Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Rutan Kelas IIB Boyolali Jawa Tengah mengembangkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan.
Program ini memanfaatkan sampah organik dari dapur rutan sekaligus menghasilkan pakan alternatif untuk ternak dan ikan.
Warga binaan terlibat langsung dalam proses budidaya, mulai dari memilah sampah organik, merawat maggot, hingga mempelajari siklus pembibitan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian di bidang pertanian dan ketahanan pangan.
Keterampilan yang warga binaan dapatkan juga mereka harapkan dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Staf Ketahanan Pangan Rutan Kelas IIB Boyolali, Muhammad Afandi, mengatakan budidaya maggot tersebut berawal dari percobaan sederhana.
Pihak rutan saat itu membeli sekitar 5 gram telur maggot secara daring.
Namun, percobaan pertama gagal karena seluruh telur yang mereka budidayakan mati.
Kegagalan tersebut kemudian menjadi bagian dari proses belajar petugas dan warga binaan yang terlibat dalam program.
"Awalnya kami coba budidaya pertama mati semua. Kami coba lagi dan akhirnya berhasil menetas. Dari sekitar 5 gram yang dijadikan lalat pembibitan, alhamdulillah hasilnya kini sudah berkembang pesat," ujar Fandi, Senin (7/9/2026).
Setelah melalui proses belajar dan beberapa kali percobaan, budidaya maggot di Rutan Kelas IIB Boyolali kini berkembang hingga mencapai sekitar 50 kilogram.
Warga binaan juga belajar memanfaatkan limbah dapur sebagai sumber pakan maggot.
Sisa makanan dari dapur rutan terlebih dahulu mereka pilah dari sampah plastik sebelum mengolahnya menjadi pakan.
"Tujuan utama kami memang mengolah limbah. Di sini kan banyak warga binaan, otomatis ada sisa makanan. Jika sampah tidak dipilah dan menyatu dengan plastik, akan menimbulkan bau tak sedap. Karena itu, sampah organik dipisahkan lalu kita alihkan untuk pakan maggot ini," lanjutnya.
Menurut Fandi, budidaya maggot juga mengajarkan warga binaan mengenai proses produksi yang relatif singkat.
Telur maggot dapat menetas dalam waktu satu hingga dua hari.
Maggot kemudian siap dipanen ketika berusia sekitar 12 hari.
Sebagian hasil panen rutan gunakan sebagai pakan alternatif untuk ayam, mentok, hingga ikan lele yang mereka kelola di lingkungan rutan.
Sementara itu, sebagian maggot lainnya dibiarkan berkembang menjadi lalat BSF dewasa untuk menghasilkan telur baru.
Sistem tersebut membuat warga binaan mempelajari proses budidaya secara berkelanjutan.
Rutan pun tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pembelian bibit dari luar.
Saat ini, produksi maggot di Rutan Kelas IIB Boyolali mencapai sekitar 3 hingga 5 kilogram per hari.
Selain memenuhi kebutuhan peternakan di dalam rutan, pihak rutan mulai mempromosikan hasil budidaya tersebut ke pasar luar dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram.
Baca juga: Bukan Sekadar Jual Maggot, Hartanto Ubah Sampah Organik TPA Winong Boyolali Jadi Mesin Pencetak Cuan
Program pembinaan ini melibatkan warga binaan yang telah berstatus asimilasi dan bertugas sebagai tahanan pendamping di bidang pertanian.
Salah seorang warga binaan, Suyono (49), mengaku sebelumnya tidak memiliki pengetahuan mengenai budidaya maggot.
Selama mengikuti pembinaan, ia belajar secara bertahap, termasuk menghadapi kegagalan pada tahap awal budidaya.
"Awalnya belum tahu sama sekali karena belum pernah budidaya maggot, jadi harus bertahap.
Pertama gagal, lalu belajar lagi, dan akhirnya berhasil," tutur Suyono.
Warga binaan yang telah menjalani masa pembinaan selama 3 tahun 4 bulan tersebut mengatakan keterampilan budidaya maggot membuka pandangannya mengenai peluang usaha setelah bebas nanti.
Ia optimistis ilmu yang ia dapatkan dapat menjadi salah satu bekal untuk mandiri secara ekonomi setelah kembali ke masyarakat.
Baca juga: Warga Boyolali Ini Dapat Cuan Melimpah dari Sampah Organik, Sehari Rp1,2 Juta via Jualan Maggot
Kepala Rutan Kelas IIB Boyolali, Ervans Bahrudhin Mulyanto, mengatakan budidaya maggot menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang terintegrasi dengan program pertanian dan perikanan di rutan.
Pihak rutan menerapkan konsep ekonomi sirkular. Limbah dapur mereka manfaatkan sebagai pakan maggot, kemudian maggot mereka gunakan sebagai pakan ikan.
"Maggot ini diproduksi sebagai pakan alternatif untuk sektor perikanan kami. Beberapa bulan lalu, kami sudah panen ikan lele. Hasil panen lele tersebut dibeli langsung oleh vendor penyedia bahan makanan rutan," jelas Ervans.
Kegiatan tersebut memberikan keterampilan sekaligus nilai ekonomi bagi warga binaan.
Menurut Ervans, sebagian hasil penjualan ikan lele mereka salurkan kembali kepada warga binaan dalam bentuk premi atau upah kerja.
Rutan bahkan membagikan premi tersebut menjelang tahun ajaran baru sekolah 2026.
Warga binaan memanfaatkannya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Ervans berharap pola pembinaan tersebut dapat memberikan bekal nyata kepada warga binaan sebelum mereka kembali ke masyarakat.
"Kami berharap ketika bebas nanti, bekal ilmu dan keterampilan yang didapatkan di sini bisa menjadikan mereka pionir di tengah masyarakat. Masyarakat justru bisa belajar dari para warga binaan yang sudah memiliki skill dan ilmu berdaya guna ini," tuturnya.
(*)