Tak Perlu FOMO Rusak Sawah! Embung Jonggo Cawas di Klaten Punya Panorama Sunset yang Bikin Betah
Candra Isriadhi September 08, 2026 07:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kawasan pedesaan di Kabupaten Klaten kembali menawarkan panorama alam yang menarik perhatian.

Kali ini, Embung Jonggo di Desa Karangasem, Kecamatan Cawas, menjadi salah satu lokasi yang bisa dipilih masyarakat untuk menikmati suasana pedesaan dengan cara yang lebih aman dan bertanggung jawab.

Kemunculan Embung Jonggo sebagai alternatif wisata tidak lepas dari fenomena viral "sabana dadakan" di Gantiwarno yang sempat ramai diperbincangkan publik Klaten.

WISATA KLATEN - Pesona Embung Jonggo Cawas, Klaten.
WISATA KLATEN - Pesona Embung Jonggo Cawas, Klaten. (Instagram/@dolansemenit)

Lokasi yang awalnya hanya dikenal melalui unggahan seorang selebgram lokal tersebut mendadak dipadati wisatawan. 

Banyak orang datang karena merasa takut ketinggalan atau ikut-ikutan tren yang sedang ramai di media sosial, fenomena yang kerap disebut Fear of Missing Out (FOMO).

Namun, tingginya antusiasme pengunjung justru menimbulkan persoalan.

Baca juga: Semakin Dipojokkan, Denny Sumargo Pikirkan Bakal Mundur Sebagai Host Podcast, Siap Cari Pengganti

Area persawahan milik warga dilaporkan rusak setelah sejumlah pengunjung masuk dan menginjak tanaman padi demi mendapatkan foto maupun video.

Kondisi tersebut memicu protes dari masyarakat setempat.

Pasalnya, sawah bukan sekadar tempat untuk menghasilkan pemandangan yang menarik bagi wisatawan, tetapi juga merupakan sumber penghidupan para petani.

Dari persoalan itulah muncul ajakan untuk menikmati wisata alam dengan cara yang lebih bijak. Salah satu lokasi yang kemudian mendapat perhatian adalah Embung Jonggo di Cawas.

Sindiran untuk Pemburu Konten

WISATA KLATEN - Pesona Embung Jonggo Cawas, Klaten.
WISATA KLATEN - Pesona Embung Jonggo Cawas, Klaten. (Instagram/@dolansemenit)

Pesan tersebut disampaikan dengan cara yang cukup menggelitik.

Dalam unggahan mengenai Embung Jonggo, terdapat kalimat yang berbunyi:

"Daripada FOMO ngerusak sawah e uwong, mending rene."

Kalimat berbahasa Jawa tersebut kurang lebih bermakna, daripada ikut-ikutan tren sampai merusak sawah milik orang lain, lebih baik datang ke tempat ini.

Pesan sederhana itu menjadi sindiran sekaligus ajakan kepada masyarakat yang gemar berburu foto dan video di alam terbuka.

Pengunjung tetap bisa mencari suasana Instagramable, menikmati udara sore, maupun mengabadikan momen matahari terbenam tanpa harus memasuki area persawahan dan mengganggu aktivitas petani.

Bisa Menikmati Pemandangan Tanpa Menginjak Sawah

Salah satu kelebihan Embung Jonggo adalah pengunjung dapat menikmati lanskap pedesaan dari area yang memang bisa digunakan untuk beraktivitas.

Pinggiran atau fondasi beton embung dapat menjadi tempat untuk duduk santai sambil menikmati pemandangan.

Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat melihat hamparan sawah yang membentang luas dengan latar perbukitan atau pegunungan di kejauhan.

Jalan semen di sekitar embung juga membuat kawasan tersebut lebih mudah digunakan untuk aktivitas ringan.

Warga maupun pengunjung bisa berjalan kaki, bersepeda, atau sekadar menikmati suasana sore tanpa harus masuk ke lahan pertanian.

Hal tersebut menjadi pembeda penting dibandingkan lokasi wisata dadakan yang viral tetapi belum memiliki kesiapan untuk menampung banyak pengunjung.

Pesona Embung Jonggo Saat Sore Hari

WISATA KLATEN - Pesona Embung Jonggo Cawas, Klaten. (Instagram/@dolansemenit)

Embung Jonggo sendiri pada dasarnya memiliki fungsi utama sebagai penampung air yang mendukung kebutuhan pengairan di wilayah sekitar.

Meski demikian, keberadaan embung justru menciptakan lanskap yang menarik.

Permukaan air yang relatif tenang dapat memantulkan langit dan awan, sehingga menghasilkan pemandangan yang semakin cantik ketika cuaca cerah.

Daya tarik lainnya adalah suasana menjelang malam.

Saat matahari mulai turun di ufuk barat, cahaya keemasan perlahan menyinari hamparan persawahan.

Pantulan warna langit di permukaan air embung membuat suasana semakin syahdu.

Momen tersebut menjadi salah satu waktu yang banyak dicari oleh para penikmat fotografi maupun masyarakat yang sekadar ingin menghabiskan waktu sore.

Keindahan tersebut dapat dinikmati tanpa perlu menginjak tanaman padi atau memasuki lahan milik petani.

Belajar Menjadi Wisatawan yang Bertanggung Jawab

Hadirnya Embung Jonggo sebagai alternatif lokasi bersantai membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar menawarkan pemandangan.

Fenomena "sabana dadakan" Gantiwarno menjadi pengingat bahwa popularitas sebuah tempat wisata bisa membawa dampak besar terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Ketika sebuah lokasi mendadak viral, jumlah pengunjung dapat meningkat dalam waktu singkat.

Tanpa kesadaran dan pengaturan yang baik, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan hingga mengganggu kehidupan warga.

Karena itu, wisatawan perlu memahami batas antara menikmati keindahan alam dan mengambil hak orang lain.

Di Embung Jonggo, masyarakat tetap dapat menikmati panorama sawah, pegunungan, udara pedesaan, hingga sunset dengan tetap menghormati lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, berwisata tidak selalu tentang mendapatkan foto paling viral.

Lebih penting lagi, bagaimana sebuah kunjungan tidak meninggalkan kerusakan atau merugikan masyarakat setempat.

Embung Jonggo Cawas pun menjadi contoh bahwa wisata alam yang indah bisa dinikmati tanpa harus merusak sawah, tanaman, maupun ruang hidup warga.

(Tribunnewsmaker.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.