Kabut Asap Mengancam Anak-anak Riau, 3.781 Balita dan Anak Usia Sekolah Terserang ISPA
Firmauli Sihaloho September 08, 2026 06:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengkhawatirkan kesehatan anak-anak di Riau. 

Sepanjang Agustus hingga awal September 2026, tercatat sebanyak 3.781 balita dan anak usia sekolah terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Angka tersebut berasal dari dua kelompok usia. Sebanyak 1.937 kasus ditemukan pada balita usia 0 hingga 5 tahun, sedangkan 1.844 kasus lainnya terjadi pada anak usia 5 hingga 9 tahun.

Jika dibandingkan dengan total 10.783 kasus ISPA yang tercatat di Riau pada periode yang sama, anak usia 0 hingga 9 tahun menyumbang sekitar 35 persen dari keseluruhan kasus.

Data Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau menunjukkan, dari 1.937 balita yang terserang ISPA, sebanyak 1.162 merupakan laki-laki dan 775 perempuan.

Sementara pada kelompok usia 5 hingga 9 tahun, terdapat 989 anak laki-laki dan 855 anak perempuan yang mengalami ISPA.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan peningkatan kasus ISPA tersebut diduga berkaitan dengan kabut asap akibat karhutla yang melanda sejumlah wilayah di Riau.

“Kalau dihitung dari Agustus sampai awal September, total kasus ISPA yang tercatat di Riau sudah mencapai 10.783 kasus,” kata Zulkifli, Selasa (8/9/2026).

Dari keseluruhan pasien tersebut, sebanyak 5.321 merupakan laki-laki dan 5.462 perempuan.

Besarnya jumlah kasus pada kelompok anak menjadi perhatian karena anak-anak, terutama balita, termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak buruk kualitas udara.

Pengurangan aktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dan pemeriksaan lebih awal ketika muncul keluhan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Meski jumlah penderita meningkat, Dinas Kesehatan menyatakan fasilitas pelayanan kesehatan di daerah masih mampu menangani pasien yang datang untuk mendapatkan pengobatan.

Namun, sejumlah langkah antisipasi mulai diperkuat untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya pasien jika kabut asap dan kualitas udara buruk terus berlangsung.

Puskesmas di daerah telah diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Pemerintah juga menyiapkan oksigen konsentrator dan mengaktifkan Tim Medis Darurat atau Emergency Medical Team (EMT) di setiap Puskesmas.

“Puskesmas sudah kita minta bersiap. Oksigen konsentrator juga disiagakan dan tim medis darurat diaktifkan supaya kalau sewaktu-waktu pasien bertambah, penanganannya bisa langsung dilakukan,” ujar Zulkifli.

Selain kesiapan fasilitas kesehatan, pemerintah melakukan pembagian masker kepada masyarakat. Makanan tambahan juga disalurkan kepada ibu hamil dan balita yang masuk kelompok rentan terhadap dampak kabut asap.

Di tingkat provinsi, Dinas Kesehatan Riau menyiapkan posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis. Fasilitas tersebut disiapkan untuk membantu penanganan apabila terdapat masyarakat yang membutuhkan pertolongan akibat paparan asap.

Pembagian masker juga melibatkan berbagai pihak, termasuk kalangan perguruan tinggi dan organisasi profesi kesehatan. Masker terutama diberikan kepada masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan.

Zulkifli mengingatkan masyarakat tidak menganggap ringan keluhan kesehatan yang muncul selama kabut asap. Jika mengalami gejala gangguan pernapasan, masyarakat disarankan segera mendatangi Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.

“Kalau mulai mengalami keluhan, sebaiknya jangan menunggu sampai parah. Segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Terutama untuk anak-anak, ibu hamil, lansia dan mereka yang punya penyakit penyerta karena kelompok ini lebih rentan terkena dampak polusi udara,” katanya.

Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker yang mampu membantu menyaring polusi udara.

Dinas Kesehatan turut meminta seluruh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di kabupaten/kota meningkatkan pemantauan terhadap penyakit yang diduga berkaitan dengan paparan kabut asap.

Tidak hanya ISPA, sejumlah gangguan kesehatan lain juga menjadi perhatian, mulai dari iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit hingga asma.

“Tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan sudah kita minta terus memantau. Kalau ditemukan kasus akibat asap seperti ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata atau kulit, segera dilaporkan ke Dinas Kesehatan kabupaten dan kota,” ujar Zulkifli. (Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.