TRIBUNGORONTALO.COM - Gempa bumi dengan magnitudo 3,0 mengguncang wilayah sekitar Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (8/9/2026) malam.
Berdasarkan informasi awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 18.12.37 WIB.
Pusat gempa berada di koordinat 7,99 Lintang Selatan (LS) dan 120,73 Bujur Timur (BT).
Baca juga: Bukan Panic Buying, Ini Alasan Warga Rela Antre Panjang di SPBU Gorontalo
Lokasi tersebut berada sekitar 75 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai.
BMKG mencatat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer.
Informasi tersebut merupakan parameter awal yang mengutamakan kecepatan penyampaian informasi kepada masyarakat. Karena itu, data gempa masih dapat berubah seiring dengan semakin lengkapnya hasil pengolahan data BMKG.
Secara geologi, NTT merupakan salah satu wilayah Indonesia yang memiliki aktivitas kegempaan cukup tinggi.
Wilayah NTT berada dalam kawasan tektonik kompleks akibat interaksi sejumlah lempeng dan struktur geologi aktif di kawasan Indonesia timur.
Di selatan Nusa Tenggara terdapat zona subduksi tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia atau Lempeng Sunda. Selain itu, kawasan Nusa Tenggara juga dipengaruhi berbagai struktur patahan dan sesar aktif.
Kondisi tersebut membuat gempa bumi dapat terjadi sewaktu-waktu di berbagai wilayah NTT, termasuk kawasan Pulau Flores dan Manggarai.
Baca juga: Siasat Jaringan Penipuan Bintara Polri 2026 di Jambi, Ada Kuota Khusus yang Disebut Fiktif
Aktivitas tektonik tersebut juga menjadi salah satu alasan masyarakat di wilayah NTT perlu memiliki kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi.
Magnitudo 3,0 dan Kedalaman 10 Kilometer
Gempa dengan magnitudo 3,0 tergolong gempa kecil.
Besarnya dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo, tetapi juga kedalaman pusat gempa, jarak dari episentrum ke permukiman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan.
Gempa kali ini memiliki kedalaman 10 kilometer sehingga termasuk gempa dangkal.
Gempa dangkal dapat terasa lebih kuat di sekitar episentrum dibandingkan gempa dengan magnitudo yang sama tetapi berada lebih dalam. Namun, dengan magnitudo 3,0, energi yang dilepaskan relatif kecil sehingga secara umum potensi kerusakan berat juga rendah.
Kendati demikian, dampak aktual tetap bergantung pada kondisi di lapangan. Karena itu, informasi mengenai apakah gempa dirasakan masyarakat maupun adanya kerusakan perlu menunggu laporan dan pembaruan resmi.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.
Saat gempa terjadi di dalam ruangan, masyarakat dapat melakukan langkah Drop, Cover, Hold On, yakni merunduk, berlindung di bawah meja atau tempat yang kokoh, kemudian berpegangan sampai guncangan berhenti.
Jauhi kaca, lemari, benda yang mudah jatuh, serta bagian bangunan yang berpotensi runtuh.
Jika berada di luar ruangan, segera menjauh dari bangunan, tiang listrik, papan reklame, dan benda lain yang dapat roboh.
Setelah guncangan berhenti, masyarakat perlu memeriksa kondisi sekitar dan memastikan jalur keluar tetap aman.
Informasi terkait gempa dan potensi gempa susulan sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi BMKG, bukan dari pesan berantai atau unggahan media sosial yang belum jelas sumbernya.
Masyarakat juga disarankan mengetahui lokasi titik kumpul dan jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja.
Hingga informasi awal ini disampaikan, masyarakat diimbau tidak panik. Tetap tenang, waspada terhadap kemungkinan guncangan susulan, serta terus memantau perkembangan informasi melalui kanal resmi BMKG. (*)