AS Penentang Tunggal Peta Baru Dunia, 164 Negara Dukung Resolusi PBB
Saifullah September 08, 2026 11:03 PM

 

PBB menyetujui resolusi penggunaan peta dunia dengan proyeksi Equal Earth yang lebih proporsional dalam menggambarkan luas wilayah. 

SERAMBINEWS.COM, NEW YORK – Cara manusia melihat dunia dari atas kertas kembali menjadi perdebatan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Majelis Umum PBB menyetujui sebuah resolusi yang mendorong penggunaan peta dunia dengan gambaran luas wilayah yang lebih mendekati kondisi sebenarnya.

Resolusi tersebut diajukan Togo, negara di Afrika Barat, dan memperoleh dukungan dari 164 negara anggota PBB.

Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi itu, sementara enam negara lainnya memilih abstain.

Meski tidak bersifat mengikat, keputusan tersebut dinilai memiliki makna simbolis sekaligus mendorong perubahan dalam cara dunia menggambarkan permukaan Bumi.

Negara dan organisasi internasional didorong untuk menggunakan proyeksi Equal Earth, khususnya dalam kebutuhan yang tidak mengutamakan ketepatan sudut dan arah.

Perdebatan ini berawal dari persoalan mendasar dalam kartografi: Bumi berbentuk bulat, sedangkan peta pada umumnya dibuat dalam bidang datar.

Baca juga: Indonesia Tolak Niat Israel Hapus Palestina dari Peta Dunia, Menlu Retno Desak DK PBB Lakukan Ini

Karena itu, tidak mungkin memindahkan seluruh permukaan planet ke lembaran datar tanpa menimbulkan perubahan pada bentuk, ukuran, jarak, atau arah.

Selama berabad-abad, salah satu proyeksi yang paling banyak digunakan adalah proyeksi Mercator.

Sistem yang diperkenalkan kartografer Gerardus Mercator tersebut sangat berguna untuk navigasi karena mampu mempertahankan arah secara konsisten.

Namun, keunggulan itu memiliki konsekuensi.

Wilayah yang berada semakin jauh dari garis khatulistiwa akan terlihat jauh lebih besar dibandingkan ukuran sebenarnya.

Contoh paling mencolok adalah Greenland.

Dalam peta Mercator, pulau tersebut tampak hampir sebesar Afrika.

Padahal, secara luas wilayah, Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland.

Proyeksi Equal Earth menawarkan pendekatan berbeda.

Peta tersebut dirancang agar perbandingan luas daratan di permukaan Bumi terlihat lebih proporsional.

Afrika, misalnya, tampil dengan ukuran yang jauh lebih mendekati luas sebenarnya.

Sementara Amerika Serikat dan wilayah-wilayah di lintang tinggi tidak lagi terlihat sebesar pada peta Mercator.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Togo, Robert Dussey menilai, persoalan peta bukan hanya berkaitan dengan teknik menggambar permukaan Bumi.

Menurutnya, peta juga memengaruhi cara manusia memahami posisi dan ukuran berbagai wilayah di dunia.

Ia berpendapat, penggunaan peta yang selama ini mendominasi dapat membentuk persepsi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas geografis.

Terutama mengenai ukuran Afrika dan kawasan lain yang berada di sekitar khatulistiwa.

Bagi Togo, perubahan tersebut berkaitan dengan upaya menghadirkan gambaran dunia yang lebih proporsional.

Namun, tidak semua negara menyambut gagasan tersebut.

Amerika Serikat menilai resolusi itu sebagai proyek yang bersifat ideologis dan berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan internasional yang dianggap lebih mendesak.

Perbedaan pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada satu jenis peta yang sempurna untuk semua kebutuhan.

Peta Mercator tetap memiliki fungsi penting dalam navigasi karena mampu mempertahankan arah dengan baik.

Sementara Equal Earth lebih sesuai ketika tujuan utamanya adalah membandingkan luas wilayah secara lebih realistis.

Dengan kata lain, perubahan yang didorong PBB bukan berarti peta Mercator harus ditinggalkan sepenuhnya.

Penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Di bidang pendidikan, misalnya, representasi Bumi dalam bentuk globe tetap menjadi cara paling sederhana untuk memperlihatkan bentuk planet secara menyeluruh.

Globe tidak harus mengubah permukaan Bumi menjadi bidang datar sehingga dapat mengurangi jenis distorsi yang muncul dalam peta dua dimensi.

Resolusi PBB tersebut pada akhirnya bukan sekadar tentang mengganti gambar peta yang selama ini dikenal masyarakat.

Lebih jauh, perdebatan itu mengingatkan bahwa setiap peta merupakan hasil pilihan teknis mengenai aspek mana yang ingin dipertahankan dan aspek mana yang harus dikorbankan.

Dengan dukungan mayoritas negara anggota PBB, Equal Earth kini mendapat dorongan lebih besar untuk digunakan dalam konteks yang membutuhkan perbandingan luas wilayah secara lebih akurat.

Sementara itu, perdebatan dengan Amerika Serikat menunjukkan bahwa persoalan bagaimana dunia digambarkan ternyata tidak hanya menyangkut kartografi.

Tetapi juga cara manusia membangun persepsi tentang planet yang ditinggalinya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.