TRIBUNNEWSBOGOR.COM — Istri jurnalis yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau rupanya sempat melarang suami untuk pergi meliput.
Mereka berangkat menggunakan Kapal Cepat Arupadhatu 1 untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Senin (7/9/2026).
Rupanya sebelum pergi, Bagus sempat dilarang istrinya karena khawatir.
Ayah Bagus, Mansyur Suryana, mengatakan istrinya, Desi Purnamasari, sempat meminta Bagus tidak berangkat.
Namun, saat itu Bagus tidak mendengarkan permintaan sang istri.
Bagus pun akhirnya tetap berangkat setelah mendapat ajakan dari rekan-rekannya sesama Pewarta Foto Indonesia (PFI).
"Semoga ada segera ditemukan dalam kondisi selamat, keluarga terus berdoa," kata Mansyur kepada wartawan, Selasa (8/9/2026).
Menurut Mansyur, Bagus meminta izin kepada istrinya untuk pulang pada malam hari dan tidak menginap.
"Ijin ke istri pulang malam, engga menginap. Sampai sekarang di kontak gak aktif, di WA ceklis satu," kata Mansyur.
Bahkan saat berada di atas kapal sebelum hilang kontak, Bagus masih sempat berkomunikasi dengan istrinya.
Mansyur mengatakan, kontak terakhir Bagus dengan istrinya terjadi pada Senin siang.
Saat itu, Bagus sempat mengirimkan foto dirinya bersama empat rekannya di atas kapal. "Terkahir kontak sama istrinya itu kemarin siang. Dia ngirim foto lagi diatas kapal bersama 4 rekannya," ujar Mansyur.
Pesan terakhir guide
Rombongan jurnalis yang berada di dalam kapal dan hilang kontak saat meliput Gunung Anak Krakatau ternyata masih sempat memberikan informasi kepada keluarga.
Pesan terakhir itu disampaikan oleh guide yang ikut dalam kapal kepada istrinya pada Senin (7/9/2026) sore.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima Basarnas, istri guide tersebut menjadi pihak yang terakhir mengetahui keberadaan rombongan sebelum kapal hilang kontak.
"Informasi yang kami dapat terakhir dari istri guide yang ikut serta di kapal tersebut, pada pukul 18.13 WIB kemarin itu mereka sudah di posisi di sekitaran Anak Gunung Krakatau," kata Al Amrad, Selasa (8/9/2026).
Informasi tersebut menjadi salah satu petunjuk bagi tim SAR gabungan dalam melakukan pencarian terhadap kapal yang membawa tujuh orang di perairan Selat Sunda.
Kapal tersebut diketahui membawa lima jurnalis, satu guide/nakhoda dan satu anak buah kapal (ABK).
Kelima jurnalis yang telah teridentifikasi yakni:
Baca juga: Isi Chat Jurnalis Sebelum Hilang Kontak Saat Meliput Gunung Anak Krakatau, Terungkap Posisi Terakir
Berangkat dari Carita
Kapal yang ditumpangi rombongan jurnalis tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Mereka berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk keperluan peliputan.
Sebelum informasi terakhir diterima istri guide pada pukul 18.13 WIB, rombongan juga sempat berkomunikasi dengan seorang jurnalis di Lampung.
Berdasarkan data yang dihimpun Basarnas, komunikasi tersebut terjadi pada pukul 14.42 WIB.
Saat itu, salah satu penumpang melaporkan posisi kapal kepada seorang jurnalis di Lampung bernama Abay.
"Pada pukul 14.42 WIB itu sempat mereka melaporkan ke rekan jurnalis yang dari Lampung," ujar Al Amrad.
Dalam komunikasi tersebut, rombongan menyampaikan bahwa posisi mereka berada di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau.
"Mereka itu di posisi antara Carita dan Anak Gunung Krakatau, setelah itu dihubungi kembali sudah lost contact," katanya.
Namun, informasi terbaru dari istri guide menunjukkan bahwa pada pukul 18.13 WIB posisi rombongan sudah berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Setelah itu, keberadaan kapal tersebut tidak lagi diketahui.
Baca juga: Detik-detik Kapal Rombongan Jurnalis Hilang Kontak Saat Meliput Gunung Anak Krakatau, Sempat Chat
Basarnas Terima Laporan Kapal Hilang Kontak
Kantor SAR Banten menerima laporan awal terkait kapal hilang kontak pada Selasa (8/9/2026) pukul 13.55 WIB.
"Kami menerima laporan awal kejadian kecelakaan kapal hilang kontak pada Selasa pukul 13.55 WIB," kata Al Amrad.
Basarnas kemudian mengerahkan tim SAR gabungan untuk melakukan pencarian di wilayah perairan Selat Sunda.
Titik koordinat komunikasi yang dihimpun Basarnas berada di 6°14'40.52"S 105°40'49.48"E, atau sekitar 9,98 mil laut dari titik referensi pencarian.
Tim melakukan penyisiran dari titik koordinat terakhir komunikasi menuju sejumlah wilayah dan pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau.
https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t