Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS - Tumpukan buku hasil donasi masyarakat tak sekadar dikumpulkan oleh Komunitas Gada Membaca Kawali.
Satu per satu buku tersebut dipilah, dicatat, diberi identitas hingga siap ditempatkan di rak dan dipinjam oleh masyarakat.
Proses itu salah satunya dikerjakan oleh Ike Nurjanah, relawan Komunitas Gada Membaca asal Desa/Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis.
Mahasiswi semester 4 jurusan PGSD Universitas Terbuka tersebut secara rutin mengolah bahan bacaan yang telah lolos proses pemilahan.
Dalam sehari, Ike mampu mengolah sekitar 40 buku dalam waktu kurang lebih dua jam.
Hingga saat ini, tercatat sudah sekitar 9.230 eksemplar buku yang berhasil diolahnya.
Proses pengolahan tersebut dilakukan secara bertahap. Buku yang akan masuk ke koleksi terlebih dahulu diberi cap lembaga, cap nomor induk, dan cap hak milik.
Selanjutnya, Ike memotret sampul buku untuk memudahkan proses pencarian koleksi.
Baca juga: Relawan Jadi Penggerak Komunitas Gada Membaca Kawali, Luangkan Waktu Dampingi Anak-anak Belajar
Ia juga dapat memanfaatkan layanan pencarian gambar yang tersedia pada aplikasi untuk membantu melengkapi data buku.
Setelah itu, data buku dimasukkan ke dalam aplikasi Senayan Library Management System (SLiMS) 9 Bulian yang digunakan Komunitas Gada Membaca.
Berbagai informasi bibliografi harus diinput, mulai dari judul buku, nama pengarang, penanggung jawab, cetakan, ISBN, deskripsi fisik, klasifikasi, nomor panggil hingga foto sampul.
Setelah data lengkap, buku kemudian dipromosikan melalui beranda dan diberikan kode eksemplar.
Kode QR yang telah dibuat selanjutnya dicetak, dipotong, kemudian ditempel pada buku.
Agar penempatan label terlihat rapi dan seragam, Ike terlebih dahulu mengukur bagian punggung buku menggunakan penggaris sebelum menempelkan label.
Setelah seluruh tahapan selesai, buku pun siap ditempatkan di rak dan dipinjam oleh masyarakat.
Bagi Ike, pekerjaan tersebut bukan sekadar rutinitas sebagai relawan. Proses mengolah buku justru membuatnya semakin dekat dengan berbagai bahan bacaan.
"Manfaatnya jadi banyak tahu buku yang diolah, menambah pengetahuan, dan tentu saja saya langsung membaca buku yang paling menarik setelah diolah," kata Ike, Selasa (8/9/2026).
Menariknya, aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan ketika kondisi perpustakaan sepi.
Ike mengerjakan pengolahan buku sembari melayani pengunjung Komunitas Gada Membaca.
Selain itu, setiap Senin hingga Rabu, ia juga memberikan pelatihan komputer dasar bagi siswa MIS Winduraja.
Baca juga: Komite Soroti Pengurangan Jam Pelajaran Usai Murid SDN 026 Bojongloa Direlokasi
Sementara itu, Pembina Komunitas Gada Membaca, Agus Munawar, mengatakan proses pengolahan bahan bacaan menjadi bagian penting sebelum buku dapat dimanfaatkan masyarakat.
Menurutnya, pengolahan dilakukan agar koleksi memiliki data bibliografi yang terstruktur sehingga lebih mudah ditemukan dan diakses oleh pengguna.
"Setelah melalui pemilahan, bahan bacaan yang memang dibutuhkan masyarakat kemudian diolah dan dimasukkan ke dalam sistem agar nantinya mudah ditemukan ketika ada yang membutuhkan," ujar Agus.
Keberadaan relawan seperti Ike pun menjadi bagian penting dalam memastikan buku-buku sumbangan masyarakat tidak berhenti sebagai tumpukan koleksi.
Buku yang datang diolah, didata, diberi identitas, kemudian ditempatkan di rak sehingga bisa kembali memberikan manfaat bagi masyarakat melalui kegiatan membaca.(*)