Skakmat Eks BMKG ke Ahli KSP: Teori Konspirasi HAARP Picu Erupsi 6 Gunung Api Tak Masuk Akal!
Budi Sam Law Malau September 08, 2026 05:34 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -– Di tengah bayang-bayang pekat abu vulkanik dari enam gunung api di Indonesia yang meletus dalam waktu berdekatan, sebuah narasi liar mencuat dari lingkaran Istana.

Namun, sains tidak tinggal diam.

Mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, angkat bicara dan mematahkan telak spekulasi yang menyebut rentetan erupsi serentak tersebut adalah hasil dari rekayasa teknologi atau senjata mematikan.

Sengatan Konspirasi dari Lingkaran Istana

Polemik ini bermula dari pernyataan kontroversial Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan.

Melalui akun Instagram pribadinya, Ulta memantik spekulasi publik dengan mengaitkan letusan beruntun enam gunung api di Nusantara dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP)—sebuah fasilitas penelitian ionosfer di Alaska, Amerika Serikat yang kerap menjadi subjek teori konspirasi global.

Lebih jauh, Ulta mencoba merangkai fenomena alam raksasa ini dengan panggung geopolitik dunia.

Ia secara terbuka mempertanyakan kemungkinan adanya kaitan antara erupsi vulkanik tersebut dengan momen diplomatik tingkat tinggi di Rusia.

"Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?" tulis Ulta, Senin (7/9/2026).

Ia berdalih bahwa sebagai sosok yang skeptis, dirinya merasa perlu mengeksplorasi pemikiran tersebut terlepas dari ketiadaan bukti ilmiah.

Pukulan Telak Sains: Alam Tidak Bisa Direkayasa Manusia

Menjawab narasi yang telanjur viral tersebut, Daryono memberikan tamparan realitas berbasis ilmu kebumian yang tajam dan lugas.

Bagi sang pegiat mitigasi bencana, mengaitkan aktivitas vulkanik dengan "tombol rahasia" teknologi militer bukan hanya keliru, tetapi juga mengabaikan hukum fisika dan geologi dasar.

"Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian," tegas Daryono di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Daryono membedah mekanikanya secara deskriptif.

Energi yang memuntahkan jutaan kubik lava dan abu murni berasal dari dinamika mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer—sebuah wilayah yang tak tersentuh tangan manusia.

Di sanalah letak 'dapur magma' sesungguhnya, tempat tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida bertumpuk hingga mendidih.

Magma yang memiliki densitas lebih ringan dari batuan sekitarnya, perlahan naik dan merobek kerak bumi.

"Erupsi merupakan pelepasan energi endogenik bumi berskala sangat masif yang mustahil disimulasi, dibangkitkan, atau dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun," jelasnya.

Mengingat Kembali Realitas 'Ring of Fire'

Sebagai negara yang duduk tepat di atas bentangan Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), letusan gunung api sejatinya adalah denyut nadi geologis Indonesia.

Pertemuan sejumlah lempeng tektonik yang terus bergesekan selama jutaan tahun memastikan dapur magma nusantara tak pernah padam.

Daryono menggarisbawahi bahwa erupsi berdekatan adalah respons berantai tektonik alamiah.

Aktivitas vulkanik ini terjadi karena sistem magma gunung-gunung tersebut memang sudah berada dalam fase kritis, bukan akibat intervensi lokal atau senjata pengubah cuaca.

Setiap pergerakan magma bahkan selalu meninggalkan jejak yang direkam jelas oleh sensor GPS, tiltmeter, hingga instrumen geofisika.

Semuanya terukur.

"Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak," kata Daryono.

Daryono juga menekankan bahwa erupsi bukan peristiwa yang tiba-tiba muncul tanpa tanda.

Perkembangan aktivitas magma dapat dipantau melalui berbagai instrumen dan parameter geofisika.

Aktivitas kegempaan menjadi salah satu indikator penting.

Selain itu, perubahan bentuk tubuh gunung api dapat dipantau menggunakan GPS dan tiltmeter.

Perubahan kandungan gas serta suhu juga menjadi parameter yang digunakan untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik.

Berbagai data tersebut memungkinkan para ahli melihat perubahan kondisi sistem gunung api dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, ketika aktivitas vulkanik meningkat, terdapat jejak yang dapat direkam instrumen sebelum, selama, maupun setelah erupsi.

Baca juga: Anak Krakatau Erupsi, Merak-Bakauheni Masih Beroperasi, Penumpang Diminta Waspada

HAARP dan Pertemuan Prabowo-Putin

Sebelumnya, Ulta Levenia Nababan menjadi sorotan setelah mempertanyakan fenomena erupsi enam gunung api Indonesia yang terjadi dalam periode berdekatan.

Melalui akun Instagram pribadinya, Ulta mengatakan dirinya merupakan pribadi yang skeptis dan tidak ingin begitu saja menerima penjelasan yang dianggap umum.

Ia mengakui pemikirannya dapat dianggap sebagai teori konspirasi.

"Walau gak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran," tulis Ulta dalam unggahannya.

Ulta kemudian menjelaskan bahwa HAARP kerap dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi.

Menurut dia, proyek tersebut pernah mendapat pendanaan dari sejumlah lembaga Amerika Serikat, termasuk US Air Force, US Navy, dan DARPA.

Ia menyebut HAARP dalam sejumlah spekulasi publik dikaitkan dengan kemampuan mengendalikan cuaca, menciptakan badai hingga memicu gempa bumi.

Namun, Ulta sendiri mengakui tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

"HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Walau tidak ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi," tulisnya, Senin (7/9/2026).

Ulta juga mengaitkan waktu erupsi dengan pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.

"Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?" tulis Ulta.

Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan di tengah masyarakat.

Di tengah derasnya spekulasi, penjelasan Daryono mengingatkan bahwa kebetulan waktu tidak sama dengan hubungan sebab-akibat.

Dalam ilmu kebumian, dugaan mengenai penyebab erupsi harus ditopang data geologi, geofisika, geokimia, serta bukti pengamatan yang dapat diuji.

Untuk saat ini, Daryono menegaskan bahwa mekanisme erupsi gunung api telah memiliki penjelasan ilmiah yang kuat dan berakar pada dinamika internal bumi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.