TRIBUNNEWS.COM - Plt Kapusdatinkom Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Panjaitan, mengungkapkan pihaknya sudah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca untuk mengurangi dampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Adapun, dampak utama dari sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau ini mencakup gangguan kesehatan serius, terganggunya aktivitas transportasi udara, hingga penyesuaian sistem kegiatan belajar mengajar di berbagai wilayah Pulau Jawa dan Sumatra.
Oleh karena itu, sebagai upaya untuk mengurangi dampak abu vulkanik ini, BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca.
Hari ini, Selasa (8/9/2026), BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca melalui metode Cloud Seeding.
Dalam Metode Cloud Seeding, air dicampur dengan Kalsium Klorida (CaCL2) kemudian disemprotkan dan ditujukan pada awan yang berpotensi terjadi hujan di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
"Tentu ini dibantu oleh sebuah pesawat untuk menyebarkan 650 liter air bersama 350 CaCl2," ucap Berton dalam konferensi pers, Selasa.
Pesawat Operasi Modifikasi Cuaca memakai Cessna Caravan C208//PK-SNH (1 Sortie) yang terbang dari Lanud Ahmad Yani, Semarang.
Selain metode Cloud Seeding, BNPB melakukan Operasi Modifikasi Cuaca dengan metode Water Mist, yakni menyemprotkan air yang dicampur dengan Surfaktan, ditujukan pada later polutan.
"Bertujuan agar layer polutan tersebut terperangkap dengan air yang disemprotkan. Hari ini dari Pondok Cabe sudah digunakan, dengan semaian bahan yang digunakan 2.000 liter air ditambah dengan Surfaktan," jelas Berton.
Pesawat yang digunakan adalah Cessna Caravan C208//PK-SNH (2 Sortie) yang terbang dari Pondok Cabe, Jakarta.
Berton menambahkan, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca dengan penyemaian Natrium Klorida (NaCl) atau garam.
Baca juga: Abu Vulkanik Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau Bisa Rusak Kendaraan, Ini Saran Praktisi Otomotif
"Dari Pondok Cabe dilakukan dengan 1 sortie (Pesawat Cessna Caravan C208//PK-SNH) untuk mengharapkan terjadinya di beberapa lokasi di wilayah penyemaian. Garam yang semaikan itu sebanyak 1.000 kg," paparnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga kini masih memantau pergerakan abu vulkanik secara berkala.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan material abu vulkanik pada Selasa (8/9/2026) pukul 09.00 WIB secara umum berada hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer.
Abu bergerak ke arah selatan-barat daya. Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Banten bagian barat laut dan Samudra Hindia barat laut Banten.
Kecepatan pergerakan abu berada pada kisaran 5–10 knot atau sekitar 9,3–18,5 kilometer per jam.
“Pantauan cuaca di sekitar GAK (Gunung Anak Krakatau) dan perairan Selat Sunda cenderung cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari,” ujar Andri.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan BMKG terhadap dinamika atmosfer di sekitar Gunung Anak Krakatau dan wilayah yang terdampak sebaran material vulkanik.
Kini, delapan bandar udara yang sebelumnya ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK), pun kembali beroperasi.
BMKG memastikan hasil pengujian paper test menunjukkan hasil negatif dari paparan abu vulkanik pada Selasa (8/9/2026).
Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi ruang udara dan area landasan sebelum operasional penerbangan kembali dibuka.
“Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan bandara yang sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan berjalan aman,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam siaran pers, Selasa.
Di tengah pembukaan kembali bandara, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
Mengacu pada informasi terbaru PVMBG pada pukul 07.49 WIB, teramati erupsi baru dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 19 detik.
Erupsi tersebut masuk dalam kategori erupsi strombolian atau erupsi kecil.
Selain memantau erupsi, BMKG juga memantau aktivitas gunung api melalui sensor magnet bumi dan lightning detector.
Pemantauan tersebut mencatat adanya gangguan geomagnetik kecil dan sambaran petir vulkanik yang terjadi mulai pukul 21.00 hingga pukul 23.00 WIB.
Namun, aktivitas tersebut menunjukkan penurunan intensitas dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Artinya, meski aktivitas erupsi kecil masih terpantau, BMKG tetap melakukan pemantauan terhadap perubahan aktivitas GAK dan dampaknya terhadap kondisi atmosfer.
(Tribunnews.com/Rifqah, Aisyah Nursyamsi)