mencatat tingkat kepergian dokter paling tinggi, yakni sekitar 5,4 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan migrasi tenaga medis tidak tersebar secara merata dan dapat memberikan tekanan lebih besar pada wilayah atau bidang tertentu.

Banyak Dokter Mendekati Usia Pensiun

Persoalan eksodus terjadi bersamaan dengan tantangan demografis di kalangan dokter Israel.

Laporan Kementerian Keuangan Israel menunjukkan sekitar 24 persen dokter spesialis yang bekerja di rumah sakit umum akan mencapai usia pensiun dalam beberapa tahun mendatang.

Pada saat yang sama, sekitar 25 persen dokter yang masih bekerja disebut telah melewati usia pensiun. Mereka tetap bekerja karena sistem kesehatan masih mengalami kekurangan tenaga medis.

Artinya, jika dokter senior terus meninggalkan Israel, tekanan terhadap rumah sakit berpotensi meningkat ketika sebagian besar tenaga medis lainnya juga mendekati masa pensiun.

Etter menilai perkembangan tren tersebut lebih mengkhawatirkan dibandingkan sekadar melihat kondisi saat ini.

Ia memperingatkan bahwa jika kecenderungan itu terus meningkat, persoalan tenaga medis dapat menjadi lebih berat setelah pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.

Eksodus Warga Israel Meluas

Kepergian dokter merupakan bagian dari fenomena migrasi yang lebih luas.

Studi lain dari Universitas Tel Aviv yang dirilis pada awal Agustus 2026 mencatat 268.509 warga Israel meninggalkan negara tersebut antara 2023 dan 2025 untuk periode sedikitnya tiga bulan.

Laporan media Israel mengaitkan peningkatan emigrasi dengan berbagai faktor, mulai dari dampak perang, tingginya biaya hidup hingga ketidakpastian politik.

Survei Kantar untuk Perusahaan Penyiaran Israel (KAN) juga menunjukkan sekitar seperlima warga Israel pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan negara itu dalam dua tahun terakhir.

Sebanyak 12 persen responden mengatakan hasil pemilihan umum mendatang dapat memengaruhi keputusan mereka untuk tetap tinggal atau pergi.

Emigrasi Kelompok Kaya Ikut Meningkat

Fenomena tersebut juga terlihat di kalangan warga Israel berpenghasilan tinggi.

Israel Hayom, dengan mengutip dokumen internal otoritas pajak, melaporkan tingkat emigrasi warga kaya Israel meningkat dua kali lipat antara 2019 dan 2024.

Dampaknya juga terlihat dari potensi kehilangan penerimaan pajak.

Menurut laporan tersebut, kerugian pajak akibat emigrasi kelompok ini meningkat dari sekitar 500 juta shekel per tahun menjadi sekitar 1,2 miliar shekel pada 2023 dan 2024.

Jika dikonversi menggunakan nilai yang tercantum dalam sumber, 500 juta shekel setara sekitar Rp2,5 triliun, sedangkan 1,2 miliar shekel sekitar Rp6 triliun.

Angka ini menggunakan asumsi kurs sekitar Rp5.000 per shekel dan dapat berubah mengikuti nilai tukar.

Perang Menambah Tekanan

Eksodus tenaga medis berlangsung ketika Israel masih berada dalam konflik berkepanjangan di Jalur Gaza.

Perang tersebut telah menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar dan kerusakan luas terhadap infrastruktur Gaza. Kondisi ini sekaligus menambah tekanan terhadap sistem kesehatan di kawasan.

Bagi Israel, persoalan kehilangan dokter memiliki konsekuensi jangka panjang.

Dokter yang pergi bukan hanya berarti berkurangnya tenaga pelayanan kesehatan, tetapi juga hilangnya pengalaman profesional, tenaga pengajar, serta calon pembimbing bagi dokter generasi berikutnya.

Karena itu, tren 1.370 dokter yang meninggalkan Israel dalam tiga tahun terakhir menjadi salah satu indikator penting mengenai tekanan yang dihadapi negara tersebut, terutama ketika kekurangan tenaga medis bertemu dengan persoalan usia pensiun, biaya hidup, ketidakpastian politik, dan dampak perang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.