TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN - Greenhouse melon Pamenang Farm di Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Klaten, menghasilkan sekira 2 ton pada panen perdana, sehingga BUMDes Joho Berdikari berencana memperluas budidaya secara bertahap.
Greenhouse seluas sekitar 500 meter persegi itu menjadi proyek awal pemanfaatan program ketahanan pangan Desa Joho. Produksi melon dipasarkan melalui wisata petik buah dan mitra swasta.
Kepala Desa Joho Yulis Tanto, mengatakan hasil panen perdana tersebut menjadi modal penting untuk melihat prospek pengembangan usaha. Menurut dia, pemasaran langsung kepada wisatawan memiliki peluang keuntungan lebih besar.
"Kita 2 ton dapat. Jadi, kalau kita wisata petik buah lebih menguntungkan karena per kilonya kita dihitung Rp 35 ribu, harga umum di pasaran. Karena untuk melon premium ini kelasnya melon berbeda," jelas Yulis.
Rencana pengembangan tidak berhenti pada greenhouse pertama. Pemdes Joho menyiapkan perluasan bangunan secara bertahap di lahan kas desa yang memiliki luasan keseluruhan sekitar satu hektare.
"Nanti sudah mau dibangun sebelah-sebelahnya. Greenhouse lagi," kata Yulis.
Ia menargetkan pengembangan dilakukan secara bertahap dengan menambah greenhouse baru di sekitar lokasi yang sudah ada.
"Ini kan luas lahan 1 hektar. kita tambah 1 lagi," ungkapnya.
Pemilihan komoditas melon juga berkaitan dengan siklus produksi yang relatif cepat. Dalam sekitar 65-70 hari, tanaman dapat dipanen sehingga perputaran usaha dinilai lebih cepat.
Baca juga: Melon Rp 35 Ribu per Kg, Begini Sensasi Petik Buah Sendiri di Greenhouse Pamenang Farm Klaten
Dengan model tersebut, greenhouse tidak hanya diarahkan menjadi tempat produksi pangan, tetapi juga menjadi unit usaha desa yang menggabungkan produksi, pemasaran langsung, dan wisata edukasi.
Melon yang ditanam terdiri atas sekitar 1.000 tanaman dengan dua varietas, yakni Sweet Lavender dan Golden Aroma. Pengelola sengaja menyediakan dua jenis tersebut untuk mengetahui varietas yang paling diminati konsumen.
Direktur BUMDes Joho Berdikari M. Adi Purnomo, mengatakan jika perbedaan utama kedua varietas tersebut terletak pada tekstur buah. Sweet Lavender memiliki tekstur renyah, sedangkan Golden Aroma lebih lembut.
Kedua varietas tetap memiliki tingkat kemanisan yang hampir sama. Karena itu, pengelola masih akan melihat respons masyarakat sebelum menentukan komposisi tanaman pada periode berikutnya.
"Kita ada dua jenis nanti kita sambil melihat masyarakat yang lebih diminati yang mana karena bisa milih. Besok Insyaallah kalau bisa nambah ya Insyaallah tahun depan (ditambah). Kalau Ketapang (ketahanan pangan) turun lagi Insyaallah kita nambah lagi," ujarnya. (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)