Pagi Kuliah Kedokteran Sore Latihan, Begini Perjuangan Nabil Loverino di Persebaya U-20
Wiwit Purwanto September 09, 2026 02:05 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Menjadi pemain sepak bola sekaligus mahasiswa kedokteran dijalani Nabil Loverino Misab secara bersamaan. Pagi hingga siang kuliah dan praktikum, sore berlatih bersama Persebaya U-20.

Rutinitas itu membuat hari-hari Nabil terbagi antara ruang kuliah dan lapangan sepak bola. Sebagai mahasiswa baru S1 Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), ia harus mengikuti perkuliahan dan praktikum sebelum berganti aktivitas menjadi pesepak bola pada sore hari.

Bagi Nabil, membagi waktu antara pendidikan dan sepak bola bukan perkara mudah. Namun, ia tidak ingin meninggalkan salah satunya.

Saat ini Nabil memperkuat Persebaya U-20. Pemain yang biasa beroperasi di sayap kanan itu juga dapat dimainkan sebagai penyerang.

Kecintaan Nabil terhadap sepak bola tumbuh sejak berusia sembilan tahun. Awalnya, ia hanya bermain bersama teman-temannya sebelum bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Surabaya.

Baca juga: Welcome! Brajamusti dan The Maident ke Kandang Persebaya, Bonek Bonita Siapkan Sambutan Hangat

Kemampuannya kemudian berkembang hingga membawanya masuk ke Persebaya saat berusia 13 tahun.

“Dari umur 13 sudah masuk Persebaya,” ujar Nabil pada SURYA.co.id, Rabu (9/9/2026).

Sepak Bola dan Kedokteran Jadi Dua Pilihan Nabil

Meski telah menekuni sepak bola sejak usia muda, Nabil tetap diarahkan keluarganya untuk menempuh pendidikan kedokteran.

Pilihan tersebut tidak terlepas dari lingkungan keluarganya yang dekat dengan dunia kesehatan. Ayah Nabil merupakan analis kesehatan. Dua kakaknya berprofesi sebagai dokter, masing-masing dokter spesialis kandungan dan dokter umum. Sementara kakak ketiganya berprofesi sebagai guru.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara sekaligus satu-satunya anak laki-laki, Nabil akhirnya mengikuti arahan keluarga untuk masuk jurusan kedokteran.

“Pertamanya saya juga terpaksa. Tapi lama-lama sudah dijelaskan kalau kedokteran itu enak karena jenjangnya panjang, daripada main bola,” tuturnya.

Seiring waktu, Nabil mulai memahami alasan keluarganya mendorongnya menempuh pendidikan kedokteran. Ia menyadari karier sebagai pesepak bola memiliki batas.

Cedera, kondisi fisik, usia, hingga kesempatan mendapatkan klub dapat memengaruhi panjang pendeknya karier seorang atlet.

“Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang,” katanya.

Kesadaran itu membuat Nabil memilih menjalani keduanya. Sepak bola tetap menjadi aktivitas yang ingin dipertahankannya, sedangkan pendidikan kedokteran dipersiapkan sebagai bekal untuk masa depan.

Jadwal Kuliah Padat, Latihan Tetap Jalan

Tantangan terbesar Nabil kini adalah membagi waktu. Jadwal kuliah yang padat harus disesuaikan dengan latihan dan pertandingan bersama Persebaya U-20.

Ia mulai mengatur waktu belajar agar aktivitas di lapangan tidak membuat kewajiban kuliahnya tertinggal.

“Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu,” ujarnya.

Jadwal latihan yang biasanya berlangsung sore hari cukup membantu Nabil mengatur aktivitasnya. Setelah mengikuti perkuliahan sejak pagi, ia dapat melanjutkan kegiatan dengan berlatih sepak bola.

Dalam waktu dekat, aktivitas Nabil di lapangan juga semakin intensif karena ia dijadwalkan mengikuti pertandingan bersama Persebaya U-20.

Meski begitu, Nabil belum ingin menentukan pilihan antara sepak bola dan kedokteran. Ia masih ingin melihat sejauh mana kedua bidang tersebut dapat berjalan beriringan.

Jika kesempatan bermain hingga level senior terbuka, ia ingin tetap menjalaninya. Namun, pendidikan kedokteran tetap menjadi bagian yang tidak ingin ditinggalkannya.

Bagi Nabil, sepak bola merupakan perjalanan yang telah dimulainya sejak kecil. Sementara kedokteran menjadi pilihan yang kini ia persiapkan untuk masa depan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.