KARIMUN, TRIBUNBATAM.id - Suasana pengukuhan pengurus DPC PERPADI (Persatuan Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia) Karimun periode 2026-2031, diwarnai sebuah pertunjukan yang menarik perhatian para tamu undangan.
Sejumlah siswa-siswi SLB Negeri Karimun tampil membawakan pertunjukan musik angklung.
Mengenakan pakaian serba hitam putih, para siswa begitu bersemangat memainkan alat musik tradisional tersebut.
Dengan kompak, mereka membawakan tiga buah lagu di hadapan para tamu undangan. Penampilan tersebut pun mendapat apresiasi berupa tepuk tangan meriah dari para tamu yang hadir.
Namun, di balik penampilan yang terlihat sederhana itu, tersimpan proses panjang yang tidak mudah.
Para siswa SLB Negeri Karimun ternyata telah menjalani latihan angklung selama kurang lebih lima tahun.
Pelatih siswa SLB Negeri Karimun, Jarudin Sinaga, mengatakan proses melatih anak-anak berkebutuhan khusus memiliki tantangan tersendiri.
Menurutnya, seorang pelatih tidak cukup hanya mengajarkan teknik memainkan angklung, tetapi juga harus memahami karakter masing-masing anak.
"Untuk mengontrol anak-anak yang luar biasa dan istimewa ini bukan hal yang mudah. Kita perlu banyak belajar tentang karakter anak dan kita perlu masuk ke dunia mereka supaya mereka paham apa yang kita inginkan," ujar Jarudin, Rabu (9/9/2026).
Ia mengatakan, proses latihan juga dilakukan dengan membangun kolaborasi antarsiswa.
Dengan cara tersebut, para siswa perlahan mulai memahami permainan angklung hingga mampu menunjukkan kemampuan seperti yang terlihat saat ini.
Jarudin menyebut, saat ini sudah ada siswa yang mampu memandu permainan angklung tanpa harus selalu didampingi oleh pelatih.
"Target kami ke depan, anak-anak ini bisa bermain tanpa harus dipandu lagi oleh guru," katanya.
Perjalanan mereka pun tidak berhenti di lingkungan sekolah dan sekitar Kabupaten Karimun.
Kemampuan bermain angklung siswa SLB Negeri Karimun telah membawa mereka tampil di luar daerah. Salah satunya di Kota Batam.
Dalam kegiatan IMT-GT di Batam, para siswa SLB Negeri Karimun dipercaya menjadi pemain utama dalam sebuah acara yang dihadiri tamu undangan dari tiga negara.
Prestasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Sejumlah apresiasi juga telah diterima para siswa, termasuk dari Gubernur Kepulauan Riau serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Apresiasi tersebut di antaranya berupa dukungan perlengkapan dan seragam.
Jarudin menjelaskan, siswa yang tampil dalam pertunjukan angklung tersebut rata-rata berasal dari jenjang SMP hingga SMA, sementara beberapa lainnya masih duduk di tingkat SD.
Dalam proses latihan, tantangan terbesar yang dihadapi bukan sekadar mengajarkan nada dan irama, tetapi bagaimana membuat para siswa memahami situasi dan membangun konsentrasi. Terlebih bagi siswa dengan Down Syndrome maupun tunarungu.
"Terkadang mereka tidak peduli. Mereka hanya bermain sesuai dengan keinginannya dan tidak mengetahui bahwa saat itu sedang serius latihan," tuturnya.
Namun, kondisi tersebut tidak dianggap Jarudin sebagai sebuah hambatan. Sebaliknya, tantangan itu justru menjadi kesempatan untuk membentuk dan mengembangkan karakter para siswa.
"Kita bersyukur, lama-kelamaan mereka semakin paham. Saya pikir tantangan itu bukan sebuah penghambat bagi kami, tetapi merupakan kesempatan untuk mengubah karakter anak," ungkapnya.
Lebih dari sekadar kemampuan bermusik, latihan angklung ternyata juga memberikan perubahan besar terhadap rasa percaya diri para siswa.
Anak-anak yang sebelumnya merasa takut dan malu ketika mengikuti kegiatan di ruang publik, kini mulai berani tampil di hadapan banyak orang.
Bagi Jarudin, tepuk tangan yang terdengar setelah penampilan bukan hanya bentuk apresiasi terhadap sebuah pertunjukan.
Di baliknya, ada perjuangan lima tahun, kesabaran guru dan pelatih, serta keberanian para siswa SLB Negeri Karimun untuk terus berkembang dan menunjukkan bahwa mereka juga mampu berkarya.
Kini, target berikutnya bukan sekadar tampil dengan angklung, tetapi membuat para siswa semakin mandiri hingga mampu memainkan alat musik tersebut tanpa harus selalu dipandu. (TribunBatam.id/Fairozzamani)