Gaza Kembali Berdarah, Israel Bunuh Dua Warga, 5.000 Orang Kehilangan Anggota Tubuh
Ansari Hasyim September 09, 2026 01:03 AM

 

SERAMBINEWS.COM - Serangan Israel kembali menelan korban jiwa di Jalur Gaza. Sedikitnya dua warga Palestina tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam serangkaian serangan yang berlangsung di tengah gencatan senjata.

Di saat korban terus berjatuhan, Kementerian Kesehatan Gaza mengungkap dampak mengerikan perang yang telah berlangsung sejak Oktober 2023. Sekitar 5.000 warga Palestina dilaporkan harus menjalani amputasi, sementara 10.000 pasien lainnya membutuhkan rehabilitasi intensif dan jangka panjang.

Salah satu korban terbaru adalah seorang pria Palestina berusia 69 tahun. Ia meninggal akibat luka yang dideritanya setelah pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah tenda-tenda pengungsi di barat daya Khan Yunis. Seorang warga lainnya terluka dalam serangan tersebut.

Baca juga: Mantan Bos Intelijen Ingatkan Israel Bisa Menuju “Akhir Proyek Zionis” Jika Perang Terus Berlanjut

Korban kedua meninggal akibat luka yang diderita dalam serangan pesawat nirawak Israel di sebelah barat Khan Yunis pada Jumat lalu.

Di Gaza utara, seorang warga Palestina juga dilaporkan mengalami luka sedang setelah tembakan artileri Israel menghantam sebuah rumah di kawasan Al-Faluja, sebelah barat kamp pengungsi Jabaliya.

1.355 Tewas Sejak Gencatan Senjata

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan rumah sakit dalam 24 jam terakhir kembali menerima korban dari berbagai serangan. Korban tersebut mencakup warga yang tewas dalam serangan terbaru, meninggal akibat luka lama, serta jenazah yang baru ditemukan dari lokasi serangan sebelumnya.

Mengutip data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, Al Mayadeen melaporkan 1.355 warga Palestina tewas dan 4.516 lainnya terluka sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025. Sebanyak 827 jenazah juga telah ditemukan dalam periode tersebut.

Sementara sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai 73.662 orang, sedangkan 174.627 lainnya mengalami luka-luka.

Pasukan Israel Disebut Bergerak Melewati Yellow Line

Ketegangan juga meningkat di Gaza tengah. Sejumlah kendaraan militer Israel dilaporkan bergerak dari wilayah timur Deir al-Balah menuju kawasan Abu al-Ajin.

Menurut kesaksian warga dan sumber lokal, pergerakan tersebut disertai tembakan senjata berat dan bombardir artileri.

Kendaraan militer Israel, termasuk sebuah buldoser, dilaporkan bergerak puluhan meter ke sebelah barat Yellow Line, garis yang menjadi batas penempatan pasukan Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata.

Setelah melewati garis tersebut, kendaraan militer dilaporkan mulai melakukan aktivitas pembuldoseran terhadap lahan milik warga Palestina.

Insiden itu menambah panjang laporan mengenai operasi dan serangan Israel di luar wilayah yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata.

Sehari sebelumnya, tiga warga Palestina dilaporkan tewas setelah pasukan Israel menyerang sebuah sepeda motor di Khan Yunis.

Meski gencatan senjata diberlakukan, serangan Israel disebut masih berlangsung di sejumlah wilayah Gaza melalui serangan udara, drone, artileri, maupun tembakan langsung.

5.000 Warga Gaza Kehilangan Anggota Tubuh

Di tengah berlanjutnya kekerasan, Kementerian Kesehatan Gaza mengungkap gambaran lain dari kehancuran akibat perang.

Dalam pernyataan memperingati Hari Fisioterapi Sedunia, kementerian menyebut sekitar 5.000 kasus amputasi telah tercatat di Gaza.

Selain itu, sekitar 300 warga Palestina mengalami cedera saraf dan tulang belakang, sementara 10.000 pasien membutuhkan layanan rehabilitasi intensif dalam jangka panjang.

Kementerian menyebut fisioterapi dan rehabilitasi medis kini menjadi "garis hidup" bagi ribuan korban luka sekaligus menjadi pertahanan pertama untuk mencegah kecacatan permanen.

Namun, layanan tersebut menghadapi hambatan besar. Serangan terhadap infrastruktur kesehatan Gaza membuat sebagian besar pusat rehabilitasi khusus tidak lagi dapat beroperasi.

Kelangkaan obat dan peralatan medis, kaki dan tangan prostetik, serta berbagai alat bantu semakin memperburuk kondisi para penyintas yang mengalami cedera permanen.

Pembatasan terhadap warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis di luar Gaza juga membuat banyak pasien kesulitan memperoleh pengobatan yang tidak tersedia di dalam wilayah tersebut.

Kementerian Kesehatan Gaza mendesak badan-badan PBB dan organisasi internasional segera memfasilitasi masuknya peralatan rehabilitasi, obat-obatan, anggota tubuh prostetik, dan alat bantu medis.

Mereka juga menyerukan pembukaan jalur penyeberangan bagi pasien yang membutuhkan rehabilitasi lanjutan serta pemasangan prostetik canggih yang tidak tersedia di Gaza.

Di tengah kehancuran yang terus berlangsung, ribuan warga Gaza kini bukan hanya kehilangan rumah dan keluarga, tetapi juga anggota tubuh dan kemampuan untuk menjalani kehidupan secara normal.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.