TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di media sosial, sesuatu yang ramai hari ini bisa dengan cepat tergantikan oleh topik lain esok hari. Bagi seorang content creator, perubahan itu membuat mempertahankan perhatian audiens menjadi tantangan tersendiri.
Namun, mengikuti apa yang sedang viral bukan selalu menjadi jawaban.
Hal itu pula yang perlahan dipelajari Kurniyawan N. Said selama menjalani perjalanan sebagai kreator di TikTok.
Perubahan tersebut tidak terjadi dalam semalam.
Ada proses panjang ketika ia mencoba memahami apa yang ingin dibicarakan, bagaimana audiens merespons, sekaligus seperti apa konten yang ingin ia tinggalkan melalui akun yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.
“Sekarang saya lebih banyak membahas hal-hal yang memang sedang ramai dan menurut saya layak untuk diketahui. Saya mencoba menyampaikannya dengan cara yang sederhana supaya orang bisa mengikuti pembahasannya dengan mudah,” ujar Kurniyawan dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Baginya, kata “layak” menjadi penting.
Sebab, sebuah isu yang ramai di media sosial belum tentu langsung menjadi bahan konten. Kurniyawan biasanya memulai dari rasa ingin tahu terhadap percakapan yang sedang berlangsung di X maupun TikTok.
Proses tersebut dilakukan sebelum sebuah topik akhirnya masuk ke dalam daftar konten yang akan dibuat.
“Saya biasanya lihat dulu apa yang sedang ramai di X dan TikTok. Setelah menemukan topik yang menarik, saya cek lagi informasinya ke beberapa media supaya yang saya sampaikan memang punya sumber yang jelas,” katanya pria asal Maluku Utara ini.
Dengan kebiasaan tersebut, viral menjadi semacam pintu masuk untuk menemukan cerita, bukan tujuan akhir dari konten.
Ada kalanya sebuah isu menarik perhatian karena sedang ramai dibicarakan. Namun, Kurniyawan tetap melihat apakah isu tersebut memiliki informasi yang cukup untuk dijelaskan dan apakah pembahasannya memang bermanfaat bagi penonton.
Informasi yang telah diperiksa kemudian dirangkum menjadi pembahasan yang lebih sederhana. Format talking head menjadi salah satu cara yang dipilihnya untuk menyampaikan cerita tersebut secara langsung kepada audiens.
Dari Komedi hingga Menemukan Ketertarikan Baru
Perjalanan Kurniyawan sebagai kreator justru bermula dari sesuatu yang berbeda.
Ia dikenal lewat karakter “Nanno Indonesia” dengan konten bernuansa komedi. Dari sana, ia membangun audiens sekaligus belajar mengenai bagaimana sebuah konten dapat diterima di media sosial.
Seiring waktu, ketertarikannya terhadap kasus dan isu yang sedang menjadi perhatian publik semakin besar.
Ia mulai melihat bahwa ada jenis pembahasan lain yang ingin ia eksplorasi. Respons audiens terhadap konten mengenai isu hangat kemudian ikut memberikan petunjuk mengenai arah yang bisa dikembangkan.
Perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan perkembangan TikTok dan kebiasaan penggunanya.
Sejak mulai aktif sebagai kreator pada periode awal perkembangan TikTok, Kurniyawan melihat bagaimana cara orang menikmati video ikut berubah. Format, durasi, hingga jenis percakapan yang menarik perhatian audiens terus bergerak.
Ia pun ikut berubah. Bukan berarti karakter komedi yang membesarkan namanya ditinggalkan sepenuhnya. Hingga kini, Kurniyawan masih membuat konten komedi. Hanya saja, porsinya disesuaikan dengan arah akun yang kini mulai terbentuk.
Memasuki tahun keenam mengelola akunnya, ia melihat perjalanan tersebut sebagai proses menemukan identitas.
Dari seorang kreator yang dikenal melalui satu karakter, Kurniyawan perlahan membangun ruang yang lebih luas untuk membicarakan hal-hal yang menurutnya menarik dan penting untuk diketahui.
Audiens pun menjadi bagian dari proses tersebut.
Ia mengamati apa yang mereka perhatikan, membaca respons mereka, kemudian menjadikannya sebagai salah satu pertimbangan untuk menentukan arah berikutnya.
Bukan sekadar mencari cara agar sebuah video ramai, tetapi memahami mengapa sebuah topik menarik perhatian dan apa yang bisa diberikan kepada penonton.
Pada akhirnya, perjalanan Kurniyawan memperlihatkan bahwa menjadi kreator tidak selalu berarti mempertahankan satu persona selamanya.
Ada ruang untuk berubah, mencoba hal baru, bahkan meninggalkan formula yang sebelumnya berhasil.
Bagi Kurniyawan, perubahan itu justru menjadi bagian dari proses belajar.
“Jangan takut berubah, apalagi kalau perubahan itu membuat kita lebih bermanfaat bagi orang lain. Saya sendiri masih suka komedi, tapi saya juga ingin akun ini bisa berkembang ke arah yang lebih berarti. Karena pada dasarnya menjadi kreator berarti harus siap untuk terus belajar dan tergerak untuk memberikan sesuatu yang berguna bagi penonton,” pungkasnya.
(Eko Sutriyanto)