BANGKAPOS.COM, BANGKA – Benda kecil itu nyaris tak pernah mendapat perhatian. Bentuknya sederhana, kerap terlepas begitu saja dari botol minuman dan setelah itu berakhir di tempat sampah atau tercecer di lingkungan.
Namun, di tangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung tutup botol plastik justru diberi kesempatan untuk memiliki nilai ekonomi.
Benda yang selama ini dianggap tidak bernilai itu dipotong, dilebur, dipanaskan dan dicetak hingga berubah menjadi gantungan kunci dengan warna serta bentuk yang beragam.
Lebih menarik lagi, hasil dari kreativitas tersebut tidak berhenti sebagai kerajinan tangan. Sebanyak 260 gantungan kunci yang telah terjual menghasilkan Rp2,6 juta dan seluruhnya didonasikan untuk korban bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di sebuah ruang kerja DLH Kabupaten Bangka Selatan, sejumlah pegawai perempuan tampak sibuk memilah tutup botol plastik.
Tangan mereka bergerak cekatan mengambil satu per satu tutup botol dengan beragam warna, kemudian memasukkannya ke dalam wadah tampah yang telah disiapkan.
Tutup botol berwarna-warni itu sebelumnya dikumpulkan dari Bank Sampah Induk. Satu per satu kemudian disikat dan dibersihkan menggunakan tangan terampil para pegawai untuk memastikan tidak ada lagi sisa kotoran yang menempel.
Setelah bersih, tutup botol tersebut dibawa keluar dan dijemur di bawah terik matahari. Hamparan tutup botol berwarna-warni itu dibiarkan hingga benar-benar kering sebelum kembali diproses.
Tutup botol yang telah kering kemudian dipotong-potong menjadi kepingan kecil. Potongan tersebut kembali dipilah dan dimasukkan ke dalam wadah berbeda sesuai warna masing-masing.
Tahap berikutnya menjadi bagian yang paling menarik. Seorang pegawai mulai mengambil kepingan plastik tersebut untuk dilebur menggunakan setrika.
Potongan tutup botol diletakkan di tengah kertas oven atau baking paper. Setrika panas kemudian ditekan perlahan di atasnya hingga kepingan plastik mulai melunak dan menyatu.
Proses peleburan itu membutuhkan waktu hampir lima menit. Selama proses berlangsung, pegawai harus memastikan panas menyebar merata agar plastik dapat melebur dengan sempurna tanpa merusak hasil akhirnya.
Setelah plastik mulai menyatu, potongan plastik dengan warna lain ditambahkan ke dalam leburan. Campuran warna tersebut menjadi penentu tampilan setiap gantungan kunci, mulai dari warna yang senada hingga motif abstrak yang terbentuk secara alami. Saat masih dalam kondisi panas, leburan plastik segera dipindahkan ke dalam cetakan. Dengan menggunakan tangan, plastik tersebut kemudian ditekan dan dipres hingga mengikuti bentuk cetakan yang telah disiapkan.
Tidak semua hasil cetakan langsung sempurna. Bagian tepi yang masih kasar dirapikan kembali sebelum dipasang rantai sebagai pengait. Dari proses panjang tersebut, kepingan-kepingan kecil yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sampah akhirnya berubah menjadi produk yang lebih menarik. Gantungan kunci bertuliskan Mamah Papah DLH atau akronim Mari Menabung Pakai Sampah kemudian dirapikan dan dikemas, siap menjadi suvenir
Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Pertama pada DLH Bangka Selatan, Indra Savitri, mengatakan gagasan tersebut muncul dari keinginan untuk mengurangi sampah plastik yang berpotensi masuk ke lingkungan maupun Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Bermula dari aktivitas Bank Sampah Induk milik DLH Bangka Selatan. Setiap hari, berbagai jenis sampah disetorkan masyarakat, termasuk botol plastik beserta tutupnya yang terkadang masih dalam satu kesatuan. Sebelum Dijual kepada pengepul, sampah tersebut harus melewati proses pemilahan.
Botol dan tutupnya dipisahkan berdasarkan jenis plastik serta kode materialnya. Di tengah proses pemilahan itulah muncul pertanyaan, bagaimana jika tutup botol yang selama ini hanya menjadi bagian dari tumpukan sampah tidak langsung dijual atau dibuang, tetapi diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
“Kami mulai berpikir bagaimana caranya supaya sampah tidak langsung dibuang ke lingkungan, jadi kami coba berinisiatif kami olah menjadi gantungan kunci,” kata dia kepada Bangkapos.com, Rabu (9/9/2026).
Tutup botol yang digunakan bukan sembarang plastik. Pengurus Bank Sampah Induk terlebih dahulu memisahkan material PET dari HDPE, kemudian tutup botol berbahan HDPE dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan gantungan kunci.
Ide tersebut mulai diwujudkan pada akhir Juli 2026. Tidak ada mesin khusus atau peralatan canggih yang digunakan dalam proses pembuatannya. DLH justru memulai dengan belajar dari media sosial.
Mereka melihat video TikTok milik Mang Dian, sosok yang menjadi rujukan dalam pembuatan gantungan kunci berbahan tutup botol plastik.
Tak hanya menonton video tutorial, mereka juga mengikuti siaran langsung ketika proses pembuatan dilakukan. Dari situlah teknik sederhana tersebut dipelajari dan dicoba kembali dengan bahan yang tersedia di Bank Sampah Induk.
“Kami studi tiru, kami ada lihat video TikTok dari namanya Mang Dian, beliau memang pelopor dari pembuatan gantungan kunci itu. Kami melihat-lihat video mereka, kami belajar dari Live TikToknya juga,” beber Indra Savitri.
Percobaan pertama ternyata tidak langsung sempurna. Gantungan kunci memang berhasil dibuat, tetapi ketebalannya masih terlalu tipis dan penggunaan alas ketika menyetrika juga sempat menjadi persoalan.
Mereka kemudian menemukan penggunaan baking paper atau kertas khusus untuk oven sebagai alas dalam proses pemanasan. Peralatan lainnya pun tergolong sederhana, yakni setrika, cutter, gunting serta rantai yang digunakan sebagai pengait gantungan kunci.
Di balik bentuknya yang sederhana, ada proses pemilahan yang tidak bisa dilewatkan. Tidak semua tutup atau jenis plastik dapat digunakan untuk membuat produk tersebut. Indra Savitri menjelaskan, sejauh percobaan yang dilakukan, sebagian besar tutup botol dapat digunakan selama material plastiknya sesuai. Namun, plastik jenis PET bening yang biasanya digunakan pada badan botol tidak dapat dipakai dalam proses pembuatan gantungan kunci.
Bahan yang digunakan terutama plastik jenis High-Density Polyethylene (HDPE) dengan kode 2 dan Polypropylene (PP) dengan kode 5. Tutup botol tersebut kemudian dipotong-potong sebelum melalui proses peleburan dan pencetakan.
Proses pencetakan pun tidak selalu menghasilkan bentuk yang sesuai harapan. Ada kalanya motif yang dihasilkan kurang jelas sehingga bahan harus dilebur kembali dan dicetak ulang.
Justru dari proses berulang itu, mereka menemukan cara untuk menghasilkan warna yang lebih menarik. Warna dapat disesuaikan dengan keinginan pembeli, sementara campuran warna yang dibuat secara acak menghasilkan motif abstrak yang berbeda pada setiap produk.
Sudah Miliki 25 hingga 30 Motif
Kini, gantungan kunci yang dibuat DLH tidak lagi hanya berupa satu bentuk. Ada sekitar 25 hingga 30 pilihan motif yang dapat dibuat, meski tidak seluruh cetakan yang dibeli dapat digunakan.
Tiga set cetakan yang dimiliki terdiri atas bentuk hewan laut, buah dan sayuran. Masing-masing set memiliki delapan bentuk sehingga sedikitnya terdapat 24 bentuk dasar yang tersedia.
Selain itu, DLH juga membuat cetakan khusus berbentuk logo instansi. Pesanan tertentu juga dapat dibuat sesuai permintaan, termasuk dari sisi warna.
“Kami kemarin sempat beli tiga set cetakan, ada yang hewan laut, buah dan sayur, itu satu setnya delapan, berarti kami sekarang punya sekitar 24,” sebutnya.
Produk tersebut mulai dijual pada Agustus 2026. Pemasarannya untuk sementara masih menyasar pegawai Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dan masyarakat. DLH juga membuka pemesanan untuk kebutuhan suvenir.
Masyarakat yang ingin membeli atau memesan gantungan kunci dapat melakukan pemesanan melalui Bank Sampah Induk.
Ada alasan khusus mengapa hasil penjualan awal gantungan kunci tersebut terasa berbeda. Uang yang terkumpul tidak digunakan untuk kepentingan internal, melainkan disalurkan sebagai donasi bagi korban bencana gempa bumi di NTT. Sebanyak sekitar 260 gantungan kunci telah terjual dengan harga Rp10 ribu per buah. Dari penjualan tersebut terkumpul Rp2,6 juta yang kemudian seluruhnya didonasikan.
Di luar produk yang dijual, pegawai DLH juga terkadang membuat atau mendapatkan gantungan kunci tersebut untuk kebutuhan internal. Jika seluruh produksi dihitung, jumlahnya kini telah mendekati 350 buah.
“Untuk yang terjualnya itu sekitar 260 pcs. Kami jual per pcs-nya Rp10.000, jadi total Rp2,6 juta kita donasikan ke NTT,” ucapnya.
Angka tersebut memang belum besar jika dilihat dari nilai rupiahnya. Namun, setiap gantungan kunci membawa cerita tentang sampah yang tidak jadi berakhir sebagai limbah sekaligus bantuan yang dapat mengalir kepada orang lain.
Tiga Kilogram Sampah Tak Lagi Terbuang
Dari sekitar 350 gantungan kunci yang telah diproduksi, DLH memperkirakan sekitar 3 hingga 3,5 kilogram tutup botol plastik telah berhasil diolah. Perhitungan sederhananya, satu gantungan kunci membutuhkan sekitar 10 gram tutup botol plastik. Jumlah tersebut setara dengan sekitar empat hingga lima tutup botol untuk setiap produk.
Dengan demikian, benda-benda kecil yang sebelumnya mungkin hanya berakhir di tempat sampah kini memiliki bentuk baru. Sebagian bahkan berubah menjadi barang yang bisa dibeli, digunakan sebagai suvenir dan sekaligus menghasilkan uang untuk kegiatan sosial.
“Per gantungan kunci itu sekitar 10 gram tutup botol atau sekitar empat sampai lima tutup botol yang terpakai,” jelas Indra Savitri.
Bagi DLH Bangka Selatan, nilai utama program tersebut bukan semata-mata jumlah gantungan kunci yang berhasil dibuat. Ada upaya untuk mengubah cara pandang terhadap sampah, khususnya sampah plastik nonorganik yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki nilai setelah digunakan.
Ke depan, kreativitas tersebut tidak ingin berhenti di lingkungan DLH. Ada rencana agar keterampilan mengolah tutup botol menjadi produk bernilai guna dapat ditularkan kepada masyarakat melalui jaringan bank sampah.
Konsepnya sederhana, yakni sampah yang disetorkan tidak seluruhnya berakhir sebagai barang yang dijual kepada pengepul. Sebagian dapat diolah menjadi produk baru selama memiliki bahan dan jenis plastik yang sesuai.
Langkah itu sekaligus membuka kemungkinan munculnya produk-produk kerajinan lain dari sampah nonorganik. Bank sampah tidak hanya menjadi tempat mengumpulkan dan memilah sampah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bernilai.
“Untuk ke depannya, kami ada rencana ke arah sana. Ilmu ini akan kami tularkan kepada masyarakat dan sekolah-sekolah,” Pungkas Indra Savitri. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)