POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Setelah dua hari terhenti akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, penerbangan dari dan menuju Jakarta di Bandara Internasional HAS Hanandjoeddin, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kembali normal pada Selasa (8/9/2026) pagi.
Sebelumnya, beberapa jadwal penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta ke Belitung sempat dibatalkan karena abu vulkanik Anak Krakatau mengganggu lalu lintas udara.
Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama menyatakan ada delapan bandara terdampak abu vulkanik kembali dibuka, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Radin Inten II, Budiarto, Pondok Cabe, Taufik Kiemas, dan Salakanagara Tanjung Lesung.
Di Soekarno-Hatta, pada Selasa (8/9/2026) hingga pukul 13.00 WIB tercatat 324 penerbangan beroperasi, terdiri atas 208 keberangkatan dan 116 kedatangan. Namun, pemulihan masih bertahap dan sejumlah penerbangan tetap dibatalkan atau dijadwal ulang.
General Manager Bandara Internasional H AS Hanandjoeddin, Belitung, Tri Yudi Ansya menyampaikan bahwa kembali beroperasinya penerbangan rute Jakarta menjadi bagian dari upaya pemulihan konektivitas udara dari dan menuju Belitung.
“Kami terus melakukan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dan pemantauan secara berkala untuk memastikan seluruh operasional penerbangan dapat berjalan dengan aman dan lancar,” ujar Tri Yudi kepada Posbelitung.co, Selasa (8/9/2026).
Ia menjelaskan sejak tanggal 6 hingga 7 September, seluruh penerbangan rute Jakarta dibatalkan.
Sehingga Bandara H AS Hanandjoeddin hanya melayani penerbangan rute Bangka dan satu penerbangan Internasional dari Singapura pada Minggu.
Menurutnya manajemen bandara bersama maskapai terus mendampingi penumpang yang datang atay Service Recovery Activation (SRA).
Menurutnya pelaksanaan SRA menjadi prioritas Injourney Airports dalam mewujudkan komitmen pelayanan sepenuh hati dengan mengedepankan aspek keamanan, keselamatan dan kenyamanan para pengguna jasa.
Selain itu juga sebagai bentuk empati manajemen terhadap calon penumpang yang mengalami pembatalan penerbangan.
"Kami telah melaksanakan prosedur SRA melalui pembagian minum, makanan ringan dan masker serta petugas bandara yang selalu siap untuk memberikan asistensi bagi calon penumpang yang terdampak." tegas Tri Yudi.
Ia juga mengimbau kepada seluruh calon penumpang untuk tetap memperhatikan informasi terbaru terkait jadwal dari maskapai masing-masing dan memastikan status penerbangan melalui contact center maskapai ataupun Injourney Airports guna menghindari penumpukan di bandara.
Bandara Depati Amir Bangka juga kembali melayani penerbangan pada Selasa (8/9/2026).
Sebanyak 18 penerbangan dijadwalkan pada Selasa, terdiri atas 14 penerbangan rute Jakarta-Pangkalpinang dan sebaliknya serta empat penerbangan rute Palembang dan Tanjung Pandan.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Depati Amir, Muhammad Haekal, mengatakan pembatalan sebelumnya dilakukan demi keselamatan penumpang dan kru.
“Pembatalan penerbangan ini dilakukan guna menjaga keselamatan baik penumpang maupun kru pesawat,” kata Haekal.
Menurut dia, operasional penerbangan tetap bergantung pada aktivitas Gunung Anak Krakatau, kondisi ruang udara, dan Notice to Airmen (NOTAM).
Sementara itu, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir melakukan paper test dua kali, pukul 07.00 WIB dan 13.00 WIB. Hasil pemeriksaan hingga Selasa siang tidak menemukan debu atau abu vulkanik.
“Untuk pengamatan debu vulkanik Krakatau di Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir, pada pukul 13.00 sampai 13.30 WIB hasilnya negatif, tidak terdapat debu vulkanik,” kata prakirawan BMKG Nenden Wardani.
Penerbangan rute Jakarta di Bandara Internasional H AS Hanandjoeddin, Belitung, juga kembali beroperasi setelah sebelumnya dibatalkan pada 6–7 September.
Pengelola bandara memberikan layanan pemulihan kepada penumpang terdampak berupa minuman, makanan ringan, masker, dan asistensi petugas.
Pengelola bandara mengimbau calon penumpang tetap memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara.
Penutupan Bandara Internasional Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membuat perjalanan sejumlah penumpang berubah menjadi perjuangan panjang.
Ada yang bertahan berhari-hari di ruang tunggu demi menghemat biaya, sementara lainnya memilih meninggalkan pesawat dan menempuh perjalanan laut-darat hingga belasan jam.
Mariyati (50), warga Lampung, terpaksa menghabiskan beberapa malam di Terminal 1B Soekarno-Hatta setelah penerbangan lanjutan menuju Banjarmasin dibatalkan.
Ia tiba di bandara pada Minggu dini hari setelah berangkat dari Lampung pada Sabtu malam bersama anak dan cucunya.
Rencana melanjutkan perjalanan ke Kalimantan tertunda setelah abu vulkanik Anak Krakatau mengganggu operasional penerbangan.
“Di sini udah mau empat hari, dari Sabtu malam saya berangkat, sampai sini (bandara) jam 02.00 WIB subuh sampai sini,” ujar Mariyati, Selasa (8/9/2026).
Baru pertama kali berada di Soekarno-Hatta, Mariyati mengaku tidak mengetahui tempat menginap di sekitar bandara.
Biaya hotel juga menjadi pertimbangan karena belum ada kepastian kapan penerbangan kembali normal.
“Enggak tahu, saya baru kali ini yang ke sini jadi enggak tahu saya mau nginap di mana. Di sini aja di bandara paling mudah,” katanya.
Ruang tunggu pun menjadi tempatnya beristirahat. Ia tidur di kursi dan berulang kali mendatangi petugas untuk memastikan jadwal keberangkatan.
Ketidakpastian membuatnya cemas karena khawatir penerbangan kembali dibatalkan.
“Aduh rasanya deg-degan rasanya. Kapan bisanya? Bisa enggak berangkatnya, kata saya. Nanti dibatalkan lagi kata saya, sudah capek,” ujarnya.
Keterbatasan uang juga membuat kebutuhan makan menjadi persoalan.
Harga makanan di terminal membuat Mariyati sempat memilih tidak makan sebelum berjalan kaki keluar kawasan bandara mencari makanan yang lebih murah.
“Pertamanya ya saya enggak makan, diam saja di sini, kalau di sini mahal,” tuturnya.
Kelelahan bahkan membuatnya sempat marah kepada petugas pada Senin.
Kondisi sedikit terbantu setelah seorang polisi menawarkan mengantar anak Mariyati mencari makanan di luar terminal.
Setelah Soekarno-Hatta kembali dibuka pada Selasa pukul 00.00 WIB, Mariyati mendapat tiket baru.
Ia berharap perjalanan menuju Banjarmasin benar-benar bisa dilanjutkan.
“Jam 13.000 WIB ini, alhamdulillah sudah pasti bisa. Mudah-mudahan lah, jadi keberangkatan hari ini. Enggak ada abu vulkanik lagi, jangan, alhamdulillah,” katanya.
Berbeda dengan Mariyati, Fahri dan rekan-rekannya memilih meninggalkan perjalanan udara setelah tertahan di Jakarta.
Tiket pesawat mereka dikembalikan dan perjalanan ke Bangka dilanjutkan melalui jalur laut-darat.
Fahri semula dijadwalkan terbang dari Soekarno-Hatta menuju Bandara Depati Amir Pangkalpinang menggunakan Sriwijaya Air pada Minggu pukul 10.50 WIB.
Penerbangan kemudian dijadwal ulang dengan NAM Air pada Senin pukul 16.40 WIB.
Karena operasional bandara belum pulih, rombongan membatalkan penerbangan.
Mereka menyeberang dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni, melanjutkan perjalanan darat menuju Pelabuhan Tanjung Api-api, Sumatera Selatan, lalu menyeberang ke Bangka.
“Kita memutuskan untuk semua tiket kita refund dan memilih jalur laut dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakaheuni,” ujar Fahri di Pelabuhan Tanjung Kalian Mentok, Selasa (8/9/2026).
Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 14–16 jam. Setelah tiba di Bangka pada Selasa siang, Fahri masih harus menempuh perjalanan darat sekitar tiga jam menuju Pangkalpinang.
“Lewat darat dan laut kurang lebihnya 14 jam sampai 16 jam,” katanya.
Selain kehilangan waktu kerja selama dua hingga tiga hari, Fahri tetap mengeluarkan biaya penginapan selama tertahan di Jakarta meski tiket pesawat telah direfund.
Masih Erupsi dan Kabut Tipis Belum Hilang
Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas erupsi pada Selasa (8/9/2026).
Empat letusan tercatat sejak pagi hingga menjelang siang, meski seluruh erupsi tidak terlihat secara visual karena puncak gunung tertutup kabut.
Erupsi terjadi masing-masing pada pukul 05.08, 05.34, 07.49, dan 11.34 WIB.
Letusan pukul 07.49 WIB memiliki amplitudo maksimum 48 milimeter dengan durasi 19 detik, sedangkan erupsi pukul 11.34 WIB mencapai 50 milimeter dan berlangsung 17 detik.
Selain gempa letusan, pemantauan pukul 06.00–12.00 WIB mencatat lima gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 23–59 milimeter, sembilan gempa hybrid 17–45 milimeter, serta satu tremor menerus dengan amplitudo 3–8 milimeter.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan keterbatasan visual tidak berarti aktivitas gunung berhenti. Data kegempaan tetap menjadi acuan utama pemantauan.
“Kalau dari sini memang tidak kelihatan karena tertutup kabut. Data aktivitas dan kegempaan kami mengacu pada hasil pemantauan yang kemudian diteruskan ke sini,” kata Suwarno.
Di sejumlah permukiman terdampak, debu vulkanik tipis masih ditemukan di teras, halaman, dan jalan. Namun, kondisi tersebut tidak selalu menandakan adanya hujan abu baru.
“Abu yang sudah menempel di rumah, pohon atau jalan itu bisa terangkat lagi. Apalagi kalau kena angin atau ada kendaraan lewat sehingga kelihatannya seperti debu turun lagi,” ujarnya.
“Sekarang letusannya agak tinggi. Yang kasar jatuh di tubuhnya, yang halus naik ke atas terbang ke arah mana tergantung angin. Masalahnya sekarang tidak ada hujan. Jadi tidak turun-turun,” kata Surono.
Menurutnya, abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena dapat masuk ke mesin jet dan mengganggu proses pembakaran.
Risiko tersebut menjadi alasan penutupan sementara sejumlah bandara saat abu Anak Krakatau menyebar.
Sementara itu, abu vulkanik pada Senin malam mulai bergerak menjauhi Indonesia menuju barat daya, ke arah Samudera Hindia.
Berdasarkan pemantauan Satelit Himawari 9, pergerakannya menjauh dari Jawa dan Sumatera.
Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Anak Krakatau M Nugraha Kartadinata menyebut aktivitas saat ini berupa erupsi minor yang berlangsung terus-menerus.
“Jadi, sebetulnya ini adalah tremor erupsi, tetapi erupsinya adalah erupsi yang minor, yang lebih kecil, tapi berlangsung terus-menerus,” jelas Nugraha.
BMKG memperkirakan abu bergerak ke selatan-barat daya dengan kecepatan sekitar 15 knot atau 27 kilometer per jam.
Meski sebaran utama mulai menjauh, arah abu tetap bergantung pada perubahan angin sehingga pemantauan terus dilakukan.
Suwarno mengingatkan warga tetap menggunakan masker dan pelindung mata ketika beraktivitas di luar rumah.
Abu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan agar tidak kembali beterbangan. Masyarakat juga dilarang mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer. (Posbelitung.co/dol/u2/t2/dol/Kompas.com)