TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Gorontalo masih mengular hingga Selasa (8/9/2026).
Di SPBU Andalas, Kota Gorontalo, barisan kendaraan bahkan terlihat memanjang hingga menggunakan badan jalan, terutama pada jalur pengisian solar.
Meski antrean cukup panjang, kondisi tersebut tidak menunjukkan adanya panic buying atau pembelian BBM secara berlebihan seperti yang berkembang di tengah masyarakat.
Baca juga: Adhan Dambea Sebut Pemda Bisa Cabut Status Cagar Budaya Pakai UU Nomor 11 Tahun 2010
Warga yang ditemui Tribun Gorontalo mengatakan mereka datang untuk memenuhi kebutuhan BBM kendaraan seperti biasa.
Persoalannya, panjangnya antrean membuat waktu mereka banyak tersita. Sebagian warga bahkan mengaku mulai lelah dan malas harus berlama-lama menunggu di SPBU.
Namun, harga BBM di SPBU membuat mereka tetap bertahan dalam antrean.
Hal itu salah satunya dirasakan Agil Abdullah, sopir asal Tapa, Kabupaten Bone Bolango.
Agil mengaku cukup sering melakukan perjalanan lintas Sulawesi dengan membawa ikan dan berbagai barang dari Gorontalo ke sejumlah daerah, termasuk ke luar pulau.
Karena pekerjaannya bergantung pada kendaraan, ketersediaan BBM menjadi kebutuhan penting baginya.
Ia mengatakan dirinya kerap mengisi solar di SPBU. Namun, antrean panjang dan keharusan memiliki nomor antrean menjadi kendala tersendiri.
"Kalau saya sering isi solar, kalau tidak dapat minyak saya sering isi di depot harga Rp18 ribu, sedangkan di SPBU hanya Rp6.800," kata Agil saat diwawancarai.
Selisih harga tersebut membuat Agil tetap berusaha mendapatkan solar di SPBU meskipun harus menghabiskan waktu untuk mengantre.
Menurutnya, mendapatkan nomor antrean untuk pengisian solar juga tidak selalu mudah.
"Kalau di SPBU itu harus ada nomor. Jadi kalau tidak ada nomor susah daapt. Kalau kita mau urus tidak tahu urus di mana hanya dibilang urus nomor tapi tidak tahu di mana," bebernya.
Kondisi tersebut membuat Agil harus menyesuaikan waktu keberangkatannya dengan situasi di SPBU.
Sebagai sopir yang membawa barang ke berbagai daerah, keterlambatan mendapatkan solar dapat berpengaruh terhadap waktu perjalanan.
Ketika tidak memperoleh solar di SPBU, ia terpaksa membeli BBM di depot dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Menurut Agil, pengeluaran untuk BBM tersebut kemudian dapat menggerus pendapatannya.
"Kadang pendapatannya sering mines karena habis di pengisian minyak," ujarnya.
Datang dari Boalemo untuk Isi BBM
Antrean panjang juga membuat warga dari luar Kota Gorontalo harus meluangkan waktu untuk mendapatkan BBM.
Sigo Firdaus, warga Desa Polohungo, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, misalnya, datang ke Kota Gorontalo untuk mengisi BBM.
Ia mengatakan kedatangannya ke SPBU Andalas dilakukan bersama keluarganya yang memang telah tinggal di wilayah Kota Gorontalo.
Sigo mengaku tidak mengalami kepanikan berlebihan dalam mencari BBM.
"Kalau panik berlebihan tidak ada. Tapi khawatir ada kalau siapa tahu tidak dapat," ujarnya.
BBM yang dibelinya digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Sigo menggunakan mobil pikap yang dipakai untuk mengangkut dan memuat barang.
"Saya pakai mobil pikup. Digunakan untuk keperluan muat angkut," ujarnya.
Meski harus menghadapi antrean panjang, kebutuhan terhadap BBM membuat Sigo tetap bertahan menunggu.
SPBU Kewalahan Atur Antrean
Dari sisi pengelola, panjangnya antrean juga menjadi persoalan tersendiri.
Supervisor SPBU Andalas, Farid Taha, mengatakan petugas berupaya mengatur kendaraan agar barisan antrean tidak semakin mengganggu arus lalu lintas.
Namun, jumlah kendaraan yang datang membuat petugas mengalami kesulitan dalam mengaturnya.
"Kalau kami sering diatur tapi kan meski di atur tetap begitu, kita sedikit kewalahan," ujarnya.
Farid menjelaskan pengisian BBM di SPBU Andalas dilakukan menggunakan barcode.
Artinya, kendaraan yang tidak memenuhi ketentuan tidak dapat melakukan pengisian.
"Kita pakai barkot, kalau tidak sesuai ya kita tidak bisa isi," ujarnya.
Stok BBM Masih Tersedia
Di tengah antrean kendaraan yang mengular, Farid memastikan stok BBM di SPBU Andalas masih tersedia.
Ia memperkirakan stok yang tersedia masih dapat digunakan untuk melayani kendaraan hingga pergantian hari.
"Pengisian masih sama 24 KL untuk pertalite dan solar 8 KL. Tapi meski stok ada antrean masih mengular," ujarnya.
Kondisi di SPBU Andalas menunjukkan panjangnya antrean tidak serta-merta berarti masyarakat melakukan pembelian BBM secara berlebihan.
Warga yang datang tetap mengisi BBM untuk memenuhi kebutuhan kendaraan mereka.
Namun, bagi sebagian pengendara, antrean panjang tetap menjadi persoalan karena waktu yang harus dihabiskan untuk mendapatkan BBM.
Bagi sopir seperti Agil, pilihan tersebut juga berkaitan dengan perbedaan harga yang cukup jauh. Membeli solar di SPBU berarti harus menghadapi antrean, sedangkan membeli di depot dapat menghemat waktu tetapi dengan harga yang jauh lebih mahal.
(*/Jefri)