Kisah Penumpang Pesawat Menunggu Penerbangan, Tiga Malam Tidur di Ruang Tunggu Soekarno Hatta
Hendra September 09, 2026 10:03 AM

BANGKAPOS.COM, JAKARTA, - Penutupan Bandara Internasional Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membuat perjalanan sejumlah penumpang berubah menjadi perjuangan panjang. 

Ada yang bertahan berhari-hari di ruang tunggu demi menghemat biaya, sementara lainnya memilih meninggalkan pesawat dan menempuh perjalanan laut darat hingga belasan jam. 

Mariyati (50), warga Lampung, terpaksa menghabiskan beberapa malam di Terminal 1B Soekarno-Hatta setelah penerbangan lanjutan menuju Banjarmasin dibatalkan. 

Ia tiba di bandara pada Minggu dini hari setelah berangkat dari Lampung pada Sabtu malam bersama anak dan cucunya. 

Rencana melanjutkan perjalanan ke Kalimantan tertunda setelah abu vulkanik Anak Krakatau mengganggu operasional penerbangan. 

“Di sini udah mau empat hari, dari Sabtu malam saya berangkat, sampai sini (bandara) jam 02.00 WIB subuh sampai sini,” ujar Mariyati, Selasa (8/9). 

Baru pertama kali berada di Soekarno-Hatta, Mariyati mengaku tidak mengetahui tempat menginap di sekitar bandara.

Biaya hotel juga menjadi pertimbangan karena belum ada kepastian kapan penerbangan kembali normal.

“Enggak tahu, saya baru kali ini yang ke sini jadi enggak tahu saya mau nginap di mana. Di sini aja di bandara paling mudah,” katanya. 

Ruang tunggu pun menjadi tempatnya beristirahat. Ia tidur di kursi dan berulang kali mendatangi petugas untuk memastikan jadwal keberangkatan. Ketidakpastian membuatnya cemas karena khawatir penerbangan kembali dibatalkan. 

“Aduh rasanya deg-degan rasanya. Kapan bisanya? Bisa enggak berangkatnya, kata saya. Nanti dibatalkan lagi kata saya, sudah capek,” ujarnya. 

Keterbatasan uang juga membuat kebutuhan makan menjadi persoalan. Harga makanan di terminal membuat Mariyati sempat memilih tidak makan sebelum berjalan kaki keluar kawasan bandara mencari makanan yang lebih murah. 

“Pertamanya ya saya enggak makan, diam saja di sini, kalau di sini mahal,” tuturnya.

Kelelahan bahkan membuatnya sempat marah kepada petugas pada Senin. Kondisi sedikit terbantu setelah seorang polisi menawarkan mengantar anak Mariyati mencari makanan di luar terminal. 

Setelah Soekarno-Hatta kembali dibuka pada Selasa pukul 00.00 WIB, Mariyati mendapat tiket baru. 

Ia berharap perjalanan menuju Banjarmasin benar-benar bisa dilanjutkan. 

“Jam 13.000 WIB ini, alhamdulillah sudah pasti bisa. Mudah-mudahan lah, jadi keberangkatan hari ini. Enggak ada abu vulkanik lagi, jangan, alhamdulillah,” katanya. 

Jalur Laut-Darat 

Berbeda dengan Mariyati, Fahri dan rekan-rekannya memilih meninggalkan perjalanan udara setelah tertahan di Jakarta. 

Tiket pesawat mereka dikembalikan dan perjalanan ke Bangka dilanjutkan melalui jalur laut-darat Fahri semula dijadwalkan terbang dari Soekarno-Hatta menuju Bandara Depati Amir Pangkalpinang menggunakan Sriwijaya Air pada Minggu pukul 10.50 WIB.

Penerbangan kemudian dijadwal ulang dengan NAM Air pada Senin pukul 16.40 WIB. Karena operasional bandara belum pulih, rombongan membatalkan penerbangan. 

Mereka menyeberang dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni, melanjutkan perjalanan darat menuju Pelabuhan Tanjung Api-api, Sumatera Selatan, lalu menyeberang ke Bangka. 

“Kita memutuskan untuk semua tiket kita refund dan memilih jalur laut dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni,” ujar Fahri di Pelabuhan Tanjung Kalian Mentok, Selasa. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 1416 jam. Setelah tiba di Bangka pada Selasa siang, Fahri masih harus menempuh perjalanan darat sekitar tiga jam menuju Pangkalpinang.

“Lewat darat dan laut kurang lebihnya 14 jam sampai 16 jam,” katanya. 

Selain kehilangan waktu kerja selama dua hingga tiga hari, Fahri tetap mengeluarkan biaya penginapan selama tertahan di Jakarta meski tiket pesawat telah direfund. 

Berangsur Pulih 

Operasional penerbangan mulai pulih pada Selasa. Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama menyatakan delapan bandara terdampak abu vulkanik kembali dibuka, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Radin Inten II, Budiarto, Pondok Cabe, Taufik Kiemas, dan Salakanagara Tanjung Lesung. 

Di Soekarno-Hatta hingga pukul 13.00 WIB tercatat 324 penerbangan beroperasi, terdiri atas 208 keberangkatan dan 116 kedatangan. 

Namun, pemulihan masih bertahap dan sejumlah penerbangan tetap dibatalkan atau dijadwal ulang Bandara Depati Amir juga kembali melayani penerbangan. Sebanyak 18 penerbangan dijadwalkan pada Selasa, terdiri atas 14 penerbangan rute Jakarta-Pangkalpinang dan sebaliknya serta empat penerbangan rute Palembang dan Tanjung Pandan. 

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Depati Amir, Muhammad Haekal, mengatakan pembatalan sebelumnya dilakukan demi keselamatan penumpang dan kru. 

“Pembatalan penerbangan ini dilakukan guna menjaga keselamatan baik penumpang maupun kru pesawat,” kata Haekal. 

Menurut dia, operasional penerbangan tetap bergantung pada aktivitas Gunung Anak Krakatau, kondisi ruang udara, dan Notice to Airmen (NOTAM). 

Sementara itu, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir melakukan paper test dua kali, pukul 07.00 WIB dan 13.00 WIB. Hasil pemeriksaan hingga Selasa siang tidak menemukan debu atau abu vulkanik. 

“Untuk pengamatan debu vulkanik Krakatau di Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir, pada pukul 13.00 sampai 13.30 WIB hasilnya negatif, tidak terdapat debu vulkanik,” kata prakirawan BMKG Nenden Wardani. 

Penerbangan rute Jakarta di Bandara Internasional H AS Hanandjoeddin, Belitung, juga kembali beroperasi setelah sebelumnya dibatalkan pada 6–7 September. 

Pengelola bandara memberikan layanan pemulihan kepada penumpang terdampak berupa minuman, makanan ringan, masker, dan asistensi petugas. 

Pengelola bandara mengimbau calon penumpang tetap memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara. (u2/t2/dol/kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.