TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Muhammad Alhaji Babayo (32), mahasiswa asal Nigeria, memilih Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang untuk melanjutkan pendidikan Magister Ilmu Hukum.
Mahasiswa yang akrab disapa Almadanie tersebut sebelumnya menyelesaikan pendidikan sarjana Hukum Islam di Islamic University of Madinah, Arab Saudi.
Baca juga: Kemenkum Jateng Hadirkan Layanan AHU dan KI dalam PRO-KESRA Produktif Garuda UNISSULA
Ia memilih melanjutkan studi di Indonesia karena ingin memperluas pengalaman akademik sekaligus memahami perkembangan hukum dan ekonomi Islam di tengah masyarakat yang modern dan beragam.
"Indonesia memiliki tradisi pendidikan Islam yang kuat dan merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia," kata Almadanie kepada Tribunjateng.com, di sela pembukaan Pekan Taaruf Mahasiswa Baru Unissula tahun akademik 2026/2027 di Auditorium Kampus Unissula, Selasa (8/9/2026).
Ia ingin mendapatkan perspektif berbeda mengenai penerapan dan perkembangan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat yang modern dan multikultural.
"Saya melihat kuliah di Indonesia sebagai kesempatan yang sangat baik untuk mendapatkan perspektif yang berbeda dan mempelajari bagaimana nilai-nilai Islam berinteraksi dengan masyarakat yang modern dan beragam," ujarnya.
Dari sejumlah pilihan yang ada, Almadanie memilih Unissula karena program studi yang ditawarkan sesuai dengan latar belakang akademik dan rencana masa depannya.
Setelah mempelajari Hukum Islam di Islamic University of Madinah, ia ingin mengembangkan dasar keilmuan tersebut dengan memperdalam Hukum Ekonomi Islam.
Identitas keislaman Unissula yang dipadukan dengan pendekatan pendidikan tinggi modern menjadi salah satu alasan yang membuatnya tertarik.
"Saya juga tertarik dengan lingkungan internasional di universitas ini serta kesempatan untuk berinteraksi dengan mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara," katanya.
Selama berada di Semarang, Almadanie mengaku mendapat pengalaman positif. Keramahan masyarakat Indonesia membuat proses adaptasinya berjalan relatif mudah.
Meski demikian, perbedaan bahasa dan budaya menjadi tantangan tersendiri. Ia pun mulai mempelajari Bahasa Indonesia agar dapat berkomunikasi dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat sekitar.
"Saya sudah berteman dengan mahasiswa Indonesia maupun mahasiswa internasional, dan saya sangat menghargai sambutan hangat yang saya terima," tuturnya.
Program magister yang ditempuh Almadanie berlangsung selama dua tahun.
Ia ingin memanfaatkan waktunya untuk memperdalam ilmu, membangun relasi, memahami budaya dan masyarakat Indonesia, serta mendapatkan pengalaman yang nantinya dapat dibawa kembali ke Nigeria.
"Namun, bagi saya, dua tahun tersebut bukan sekadar masa untuk mendapatkan gelar. Saya ingin belajar sebanyak mungkin, membangun hubungan yang bermakna, memahami budaya dan masyarakat Indonesia, serta mendapatkan pengalaman yang nantinya dapat saya bawa kembali ke Nigeria," ujarnya.
Almadanie juga melihat sistem pendidikan di Nigeria dan Indonesia memiliki keunggulan masing-masing.
Ia menilai lingkungan akademik yang internasional dan multikultural di Unissula menjadi salah satu pengalaman yang paling berharga.
"Bagi saya, ini bukan tentang menentukan negara mana yang memiliki pendidikan lebih baik, tetapi tentang belajar dari kedua sistem tersebut dan mengambil pelajaran terbaik dari masing-masing," katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Unissula, Almadanie memiliki keinginan untuk membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya di Indonesia kembali ke Nigeria.
Tak hanya membawa ilmu, Almadanie juga berharap hubungan yang dibangun selama berada di Indonesia dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan akademik maupun profesional antara Nigeria dan Indonesia.
Kehadiran Almadanie menjadi bagian dari upaya Unissula memperkuat lingkungan pendidikan yang menghubungkan penguasaan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam sekaligus wawasan global.
Rektor Unissula, Prof Dr Gunarto SH MH, mengatakan mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menguasai bidang keilmuan sesuai program studi, tetapi juga dibentuk menjadi lulusan yang memiliki karakter dan nilai keislaman.
"Unissula mengintegrasikan sains dan agama. Proses pendidikan di Unissula memadukan secara harmonis antara penguasaan sains dan nilai-nilai Islam untuk menghasilkan lulusan terbaik atau khaira ummah," kata Gunarto.
Pada tahun akademik 2026/2027, Unissula menerima 9.325 mahasiswa baru. Jumlah tersebut terdiri atas 4.726 mahasiswa program S1 dan D3, 2.834 mahasiswa pascasarjana, 36 mahasiswa program spesialis, serta 1.729 mahasiswa program profesi.
Selain mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, Pekan Taaruf yang berlangsung hingga 10 September 2026 juga diikuti tujuh mahasiswa internasional dari Timor Leste, Uganda, Gambia, dan Nigeria.
Gunarto menyebut internasionalisasi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan Unissula.
Dalam empat tahun terakhir, tercatat 98 mahasiswa asing telah menempuh pendidikan di Unissula.
Dari sisi kualitas institusi, Unissula telah meraih Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sejak 2022.
Baca juga: Keren, Mahasiswa Unissula Semarang Bikin Robot Pelayan Restoran yang Bisa Ucapkan Permisi
Sebanyak 53 program studi Unissula juga sedang menjalani proses akreditasi internasional dari ACQUIN, lembaga akreditasi berbasis di Jerman. Hasil proses tersebut ditargetkan terbit pada akhir 2026.
Unissula saat ini memiliki 109 dosen bergelar profesor dan 333 dosen bergelar doktor. Penguatan daya saing global juga dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi luar negeri, di antaranya Rotterdam University di Belanda dan Dongseo University di Korea Selatan.
Kerja sama tersebut membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengikuti berbagai program internasional, termasuk student exchange dan dual degree. (*)