Selain Ulta, Hugo Chavez hingga Dharma Pongrekun Sempat Klaim Proyek HAARP 'Pencipta' Bencana Alam
Facundo Chrysnha Pradipha September 08, 2026 04:20 PM

TRIBUNNEWS.COM - Deputi Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI Ulta Levenia Nababan tengah menjadi sorotan publik setelah mengeklaim bahwa proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) berkaitan dengan terjadinya erupsi terhadap gunung di Indonesia.

Pernyataan itu disampaikannya dalam unggahan di akun Instagram pribadinya pada Senin (7/9/2026).

Ulta pun memberikan klaim terkait pernyataannya tersebut adalah pendapat pribadi.

Dirinya mengaitkan proyek HAARP dengan kunjungan kerja (kunker) luar negeri Presiden Prabowo Subianto beberapa hari lalu untuk menghadiri Eastern Economic Forum 2026 di Vladivostok, Rusia.

“Walau gak ada bukti ilmiah yg kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran, ‘Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?” jelasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa HAARP memang kerap dikaitkan dengan teori konspirasi sebagai proyek yang dapat menciptakan bencana alam seperti badai hingga gempa bumi.

Baca juga: BMKG Sebut El Nino Sangat Kuat, Kekeringan dan Karhutla Masih Menghantui hingga September

Ulta mengungkapkan bahwa spekulasi semacam itu kerap disampaikan di beberapa siniar atau podcast di negara lain.

“Kenapa ada gap conspiracy ini tentang proyek HAARP? Karena kalau dilihat dengan kacamata geopolitik dan intelijen, proyek HAARP berkaitan dengan penelitian eksploitasi ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi yang awalnya berpusat di Alaska. Kemudian menimbulkan pertanyaan: untuk apa militer Amerika membangun pemancar radio yang sangat kuat di Alaska?” katanya.

Namun, klaim dari Ulta ini telah dijawab oleh anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono.

Dia menganggap bahwa apa yang disampaikan oleh Ulta tidak masuk akal dan bentuk disinformasi.

"Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak," katanya dikutip dari akun Instagram pribadinya, Selasa.

Sosok yang sempat menjabat sebagai Kepala Gempabumi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu mengungkapkan bahwa terjadinya erupsi pasti ditandai dengan adanya sinyal prekursor geofisika.

Selain itu, ada pula informasi dari rekaman seismisitas gempa vulkanik akibat rekahan batuan saat magma bergerak naik.

"Erupsi tidak pernah terjadi secara mendadak melalui tombol kendali otomatis, melainkan diawali oleh rekaman seismisitas berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor akibat rekahan batuan saat magma bergerak naik. Proses geologi yang cukup lama, tidak seperti membalik tangan," katanya jelasnya.

Di sisi lain, klaim soal terjadinya bencana alam akibat proyek HAARP ternyata tidak hanya disampaikan oleh Ulta.

Beberapa tokoh juga sempat mengaitkan terjadinya fenomena alam dengan proyek tersebut seperti mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez hingga mantan cagub DKI Jakarta Dharma Pongrekun.

Hugo Chavez Klaim Gempa Haiti 2010 akibat HAARP

Dikutip dari Los Angeles Times, Hugo Chavez sempat menuduh proyek buatan Amerika Serikat (AS) yaitu HAARP sebagai penyebab terjadinya gempa bermagnitudo 7 di Haiti pada tahun 2010.

Dia menyatakan bahwa proyek tersebut sebagai 'senjata gempa bumi' buatan Negeri Paman Sam tersebut.

Ia juga menyatakan bahwa sebuah pangkalan militer Rusia telah melaporkan uji coba senjata tersebut dan menyimpulkan bahwa gempa di Haiti merupakan 'hasil yang jelas' dari uji coba tersebut.

Bahkan, dia sampai menuding AS menggunakan gempa tersebut sebagai dalih untuk 'menjajah Haiti secara diam-diam'.

Eks Gubernur Minnesota Sebut HAARP Bisa 'Kendalikan Pikiran'

Selanjutnya, ada mantan Gubernur Minnesota, AS, Jesse Ventura yang menyebut bahwa proyek HAARP bisa untuk memanipulasi cuaca.

Hal itu disampaikannya saat dalam sebuah acara dokumenter yang tayang pada tahun 2009.

Bahkan, Ventura menyebut bahwa HAARP bisa mengendalikan pikiran manusia melalui gelombang radio.

"Perangkat ini bisa menjatuhkan pesawat di udara. Ia (HAARP) bisa mengendalikan cuaca. Dan ini adalah senjata yang sangat, sangat berbahaya," katanya.

Selain itu, dalam episode pertamanya, Ventura sempat melakukan kunjungan mendadak ke proyek HAARP di Alaska, tetapi disebutnya berujung diusir oleh penjaga.

"Ketika saya ditolak, saya justru melakukan hal yang berlawanan dengan merasa terintimidasi—saya malah marah," kata Ventura dengan nada geram.

Baca juga: Erupsi Anak Krakatau Meluas, 341 Ribu Penumpang Terdampak dan 3.450 Jemaah Umrah Terganggu

Dharma Pongrekun Klaim HAARP sebagai Pencipta El Nino

Eks calon gubernur (cagub) DKI Jakarta, Dharma Pongrekun mengeklaim bahwa proyek HAARP sebagai pihak yang menyebabkan terjadinya El Nino.

Dikutip dari laman BMKG, El Nino merupakan fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.

Di Indonesia, El Nino akan memberikan dampak berupa terjadinya kondisi kering hingga berkurangnya curah hujan.

Sementara, menurut Dharma, El Nino merupakan ciptaan dari HAARP.

Hal itu disampaikannya dalam potongan video yang diunggah di akun Instagram Ngaji Roso pada 13 Agustus 2026 lalu.

Mulanya, pembawa acara menanyakan terkait apakah memang El Nino itu ada pihak yang menciptakannya. Dharma pun mengiyakan hal tersebut.

"Tapi El Nino-nya memang ada yang dibuat tuh Godzilla El Nino-nya, pak?" tanya pembawa acara.

"Ya memang mereka yang buat. Siapa yang kasih nama? Hebat kali," jawab Dharma.

"Itu yang HAARP itu bukan sih?" tanya pembawa acara lainnya.

"Iya," jawab Dharma.

Namun, pernyataan Dharma tersebut langsung dibantah oleh peneliti bumi, atmosfer, dan lingkungan dari Monash University, Dietmar Dommenget.

Dikutip dari AFP, Dommenget menegaskan bahwa fenomena El Nino adalah murni akibat adanya aktivitas alam di Samudra Pasifik.

"El Nino sebenarnya tidak disebabkan oleh sesuatu yang memanaskan Samudra Pasifik. Ini adalah perubahan pola sirkulasi atmosfer dan lautan yang menyebabkan sejumlah besar air hangat mencapai dan menumpuk di Samudra Pasifik tropis bagian timur," katanya.

Baca juga: Ulta Levenia Kaitkan Erupsi Gunung dengan Proyek HAARP, Pakar: Meletus Bukan karena Rekayasa

Dia juga mengatakan bahwa El Nino merupakan fenomena alam yang telah diamati selama ratusan tahun, jauh sebelum adanya teknologi canggih seperti saat ini.

Dommenget menjelaskan bahwa pemanasan di lapisan bawah permukaan laut ini dapat diamati dengan jelas.

Selain itu, dirinya juga membantah bahwa gelombang radio dan gelombang mikro dapat menembus lapisan bawah permukaan laut.

"Inilah sebabnya, misalnya, kapal selam tidak dapat dijangkau oleh gelombang radio saat berada di bawah air. Gelombang mikro akan memanaskan permukaan, tetapi tidak lapisan di bawahnya," ujarnya.

Lalu, dosen ilmu iklim dari Universitas Melbourne, Mandy Freund, mengatakan tidak ada bukti ilmiah yang terkait terjadinya El Nino akibat gelombang radio berdaya tinggi seperti yang dituduhkan terhadap HAARP.

Ia mengungkapkan bahwa apa yang menjadi obyek penelitian dari HAARP adalah ionosfer dan bukan troposfer.

"Dampak yang mungkin ditimbulkan HAARP bisa diibaratkan seperti menusukkan jarum ke lautan yang luas... atau seperti meneteskan air kencing ke dalam lautan," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.