Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM - Di tengah persiapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika menyambut MotoGP 2026 yang digelar 9-11 Oktober, satu nama kerap disebut: Sirajuddin.
Ia merupakan sosok di balik lahirnya dua festival berskala internasional di Nusa Tenggara Barat, yakni Samota International Festival di Pulau Sumbawa dan Mandalika International Festival (MIF) di Pulau Lombok, yang tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima.
Nama Sirajuddin bukan pendatang baru dalam industri pariwisata dan manajemen acara nasional.
Latar belakangnya cukup kuat secara akademis, tercermin dari perannya sebagai Direktur Akademi Pariwisata Universitas Muhammadiyah Jember dalam dua periode kepemimpinan, yaitu 2000-2004 dan 2004-2008.
• MGPA dan MIF Siapkan Kejutan Kolaboratif di Lintasan Sirkuit Mandalika 2026
Fondasi keilmuan tersebut kemudian menjadi bekal utamanya dalam merancang berbagai strategi pengembangan destinasi wisata lewat pendekatan festival budaya.
Melalui program pembinaan Kementerian Pariwisata periode 2022-2023, ia tercatat berperan sebagai instruktur pembinaan event daerah di lima provinsi, meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Banten, Yogyakarta, dan Maluku Utara.
Ia turut aktif dalam manajemen Jember Fashion Carnaval (JFC) hingga saat ini, sebuah rekam jejak yang semakin memperkuat kapasitasnya dalam mengelola perhelatan berskala internasional.
Salah satu capaian Sirajuddin di NTB adalah keberhasilannya menginisiasi dua festival ikonik yang kini menjadi bagian penting dari identitas pariwisata daerah.
MIF sendiri telah berkembang menjadi instrumen strategis untuk menggerakkan sektor pariwisata, tidak hanya bagi NTB dan Mandalika, tetapi juga bagi citra Indonesia di kancah global.
Ditemui TribunLombok.com, Selasa (8/9/2026), Sirajuddin memaparkan arah besar MIF edisi kelima tahun ini.
Ia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga eksistensi pariwisata NTB, Mandalika, dan Indonesia melalui kolaborasi lintas sektor yang konkret.
Menurutnya, keberlanjutan festival ini sangat bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan di daerah.
Komitmen Pemerintah Provinsi NTB terhadap MIF terlihat nyata lewat penetapan kantor Dinas Pariwisata NTB sebagai sekretariat resmi festival, yang disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi, Nur Aulia, bersama tokoh pariwisata lain seperti Ketua ASITA NTB.
Sirajuddin bahkan menyebut Gubernur NTB sempat menyatakan kesediaan menjadi pembina langsung festival ini dalam audiensi tahun 2025.
Menjelang MotoGP 2026, sinergi dengan pengelola kawasan turut diperkuat.
Pihak MGPA dan ITDC disebut telah memberikan komitmen tinggi menjadikan MIF sebagai pendukung utama berbagai kegiatan di kawasan tersebut, termasuk Mandalika Festival of Speed serta gelaran GTWA pada 2025 dan 2026.
Langkah ini, menurut Sirajuddin, diharapkan mampu memperpanjang durasi tinggal wisatawan di Mandalika.
Di tingkat daerah, manfaat MIF turut dirasakan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.
Mantan Kepala Dinas Pariwisata Loteng, Lalu Sungkul, menilai festival ini sebagai wadah paling efektif untuk memperkenalkan talenta lokal kepada wisatawan mancanegara, sekaligus menjadi daya tarik bagi peserta dan pengunjung dari berbagai daerah maupun luar negeri.
Sirajuddin menegaskan bahwa MIF setiap tahunnya memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi NTB dan Lombok Tengah dengan keunggulan atraksi budaya dalam rangkaian sport tourism.
(*)