Malaysia Waswas, Warga Khawatir Abu Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Internasional
Febri Prasetyo September 09, 2026 10:20 AM

TRIBUNNEWS.COM - Warga Malaysia mulai diliputi kekhawatiran setelah erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, memicu penyebaran abu vulkanik dan mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah.

Kekhawatiran muncul karena abu vulkanik berpotensi terbawa angin melintasi perbatasan dan memasuki wilayah udara Malaysia.

Namun, Departemen Meteorologi Malaysia atau MetMalaysia memastikan risiko abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau mencapai Malaysia saat ini masih rendah.

MetMalaysia menyatakan kondisi angin dan hasil pemantauan terbaru menunjukkan gumpalan abu vulkanik saat ini sebagian besar masih terkonsentrasi di sekitar Selat Sunda dan wilayah Indonesia di sekitarnya.

Dalam laman resminya, Direktur Jenderal MetMalaysia, Dr. Mohd Hisham Mohd Anip, menjelaskan kondisi tersebut membuat kemungkinan abu vulkanik mencapai Malaysia untuk saat ini relatif kecil.

Meski demikian, kondisi tersebut dapat berubah apabila terjadi perubahan arah maupun kecepatan angin. Letusan lanjutan dari Gunung Anak Krakatau juga dapat mengubah pola penyebaran abu vulkanik.

MetMalaysia Pantau Pergerakan Abu Vulkanik

Untuk mengantisipasi kemungkinan abu vulkanik bergerak menuju Malaysia, MetMalaysia terus melakukan pemantauan menggunakan data satelit dan analisis kondisi atmosfer.

Mohd Hisham mengatakan pemantauan juga dilakukan dengan memanfaatkan informasi dari Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) atau Pusat Penasihat Abu Vulkanik yang memantau pergerakan abu dari aktivitas gunung berapi.

Baca juga: Kasus ISPA di Banten Naik Usai Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau, PJJ di Banten sampai 11 September

Data tersebut penting karena abu vulkanik dapat bergerak jauh dari lokasi erupsi apabila terbawa angin pada ketinggian tertentu.

Dengan pemantauan secara berkala, pemerintah Malaysia dapat mengetahui lebih cepat apabila terdapat potensi abu vulkanik memasuki wilayah udara negaranya.

“MetMalaysia akan terus memantau situasi menggunakan data satelit dan analisis atmosfer,” ujar Mohd Hisham, seperti dilaporkan BuletinTV3.

Informasi dari VAAC global juga digunakan untuk mengidentifikasi potensi pergerakan abu menuju wilayah udara Malaysia dan menyampaikan peringatan kepada masyarakat apabila diperlukan.

Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan

Kekhawatiran Malaysia muncul setelah laporan mengenai aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat.

Erupsi tersebut dilaporkan menghasilkan abu vulkanik yang menyebar di sekitar kawasan Selat Sunda. Kondisi itu kemudian berdampak terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah.

Sedikitnya enam bandara dilaporkan menangguhkan operasi penerbangan akibat kondisi yang berkaitan dengan penyebaran abu vulkanik.

Gangguan tersebut tidak hanya berdampak pada penerbangan domestik, tetapi juga sejumlah penerbangan internasional.

Beberapa rute yang terdampak antara lain penerbangan yang menghubungkan Jakarta dengan Kuala Lumpur, Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul/Incheon, Doha, dan Amsterdam.

Kondisi ini menunjukkan bahwa erupsi gunung berapi tidak hanya berdampak terhadap masyarakat yang berada di sekitar gunung, tetapi juga dapat mengganggu sistem transportasi udara dalam wilayah yang lebih luas.

Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat?

Abu vulkanik yang masuk ke mesin jet dapat meleleh akibat suhu tinggi di dalam mesin. Material tersebut kemudian dapat menempel pada komponen mesin dan mengganggu aliran udara.

Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat menyebabkan penurunan kinerja mesin dan meningkatkan risiko keselamatan penerbangan.

Selain mesin, abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang serta berpotensi merusak bagian tertentu pada pesawat.

Karena alasan tersebut, keberadaan abu vulkanik di wilayah udara biasanya menjadi pertimbangan serius bagi otoritas penerbangan dan maskapai sebelum menentukan apakah sebuah penerbangan dapat tetap dilakukan.

Mengantisipasi dampak yang ditimbulkan dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Mohd Hisham mengatakan MetMalaysia akan mengambil langkah lebih lanjut apabila data pemantauan menunjukkan abu vulkanik berpotensi mencapai wilayah udara Malaysia.

Jika terdapat ancaman terhadap penerbangan, MetMalaysia akan mengeluarkan peringatan atau imbauan terkait abu vulkanik kepada Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM), Royal Malaysian Air Force (RMAF), maskapai penerbangan, serta pengelola bandara.

Peringatan tersebut akan menjadi dasar bagi pihak terkait untuk mengambil keputusan mengenai operasional penerbangan.

Langkah ini penting karena pergerakan abu vulkanik sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Arah angin dapat berubah sewaktu-waktu sehingga abu yang sebelumnya terkonsentrasi di satu wilayah dapat bergerak menuju kawasan lain.

Kabut di Malaysia Bukan Abu Anak Krakatau

Di tengah kekhawatiran masyarakat, MetMalaysia juga memberikan klarifikasi mengenai kondisi jarak pandang yang menurun di sejumlah wilayah Malaysia.

Mohd Hisham menegaskan bahwa penurunan jarak pandang yang saat ini terjadi, terutama di Sarawak dan sebagian wilayah Semenanjung Malaysia bagian barat, bukan disebabkan oleh abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Kondisi tersebut disebabkan oleh kabut lintas batas. Penjelasan ini penting agar masyarakat tidak langsung mengaitkan setiap kondisi berkabut atau penurunan jarak pandang dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Meski risiko abu vulkanik mencapai Malaysia saat ini masih rendah, MetMalaysia tetap meminta masyarakat dan sektor penerbangan mengikuti informasi resmi.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.