TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut jawaban pertanyaan cerita rakyat Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 6 halaman 55 Aktivitas 2.4 Latihan Pemahaman Teks Bab 2 Nusantara Berjuta Cerita dalam buku paket Kurikulum Merdeka edisi revisi 2025 Penerbit Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Baca juga: Buku Sastra dan Buku Nonsastra yang Dicentang, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 6 Halaman 51
Bab 2 Nusantara Berjuta Cerita
B. Nusantara Berjuta Cerita
Membaca
Bacalah cerita rakyat “Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil” berikut ini. Lalu, jawablah pertanyaannya untuk mengetahui pemahamanmu terhadap isi cerita.
Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil
Jauh sebelum orang-orang di Kepulauan Sangihe masa kini ada dengan kekayaan budayanya. Jauh sebelum raja-raja memimpin dan menciptakan sejarah yang begitu megah. Hiduplah para kurcaci di sebuah lembah di kaki Gunung Awu. Para kurcaci, orang-orang kecil itu, dikenal sebagai Apapuhang.
Ada sebuah lembah yang menghubungkan Kampung Lenganeng dan Kampung Lehase. Lembah itu dipenuhi dengan tumbuhan cengkih, pala, dan kelapa pada lereng-lerengnya. Lembah yang berdasar pada sebuah sungai kecil yang disebut Saluu Apapuhang. Lembah itu dikenal sebagai Balang Apapuhang.
Konon di sekitar sungai-sungai itulah Apapuhang berdiam dan mencari makan. Mereka bekerja dan hidup sebagaimana masyarakat pada umumnya. Mereka berumah di bawah pohon-pohon tumbang. Mereka juga tinggal di sela-sela akar pohon besar yang tumbuh di lembah.
Di lembah yang lembap itu, aneka binatang dan buah-buahan hutan tumbuh dengan suburnya. Daun-daun di tanah sudah menjadi humus. Di tempat itulah, di antara batu-batu berlumut dan cadas, berkeliaran binatang melata macam kaki seribu. Kadang binatang itu hidup sampai sebesar jari kaki orang dewasa. Binatang itulah yang diyakini sebagai makanan utama suku Apapuhang.
Para Apapuhang juga berburu binatang lain di hutan, termasuk menangkap ikan. Selain itu, mereka mencari buah-buahan hutan untuk santapan dan cemilan sehari-hari. Para Apapuhang ini suka berkelana mencari bahan makanan sampai ke wilayah jauh.
Suatu ketika, sampailah mereka di pesisir pantai di Naha. Mereka berlarian menceburkan diri ke pantai. Tanpa disengaja, mulut salah seorang dari mereka kemasukan air laut yang asin.
Begitu rasa asin itu mereka cecap, mereka semakin penasaran. Mereka terus saja menceritakan hal itu pada warga yang lain. Dari hari ke hari, para Apapuhang itu hilir mudik dari lembah menuju pantai. Hingga lambat laun, mereka merasa kelelahan.
Rasa lelah itu pun akhirnya mendorong mereka untuk berpikir. Bagaimana caranya supaya mereka bisa tetap pergi ke pantai tanpa harus berjalan naik turun lembah. Dari sinilah tercetuslah ide pertama untuk membuat sebuah perahu. Mereka bergotong royong membuat sebuah perahu.
Setelah beberapa waktu dan perahu telah siap, mereka ditimpa kebingungan. Bagaimana caranya supaya perahu itu bisa meluncur sampai ke pantai. Lembah tempat mereka berdiam adalah lembah curam yang dipenuhi tebing terjal. Mereka terus berpikir sampai akhirnya menemukan sebuah ide. Mereka mengarahkan sumber mata air yang ada itu melewati ceruk menuju tebing. Lalu, muncullah sebuah air terjun.
Air terjun itulah yang telah dikenal sebagai Air Terjun Apapuhang. Karena air terjun yang mengalir di tebing terlalu sedikit, perahu pun tidak bisa berjalan. Muncul ide selanjutnya, yakni mereka membuat simpul dari satu pohon ke pohon lain. Serupa ketapel raksasa. Dengan begitu, mereka berharap perahu yang mereka tumpangi bisa meluncur sampai ke pantai.
Namun, yang terjadi adalah sebuah tragedi. Perahu itu terlontar tidak jauh dari ketapel raksasa yang mereka buat. Maka, perahu pun hancur berkepingkeping. Hal itu juga membuat beberapa dari mereka tewas.
Melalui kejadian itu, mereka mulai putus asa. Mereka tidak yakin bakal menemukan cara lain untuk sampai ke pantai. Mereka tidak ingin berlelahlelah naik turun lembah dengan berjalan kaki.
Meski demikian, mereka terus berpikir. Bagaimana caranya supaya tetap bisa merasakan asin air laut. Sampai akhirnya mereka menemukan ide baru lagi. Bukan mereka yang mendatangi laut, tetapi air laut akan mereka bawa ke pemukiman. Dengan demikian, mereka bisa mandi dan mencecap air asin itu.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah membuat wadah untuk mengambil dan membawa air. Mereka mulai membuat wadah dari bahan rotan yang mereka anyam menjadi keranjang. Benda itu kelak disebut sebagai Bika.
Semua orang bahu-membahu mengambil air dari Pantai Naha. Mereka berencana membawanya ke lembah. Namun sungguh sayang, tak seperti yang diharapkan. Setiap kali mereka sampai ke lembah, air dalam keranjang sudah kosong melompong. Tak bersisa sedikit pun.
Mereka pun terus berpikir. Akhirnya mereka menemukan buluh untuk membawa air asin itu ke pemukiman mereka. Untuk menampung air laut yang mereka bawa dengan buluh itu, mereka membuat sebuah kolam.
Mereka menggali tanah hingga menyerupai sebuah belanga. Dari waktu ke waktu kolam diisi secara estafet, sampai penuh. Selanjutnya kolam itu mereka jadikan sebagai tempat memelihara ikan, sekaligus untuk pemandian. Kini tempat tersebut diberi nama Liua Bale. Karena tidak bersumber dari mata air, lambat laun air dalam Liua Bale pun mengering.
Para Apapuhang sangat kecewa sekaligus marah. Mereka menganggap penguasa lautan mempermainkan mereka. Mereka pun akhirnya menabuh genderang perang untuk melawan penguasa lautan. Berbondong-bondong mereka menuju pantai dengan persenjataan lengkap. Ketika sampai di pantai, mereka terjun ke dalam air.
Dengan senjata yang ada mereka mencacah air laut. Dengan penuh kemarahan mereka terus berjalan menuju tengah laut, tanpa memedulikan keselamatan mereka sendiri. Bagi mereka, itu adalah perang. Akhirnya sebagian besar dari mereka tewas karena terseret ombak dan tenggelam.
Soal :
Aktivitas 2.4
Latihan Pemahaman Teks
1. Berdasarkan kata kunci yang ada, yaitu Kepulauan Sangihe, cerita Apapuhang di atas berasal dari provinsi mana?
............................................................................................................................
2. Apa yang membedakan Apapuhang dengan manusia biasa?
............................................................................................................................
3. Berdasarkan bacaan di atas, para Apapuhang suka berpikir dan bekerja keras! Jabarkan buktinya!
............................................................................................................................
4. Menurutmu, apa hal paling tak masuk akal yang dilakukan oleh para Apapuhang?
............................................................................................................................
5. Dengan kondisi yang seperti diceritakan, kira-kira apa yang akan kamu lakukan untuk bisa menikmati air laut seperti yang diinginkan suku Apapuhang?
............................................................................................................................
Kunci jawaban :
Berikut jawaban pertanyaan cerita rakyat Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil :
1. Berdasarkan kata kunci yang ada, yaitu Kepulauan Sangihe, cerita Apapuhang di atas berasal dari provinsi mana?
Jawaban : Cerita ini berasal dari Provinsi Sulawesi Utara, karena Kepulauan Sangihe merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah Sulawesi Utara.
2. Apa yang membedakan Apapuhang dengan manusia biasa?
Jawaban : Apapuhang adalah orang-orang kecil atau kurcaci, berbeda dengan manusia biasa yang bertubuh besar. Mereka juga tinggal di bawah pohon tumbang dan di sela-sela akar pohon besar, serta memakan binatang melata sebagai makanan utama yang tidak biasa dimakan manusia pada umumnya.
3. Berdasarkan bacaan di atas, para Apapuhang suka berpikir dan bekerja keras! Jabarkan buktinya!
Jawaban : Bukti bahwa mereka suka berpikir dan bekerja keras antara lain :
- Mereka berpikir dan menciptakan ide agar tidak perlu berjalan naik-turun lembah untuk ke pantai, lalu bergotong royong membuat perahu.
- Ketika perahu tidak bisa meluncur, mereka berpikir lagi hingga membuat air terjun dan alat peluncur dari pohon.
- Ketika gagal, mereka tidak menyerah dan muncul ide untuk membawa air laut ke lembah dengan membuat wadah dari rotan, lalu mencoba menggunakan buluh.
- Mereka bekerja keras secara estafet membawa air laut dan menggali tanah hingga menjadi kolam untuk menampung air.
4. Menurutmu, apa hal paling tak masuk akal yang dilakukan oleh para Apapuhang?
Jawaban : Hal yang paling tidak masuk akal adalah ketika mereka marah dan menyatakan perang terhadap penguasa lautan, lalu mencacah air laut dengan senjata serta berjalan terus ke tengah laut dengan penuh kemarahan. Air laut tentu tidak bisa dilawan dengan cara demikian, sehingga banyak dari mereka yang tewas terseret ombak dan tenggelam.
5. Dengan kondisi yang seperti diceritakan, kira-kira apa yang akan kamu lakukan untuk bisa menikmati air laut seperti yang diinginkan suku Apapuhang?
Jawaban : Saya akan memilih cara yang lebih sederhana dan aman, yaitu: membuat jalan atau tangga yang aman menuju pantai agar tidak terlalu lelah berjalan. Atau, mengambil air laut secukupnya dan mengendapkan sebagian airnya agar lebih awet dibawa pulang. Selain itu, saya juga bisa menanam tanaman yang menyukai air payau atau membuat kolam yang lebih terlindungi agar air tidak cepat mengering, daripada melawan laut dengan kekerasan yang justru membahayakan diri sendiri.
Demikian jawaban pertanyaan cerita rakyat Lembah Apapuhang dan Orang-Orang Kecil untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 6 halaman 55 Aktivitas 2.4 Latihan Pemahaman Teks Bab 2 Nusantara Berjuta Cerita dalam buku paket Kurikulum Merdeka edisi revisi 2025 Penerbit Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )