Laporan Wartawan TribunGayo.com Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh mencatat bahwa penularan kasus HIV/AIDS di wilayah dataran tinggi Gayo ini masih didominasi oleh perilaku seksual berisiko.
Berdasarkan catatan, aktivitas hubungan sesama jenis atau Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) serta praktik seks komersial menjadi penyumbang terbesar penularan kasus baru.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tengah, Mitahuddin SKM MAP memaparkan bahwa tren penularan ini menuntut adanya intervensi pencegahan yang lebih spesifik dan menyentuh akar persoalan sosial di masyarakat.
"Mayoritas faktor penularan didominasi oleh perilaku seks berisiko, yang meliputi seks komersial, hubungan LSL, penularan dari suami ke istri, hingga penyalahgunaan narkotika suntik," ungkap Mitahuddin.
Berdasarkan data demografi, kaum pria mendominasi angka penularan dengan persentase 77,42 persen atau setara 72 kasus.
Penyebab utama penularan pada kelompok pria ini didominasi oleh biseksual sebanyak 32 kasus dan LSL sebanyak 24 kasus, di mana jika digabungkan mencakup 77,7 persen dari total kasus pada pria.
Sisanya tersebar pada faktor pasangan risiko tinggi sebanyak enam kasus, seks bebas empat kasus, dan pengguna narkotika suntik (penasun) dua kasus.
Sebaliknya, pada kelompok wanita yang mencakup 22,58 persen atau 21 kasus, pola penularan menunjukkan karakteristik yang berbeda.
Penularan pada wanita didominasi oleh faktor pasangan risiko tinggi yakni ibu rumah tangga yang tertular oleh suami sebanyak 17 kasus atau mencakup 80,9 persen dari total kasus wanita.
Secara keseluruhan, mayoritas kasus tersebut terjadi pada kelompok usia produktif antara 20 hingga 40 tahun, dengan catatan mencapai 76 kasus dari total keseluruhan.
Berdasarkan keterkaitan profesi dengan status kesehatan, mayoritas mahasiswa menjadi pengidap terbanyak dimana 22,58 persen yang ditemukan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (2024-2026) berstatus mahasiwa.
Untuk membendung laju penularan pada kelompok rentan dan masyarakat umum, Pemkab Aceh Tengah menggalakkan strategi pencegahan komprehensif melalui kampanye dengan slogan "ABCD".
“ABCD singkatan dari, Abstinence (tidak gonta-ganti pasangan), Be faithful (setia pada pasangan), Care (cegah dengan alat pelindung), Don’t Use Drugs (jangan gunakan narkoba suntik),” ujarnya.
Selain pendekatan promotif tersebut, Dinas Kesehatan juga memfokuskan Standar Pelayanan Minimal (SPM) pemeriksaan pada delapan kelompok prioritas yang meliputi ibu hamil, pasien TBC, LSL, waria, pengguna narkotika suntik, warga binaan, hingga calon pengantin.
Kendati demikian, upaya penanggulangan ini masih menghadapi tantangan berat di lapangan.
Mulai dari keterbatasan anggaran daerah yang saat ini hanya mencakup kegiatan monitoring dan edukasi pemantauan obat, hingga hambatan sosial berupa stigma masyarakat terhadap kelompok rentan.
Dinkes berharap adanya keterlibatan aktif dari lintas sektor, termasuk tokoh agama, serta penguatan peran Komisi Penanganan AIDS (KPA) guna mempersempit ruang gerak penularan di akar rumput. (*)
Baca juga: Sebanyak 89 Kasus HIV/AIDS Ditemukan di Aceh Tengah 2018 hingga Agustus 2026
Baca juga: 31 Pasien HIV/AIDS Meninggal karena Terlambat Berobat, Ini Upaya Dilakukan Dinkes Aceh Tengah
Baca juga: Kasus HIV/AIDS di Aceh Tengah Tembus 49 Kasus, 10 Pasien Baru