TIGA pekan berlalu setelah gempa, Desa Cunca Lolos di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mulai beranjak dari suasana duka dan ketidakpastian.
Desa pertanian yang semula tenang itu kini berubah menjadi hamparan puing bangunan dan deretan tenda penampungan darurat.
Pemandangan rumah yang hancur dapat dengan mudah ditemui di desa yang memanjang di perlintasan Jalan Trans Flores rute Labuan Bajo-Ruteng. Hal itu menjadi bukti nyata dahsyatnya getaran gempa bumi 7,7 magnitudo, 15 Agustus.
Sebagian besar rumah berdinding bata merah tanpa plester semen tebal berdiri miring dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Mayoritas dinding berlubang cukup besar hingga rontokan materialnya berserakan di pekarangan rumah.
Untuk menahan struktur atap seng agar tidak roboh rata dengan tanah, warga menancapkan batang bambu sebesar dua kepalan tangan ke tanah sebagai penopang. Sementara itu, penghuninya harus mengungsi demi keselamatan karena bangunan tersebut tak lagi aman untuk ditempati.
Guncangan gempa
Dari balik kerusakan di kawasan tersebut, Simon Adu (68), seorang petani setempat, menuturkan bagaimana guncangan gempa pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA itu merobohkan rumah sederhananya.
Saat guncangan terjadi, Simon terbangun secara refleks akibat gemuruh hebat dari bawah ranjang tidurnya yang kemudian disusul kretek-kretek bunyi plafon dan jendela rumah.
Tanpa sempat menyelamatkan harta benda atau pakaian pengganti, ia bergegas membangunkan dan membawa keluar istri, anak, serta tiga cucunya sebelum dinding bata tepat sebelah ranjangnya bersandar itu roboh. Seluruh lima anggota keluarganya berhasil selamat menembus bahaya dari reruntuhan tersebut.
Rumah Bapa tua Simon, sebagaimana sapaan akrabnya, itu merupakan salah satu bantuan rumah program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) tahun 2021 dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (sekarang Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman/PKP).
Simon mengaku bersyukur sempat merasakan hidup nyaman di rumah tipe 36 itu, karena jauh sebelumnya mereka sekeluarga hanya bernaung dari rumah beratap ijuk dan beralaskan tanah.
Namun kini, rumah impiannya itu sudah tidak bisa lagi ditempati. Retakan menghiasi fondasi bangunan bahkan nyaris berpisah dengan asbesnya, yang beberapa bagian hancur berhamburan hingga mustahil untuk diperbaiki kembali.
Mereka sekeluarga sementara menempati tenda darurat yang didirikan di halaman depan sisa bangunan rumahnya.
Sembari menunggu pembangunan, ia memilih bertahan di tenda beralas terpal tipis agar tetap dekat dengan lahan miliknya ketimbang di posko pengungsian terpusat, yang jaraknya 26 kilometer di kawasan destinasi super prioritas Labuan Bajo, Manggarai Barat.
"Puji Tuhan kami tidak ada bahaya apa-apa. Yang saya harapkan semoga pemerintah bisa segera memberikan bantuan agar kami bisa punya rumah kembali, seperti yang dijanjikan Bapak Bupati," kata Simon dengan nada haru dan logat khasnya.
Rumah jadi kebutuhan paling utama. Apalagi bencana ini juga menghentikan mata pencaharian Simon sebagai petani padi dan palawija. Tanaman padinya di sawah yang baru berusia satu bulan kini dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa perawatan.
Meskipun lahan pertaniannya relatif aman dari dampak guncangan, langkah kaki Simon tertahan oleh rasa trauma. Setiap kali duduk sendirian di pengungsian, sensasi seolah bumi masih bergetar terus membayangi benaknya.
Rasa trauma tersebut tidak berlebihan. Guncangan gempa masih sering dirasakan warga setempat. Waktunya tidak menentu, tetapi lebih sering malam hari. Sampai saat wawancara ini berlangsung, Rabu, 2 September, Direktorat Geofisika BMKG melaporkan total ada 11.185 gempa susulan. Di antaranya ada sebanyak 36 kali gempa susulan bermagnitudo lebih dari 5,0 yang getarannya dirasakan warga.
“Tidak tahu lagi ke depan ini bagaimana. Biarkanlah saja dulu sudah, tunggu situasinya aman dulu. Rasanya badan ini goyang-goyang terus jadi disini biar bisa kasih aman dulu anak-cucu saya,” kata Simon.
Penderitaan serupa dirasakan oleh Laurensius Tep (42) di Kampung Sai Mbokol. Tempat tinggalnya hancur hingga hanya menyisakan bagian atap yang miring menyentuh tanah hingga sama sekali tidak layak lagi untuk dihuni. Bahkan, situasi menjadi pelik ketika ia harus mendapati rumah hancur tepat saat anak dan cucunya baru saja pulang dari merantau di tempat kerja tambak ikan di Sumba.
Laurensius mengambil langkah darurat dengan menyulap bangunan kandang ayam di pekarangannya menjadi tempat tinggal sementara bagi dua kepala keluarga sekaligus. Bangunan kayu bekas tempat ternak itu dibersihkan, dilapisi sekat kain, dan ditutup terpal rapat-rapat untuk menghalau terik matahari siang serta terpaan angin malam.
"Kami memutuskan tinggal, merenovasi kandang ayam, yang saya buat sedemikian rupa agar keluarga bisa berteduh sementara waktu," kata Lauren.
Baca juga: 4 Sekolah di Flores Timur NTT Terima Dana BOS di atas Rp 1 Miliar, Berikut Daftar dan Rinciannya
Dia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada para pewarta yang telah meluangkan waktu berbincang dengan warga setempat, termasuk dirinya.
Lauren, kini, terdata menjadi salah satu penyintas yang rumahnya masuk daftar perbaikan dari pemerintah.
“Saya jalan kaki ke Roe untuk menemui petugas cari bantuan. Kondisinya saat itu ramai. Ramai sekali karena ada banyak yang datang dari Jakarta sampai tetua di sini sibuk,” kata dia.
“Tidak banyak yang bisa kami katakan, terima kasih untuk semuanya,” kata Laurensius sambil menggendong cucunya.
Kisah yang dialami Simon dan Laurensius merupakan cerminan kecil dari skala bencana yang membelit Nusa Tenggara Timur. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai dengan akhir Agustus, jumlah pengungsi gempa Flores NTT sebanyak 188.161 jiwa.
Konsentrasi pengungsi terbesar berpusat di Kabupaten Nagekeo sebanyak 50.574 orang dan Kabupaten Manggarai sebanyak 50.556 orang. Selain itu, sebaran pengungsi dalam jumlah besar juga terdata di Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, hingga Kabupaten Ende.
BNPB juga melaporkan bahwa bencana geologi ini telah merenggut 111 korban jiwa sejak guncangan gempa pertama menerjang. Sementara itu, total korban luka-luka mencapai 1.631 orang, yang terdiri atas 223 orang luka berat dan 1.408 orang luka ringan.
Dampak kerusakan infrastruktur pemukiman tergolong sangat masif di berbagai kabupaten terdampak. Kerusakan rumah di seluruh wilayah provinsi NTT hingga kini menyentuh angka 102.358 unit yang mencakup rumah rusak ringan, sedang, dan hancur dalam kategori rusak berat.
Baca juga: Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur Kembali Erupsi Pagi Ini, Warga yang Mengungsi Panik
Secara khusus di Kabupaten Manggarai Barat, Pemerintah Kabupaten setempat melaporkan ada sebanyak 36.102 jiwa dari 7.777 kepala keluarga yang terdampak langsung oleh bencana ini. Kerusakan rumah di wilayah tersebut mencapai 10.757 unit, yang tersebar dalam kategori kerusakan ringan, sedang, hingga berat.
Kondisi fisik bangunan yang runtuh dan ancaman guncangan susulan memaksa sekitar 9.000 warga Manggarai Barat bertahan di tenda-tenda pengungsian. Dari jumlah tersebut, sebanyak 157 jiwa merupakan warga pengungsi yang tersebar di Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling.
Kolaborasi
Menanggapi krisis kemanusiaan ini, BNPB bersama kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah hingga kalangan swasta berkolaborasi untuk mempercepat penyaluran bantuan logistik tanggap darurat.
Pendistribusian bantuan difokuskan pada penyiapan bahan pangan pokok, fasilitas air bersih, perlengkapan tidur seperti kasur dan selimut, tenda pengungsian, hingga penyediaan layanan kesehatan serta pendampingan trauma bagi warga penyintas.
Hal yang krusial selain penanganan darurat harian, pemerintah juga tengah mematangkan skema pemulihan dan rekonstruksi pascabencana.
Langkah verifikasi pendataan tingkat kerusakan fisik rumah terus dilakukan oleh petugas lapangan sebagai dasar acuan pemberian dana stimulan perbaikan rumah, serta perencanaan pembangunan hunian tetap yang memenuhi standar bangunan tahan gempa.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan bahwa penanganan tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, dilaksanakan secara paralel demi meringankan beban bagi para penyintas bencana.
BNPB sudah mengantongi data sebanyak 51.591 unit rumah yang terverifikasi atau setara dengan 50,39 persen dari total sasaran pendataan awal sebanyak 102.384 unit rumah dari tujuh kabupaten terdampak.
Dari jumlah yang terverifikasi masing-masing terdiri atas 2.382 unit rumah rusak berat, 7.276 unit rusak sedang dan 14.177 unit rusak ringan sementara 27.756 unit dinyatakan tidak rusak.
Pendataan ini masih bersifat dinamis seiring percepatan penyandingan data berbasis by name by address (BNBA), pembersihan data ganda, serta verifikasi lapangan terhadap data susulan di tingkat daerah.
Baca juga: Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki Luluh Lantakan Desa di Flores Timur, Ribuan Warga Mengungsi
Berdasarkan sebaran wilayah per 7 September 2026, Kabupaten Manggarai Barat mencatatkan cakupan verifikasi tertinggi mencapai 12.367 unit dari 12.613 data awal.
Sementara di Kabupaten Nagekeo terverifikasi 15.929 unit (218 rusak berat, 1.523 rusak sedang, 3.475 rusak ringan).
Selanjutnya di Kabupaten Manggarai Timur telah terverifikasi 7.366 unit (1.078 rusak berat), Kabupaten Manggarai 7.089 unit (448 rusak berat), Kabupaten Ngada 7.544 unit (126 rusak berat), Kabupaten Sikka 1.001 unit (43 rusak berat), dan Kabupaten Ende 295 unit (1 rusak berat).
BNPB menerjunkan tim dari Jakarta untuk mendampingi pemerintah daerah di tujuh kabupaten terdampak menyusun Kajian Kebutuhan Pascabencana serta Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
Optimisme harus ditanamkan pada semua pihak karena kondisi di lapangan memang tidak mudah. Upaya ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam melakukan penanganan bencana serta rehabilitasi fisik berbasis data tervalidasi di tengah kondisi nasional saat ini yang sedang dihadapkan pada banyak nestapa bencana. (ANTARA)
Oleh: M. Riezko Bima Elko Prasetyo