TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAPUAS HULU – Kualitas udara di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mulai membaik setelah wilayah tersebut diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, kualitas udara di sejumlah wilayah Kapuas Hulu sempat berada dalam kondisi tidak sehat akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Namun, setelah hujan turun, status kualitas udara di wilayah Kapuas Hulu berubah menjadi sedang berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kapuas Hulu.
Meski demikian, kabut asap masih terlihat di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi Karhutla meskipun kondisi udara mulai membaik.
• Pemerintah Pusat Minta Unsur Pimpinan di Kapuas Hulu Saling Bekerjasama Tangani Puncak Karhutla
Selain membantu memperbaiki kualitas udara, hujan dalam beberapa hari terakhir juga berdampak terhadap kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kapuas Hulu.
Berdasarkan laporan BMKG melalui pemantauan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar NOAA-20, S-NPP, Terra dan Aqua, tidak ditemukan titik hotspot di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu sejak kawasan tersebut diguyur hujan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas Hulu, Gunawan, S.Sos, mengatakan kondisi tersebut menjadi perkembangan positif dalam upaya pengendalian Karhutla.
Meski titik hotspot nihil dan kualitas udara telah membaik, pemerintah daerah bersama lintas sektor tetap melakukan komunikasi dan koordinasi untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali kebakaran.
"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Kapuas Hulu, agar tidak membakar hutan dan lahan, dan terus membantu pemerintah dalam pencegahan dan penanganan Karhutla," ujar Gunawan, Rabu 9 September 2026.
Gunawan mengatakan seluruh pihak terus berupaya melakukan pengendalian, pemadaman, serta pencegahan Karhutla di wilayah Kapuas Hulu.
"Alhamdulillah, semuanya bisa teratasi dengan baik, dan berkat doa seluruh masyarakat Kapuas Hulu, sehingga titik hotspot tidak ditemukan kembali di Bumi Uncak Kapuas, namun tetap selalu antisipasi," ungkapnya.
Sementara itu, berdasarkan prakiraan cuaca BMKG Putussibau pada Rabu (9/9/2026), sejumlah wilayah Kapuas Hulu masih berpotensi mengalami hujan ringan.
Di Kecamatan Putussibau Utara diprakirakan terjadi hujan ringan, sedangkan Bika masih berpotensi mengalami kabut asap.
Embaloh Hilir diprakirakan berkabut asap, Embaloh Hulu hujan ringan, Bunut Hilir udara kabur, Bunut Hulu hujan ringan dan Jongkong udara kabur.
Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi di sejumlah kecamatan lainnya.
Hulu Gurung diprakirakan berkabut asap, Selimbau udara kabur, Semitau udara kabur, Seberuang hujan ringan, Batang Lupar udara kabur, Empanang udara kabur, Badau udara kabur, Silat Hilir udara kabur dan Silat Hulu hujan ringan.
Putussibau Selatan juga diprakirakan mengalami hujan ringan.
Sementara Kalis, Boyan Tanjung, Pengkadan dan Puring Kencana masih berpotensi mengalami kabut asap. Mentebah diprakirakan mengalami udara kabur, sedangkan Suhaid berpotensi hujan ringan.
Prakiraan cuaca tiga hingga lima hari ke depan juga menunjukkan sejumlah kecamatan masih berpotensi mengalami hujan ringan, kabut asap maupun udara kabur.
Karena itu, meski hujan telah membantu menurunkan potensi kebakaran dan memperbaiki kualitas udara, masyarakat tetap diminta menjaga kewaspadaan serta tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan.
Gunawan, S.Sos merupakan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas Hulu.
Dalam sejumlah kegiatan penanggulangan bencana, Gunawan berperan dalam mengoordinasikan kesiapsiagaan, pencegahan, serta penanganan berbagai potensi bencana di wilayah Kapuas Hulu.
Dokumentasi Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu pada 2022 mencatat Gunawan, S.Sos sebagai Kepala Pelaksana BPBD Kapuas Hulu.
Ia antara lain terlibat dalam koordinasi penanganan kebakaran permukiman bersama unsur TNI, Polri, pemadam kebakaran, Tagana, PLN, Pramuka dan unsur terkait lainnya.
Gunawan juga terlibat dalam pembahasan Indeks Ketahanan Daerah (IKD). Dalam kegiatan tersebut, ia menjelaskan bahwa IKD berkaitan dengan indeks kapasitas, kerentanan dan ancaman bencana yang menjadi komponen dalam penyusunan indeks risiko bencana.
Peran BPBD yang dipimpin Kepala Pelaksana tersebut tidak hanya berkaitan dengan penanganan bencana ketika terjadi, tetapi juga mencakup upaya pencegahan, kesiapsiagaan dan koordinasi lintas sektor.
Hal ini penting mengingat Kapuas Hulu memiliki wilayah yang luas dengan potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan serta kebakaran permukiman.
Kabupaten Kapuas Hulu merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang berada di bagian paling timur provinsi tersebut. Ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu adalah Putussibau.
Berdasarkan dokumen pemerintah daerah, Kapuas Hulu memiliki luas sekitar 29.842 kilometer persegi dan terdiri atas 23 kecamatan, 4 kelurahan, 278 desa dan 703 dusun.
Secara geografis, Kapuas Hulu berbatasan dengan Sarawak, Malaysia, di sebelah utara. Di sebelah timur berbatasan dengan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, sementara sebelah selatan berbatasan dengan Kalimantan Tengah serta Kabupaten Sintang dan Melawi. Di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sintang.
Kapuas Hulu memiliki posisi penting dalam sistem tata air Kalimantan Barat karena merupakan wilayah hulu Sungai Kapuas. Kondisi geografisnya terdiri atas kawasan sungai, rawa, danau, perbukitan serta kawasan hutan.
Wilayah ini juga dikenal dengan sebutan Bumi Uncak Kapuas dan memiliki sejumlah kawasan konservasi penting, termasuk kawasan Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Betung Kerihun.
Sebagai wilayah yang luas dan memiliki banyak kawasan hutan serta daerah aliran sungai, Kapuas Hulu menghadapi sejumlah potensi bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, tanah longsor dan Karhutla.
BPBD Kapuas Hulu karena itu memiliki peran penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, melakukan pencegahan bencana, serta mengoordinasikan penanganan bencana bersama pemerintah, TNI, Polri, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu sendiri terus mendorong koordinasi lintas sektor dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Laporan kinerja BPBD juga menegaskan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya.
Dengan membaiknya kualitas udara dan nihilnya titik hotspot setelah hujan, kondisi Kapuas Hulu saat ini menunjukkan perkembangan positif. Namun, kewaspadaan terhadap Karhutla tetap perlu dipertahankan, terutama ketika kondisi cuaca kembali panas dan kering.(*)