TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Jumlah titik panas (hotspot) mengalami penurunan signifikan setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Barat.
Berdasarkan data terbaru BMKG Kalbar, tercatat sebanyak 322 titik panas pada periode Selasa, 8 September 2026.
Jumlah tersebut mengalami penurunan drastis dibandingkan data sebelumnya. Pada periode 6 September 2026, tercatat sebanyak 3.197 titik panas, kemudian turun menjadi 1.057 titik pada periode 7 September 2026.
Penurunan jumlah hotspot tersebut terjadi setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Hujan memberikan dampak positif terhadap pembasahan lahan.
• Kapuas Hulu Diguyur Hujan, Kabut Asap Mulai Reda dan Titik Hotspot Karhutla Jadi Nol
Kondisi lahan yang lebih basah turut membantu mengurangi potensi muncul dan meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Selain mengandalkan hujan alami, upaya pengendalian karhutla juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
OMC menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi hujan di wilayah yang membutuhkan tambahan curah hujan, khususnya daerah yang rawan mengalami kekeringan dan karhutla.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) merupakan kegiatan untuk memengaruhi proses pembentukan atau turunnya hujan dengan memanfaatkan kondisi awan yang tersedia.
Dalam pelaksanaannya, teknologi modifikasi cuaca dapat dilakukan dengan menyemai awan menggunakan bahan tertentu melalui pesawat. Tujuannya adalah mendorong pertumbuhan awan dan mempercepat terjadinya hujan di wilayah yang telah ditentukan.
Namun, OMC tidak dapat menciptakan hujan dari langit yang benar-benar tidak memiliki awan. Keberhasilan operasi sangat bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang memenuhi syarat, arah angin, serta faktor cuaca lainnya.
Dalam penanganan karhutla, OMC dilakukan untuk membantu membasahi wilayah rawan kebakaran sehingga kondisi lahan menjadi lebih lembap dan potensi penyebaran api dapat ditekan.
Meski jumlah titik panas di Kalimantan Barat telah mengalami penurunan tajam, kondisi tersebut belum berarti ancaman karhutla telah berakhir.
BMKG masih mengingatkan masyarakat agar tetap waspada karena September 2026 merupakan salah satu periode yang perlu diperhatikan.
Kondisi cuaca yang kembali kering dapat meningkatkan potensi munculnya titik panas, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan vegetasi yang mudah terbakar.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Apabila menemukan titik api atau kebakaran lahan, masyarakat dapat segera melaporkannya kepada petugas terkait agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Kalimantan Barat (Kalbar) merupakan salah satu provinsi di Pulau Kalimantan yang berada di bagian barat Indonesia.
Ibu kota Provinsi Kalimantan Barat adalah Kota Pontianak. Wilayah Kalbar memiliki karakter geografis yang beragam, mulai dari kawasan perkotaan, pesisir, sungai, hutan, hingga kawasan gambut.
Provinsi Kalimantan Barat juga berbatasan langsung dengan Malaysia, tepatnya negara bagian Sarawak di bagian utara. Posisi tersebut menjadikan Kalbar sebagai salah satu wilayah strategis di kawasan perbatasan Indonesia.
Sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Barat memiliki kawasan hutan dan lahan gambut yang cukup luas. Kondisi tersebut membuat pengelolaan lingkungan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu perhatian penting, terutama ketika memasuki periode dengan curah hujan yang lebih rendah.
Selain Pontianak, sejumlah daerah yang berada di Kalimantan Barat antara lain Kubu Raya, Mempawah, Landak, Bengkayang, Singkawang, Sambas, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, Ketapang dan Kayong Utara.
Dengan wilayah yang luas dan karakter geografis yang beragam, perubahan kondisi cuaca di Kalimantan Barat dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor, termasuk lingkungan, transportasi, pertanian, perkebunan dan aktivitas masyarakat.
Penurunan hotspot setelah hujan menjadi perkembangan positif dalam upaya pengendalian karhutla. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan agar kondisi tersebut tidak kembali memburuk apabila cuaca kering kembali terjadi.(*)