TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN - Dana ketahanan pangan Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, tahun 2026 dimanfaatkan untuk membangun greenhouse melon seluas sekitar 500 meter persegi yang kini dikembangkan sebagai wisata petik buah.
Greenhouse tersebut menjadi unit usaha pertanian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Joho Berdikari. Selain mendukung program ketahanan pangan, pengelolaannya diarahkan untuk membuka sumber pendapatan baru bagi desa.
Kepala Desa Joho Yulis Tanto, mengatakan pembangunan greenhouse dibiayai anggaran ketahanan pangan 2026 sebesar Rp 80 juta. Dana tersebut khusus digunakan untuk pembangunan greenhouse.
"Ini green house punyanya BUMDES unit usahanya pertanian. Konsepnya itu wisata petik buah dan bisa dijual langsung, bisa ke PT (swasta). Ini baru project pertama, baru sekali panen ini," ujarnya, Selasa (3/9/2026).
Baca juga: Di Klaten Jateng Ada Wisata Petik Melon, Buahnya Premium & Harga 20 Ribu Per Kilo, Pas Buat Weekend
Greenhouse berdiri di atas tanah kas desa dengan luas lahan keseluruhan sekira satu hektare. Dari luasan tersebut, tahap awal pengembangan baru menggunakan sekitar 500 meter persegi.
Di dalam greenhouse, sekitar 1.000 tanaman melon tumbuh dengan sistem budidaya teratur. Buah menggantung pada tali di antara rimbunnya daun, sementara pengunjung dapat berjalan menyusuri lorong untuk melihat sekaligus memilih melon.
Yulis mengatakan konsep tersebut dipilih karena melon memiliki masa produksi relatif singkat. Dengan demikian, modal dan kegiatan produksi dapat diputar kembali dalam waktu sekitar dua bulan.
"Return back-nya lebih cepat, waktunya lebih cepat karena kan kalau melon kan 65 hari kita sudah bisa cepat petik. Jadi, kita bisa lihat langsung hasilnya. Kalau yang lain kan agak lama, ini kan cepat. Putarannya tiap 70 hari sudah selesai," jelasnya.
Ke depan, Pemdes Joho berencana memperluas greenhouse secara bertahap. Pengembangan itu diharapkan memperbesar produksi sekaligus memperkuat fungsi greenhouse sebagai unit usaha desa.
Setiap melon dijual berdasarkan berat dengan harga Rp 35 ribu per kilogram. Rata-rata bobot buah mencapai sekitar dua kilogram, bahkan dapat mencapai 2,5 kilogram untuk ukuran terbesar. (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)