TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek pada akhir Agustus hingga awal September 2026 tidak sekadar menjadi ajang unjuk solidaritas blok Timur, melainkan panggung yang menyingkap manuver diplomatik Tiongkok di tengah memanasnya ketegangan geopolitik global.
Di atas kertas, blok sepuluh negara yang dipimpin Tiongkok dan Rusia tersebut memang tampil bersatu mengutuk serangan militer terhadap salah satu anggotanya, Iran.
Namun, realitas di balik layar menunjukkan dinamika yang jauh lebih pragmatis.
Pengamat geopolitik sekaligus keponakan Dalai Lama, Khedroob Thondup, menyoroti pertemuan singkat Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk kalkulasi diplomasi yang sangat berhati-hati.
“Tiongkok berupaya keras mendukung Iran secukupnya guna mempertahankan hubungan strategis, namun memastikan dukungan tersebut tidak terlalu mencolok hingga mengasingkan Washington atau merusak hubungan dengan mitra-mitra strategis di kawasan Teluk,” ujar Thondup, seperti dikutip dari European Times, Selasa (8/9/2026).
Sebagai forum keamanan regional, SCO kerap memposisikan diri sebagai penyeimbang institusi-institusi yang dipimpin Barat. Thondup menilai pernyataan solidaritas SCO terhadap Teheran sudah dapat diprediksi.
Namun, pendekatan Beijing yang memilih diam tanpa ada pernyataan resmi mengenai pertukaran sapaan singkat antara Xi dan Pezeshkian.
“Alih-alih mengambil posisi garis depan, Beijing lebih memilih menjaga agar konsensus SCO tetap bersifat luas dan simbolis. Strategi ini memungkinkan Tiongkok menghindari komitmen yang dapat merusak tindakan penyeimbangan globalnya,” kata Thondup.
Bagi Beijing, Teheran memiliki utilitas strategis yang jelas: pemasok energi dengan harga diskon, gerbang akses ke pasar Timur Tengah, dan mitra taktis dalam menantang dominasi Amerika Serikat.
Namun, merangkul Teheran secara terbuka juga membawa risiko geopolitik yang masif.
“Langkah konfrontatif hanya akan memperburuk hubungan AS-Tiongkok yang saat ini sudah sangat tegang akibat isu perang dagang, pembatasan teknologi, dan status Taiwan,” tutur Thondup.
Faktor lain yang memaksa Tiongkok menjaga jarak adalah jejak ekonomi mereka yang meluas secara dramatis di Jazirah Arab.
Uni Emirat Arab (UEA) saat ini berfungsi sebagai pusat logistik dan keuangan bagi Tiongkok, sementara Arab Saudi adalah pilar utama keamanan energi Beijing.
Kedua negara Teluk ini secara historis memandang Iran dengan penuh kecurigaan. Beijing menyadari sepenuhnya bahwa keselarasan terbuka dengan Teheran akan langsung merusak kredibilitasnya sebagai mitra netral, membahayakan sektor energi dan investasi infrastruktur di wilayah tersebut.
“Dengan membatasi interaksi hanya pada percakapan singkat yang tidak terdokumentasi, Xi Jinping mengirimkan sinyal dukungan yang cukup bagi Iran, tanpa harus mengikat Tiongkok pada sikap konfrontatif,” ungkap Thondup.
“Keheningan Tiongkok di Bishkek bukanlah bentuk keraguan, melainkan sebuah strategi yang dikalkulasi dengan matang,” lanjutnya.
Presiden Tiongkok Xi Jinping menggelar pertemuan singkat dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Kirgistan, Rabu (2/9/2026).
Pertemuan yang berlangsung beberapa menit tersebut berfokus pada pembahasan penguatan hubungan bilateral kedua negara, sebagaimana dilaporkan oleh media semi-resmi Iran, Mehr News Agency.
Meski demikian, momen pertemuan Xi Jinping dan Pezeshkian tidak mendapat sorotan besar dari media nasional Tiongkok.
Pemerintah Tiongkok memilih membatasi publikasi dan tidak menampilkan agenda tersebut di halaman utama media-media nasionalnya.
Sejumlah analis menilai langkah pembatasan publikasi ini merupakan bagian dari strategi diplomasi Beijing untuk menjaga jarak dari Teheran.
Manuver tersebut dikaitkan dengan rencana kunjungan Xi Jinping ke Washington untuk melangsungkan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, guna menjaga iklim hubungan kedua negara di tengah dinamika global yang kompleks.
Di sisi lain, Tiongkok tetap memiliki kepentingan strategis yang kuat terhadap Iran, khususnya dalam mengamankan pasokan energi nasional mengingat Beijing merupakan pembeli minyak terbesar dari Iran.
Namun, akibat eskalasi konflik di kawasan, volume impor minyak melalui Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan.
Kondisi ini membuat Beijing berkepentingan mendesak penghentian ketegangan militer demi dibukanya kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Pada saat yang sama, KTT SCO secara resmi mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan militer terhadap Iran serta mendukung hak negara tersebut dalam mengembangkan program nuklir sipil.
Tiongkok menilai pemeliharaan saluran komunikasi diplomatik dengan Iran sangat krusial untuk menjaga pengaruhnya di kawasan Timur Tengah.
Dinamika ini berlangsung di tengah ancaman sanksi sekunder dari Amerika Serikat terhadap entitas yang berhubungan bisnis dengan Iran.
Baca juga: Konflik Makin Panas: Pejabat Iran Ancam Batasi Pelayaran di Teluk Jika Tekanan Ekonomi AS Berlanjut
Hal tersebut memaksa Beijing menyeimbangkan berbagai kepentingan nasionalnya secara bersamaan, mulai dari mengamankan pasokan energi, mempertahankan pengaruh di kelompok negara Global South, hingga mencegah memburuknya perselisihan dagang dengan Amerika Serikat.