TRIBUNJATIM.COM - Seorang pengemudi ojek online (ojol) perempuan di Surabaya harus menghadapi kenyataan pahit setelah status kesejahteraan keluarganya berubah dalam sistem data pemerintah.
Dewi Anggraini (45), bersama sang suami, Sofyan Amalianto (47), mendadak kehilangan sejumlah bantuan yang sebelumnya mereka terima setelah data keluarganya terlempar dari desil 4 ke kategori masyarakat yang dianggap mampu.
Akibat perubahan data tersebut, status penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan Dewi dinonaktifkan.
Tak hanya itu, anak mereka yang masih duduk di bangku SMA juga terancam kehilangan akses bantuan pendidikan Program Indonesia Pintar (PIP).
Baca juga: Cara Ubah DTSEN Jika Salah Desil Bagi Warga Jawa Timur, Cek Jalur Pengajuan Perbaikan Data
Ironisnya, kondisi ekonomi keluarga pengemudi ojol ini jauh dari gambaran sebagai keluarga sejahtera.
Saat TribunJatim.com mendatangi kediamannya di Kampung Putat Jaya, Surabaya, Dewi dan Sofyan diketahui masih menumpang di rumah mertua.
Pasutri yang memiliki dua anak itu hanya menempati satu kamar bersama anak keduanya yang kini duduk di bangku SMA.
Sementara anak pertama mereka telah menikah dan tinggal terpisah di sebuah rumah kos.
Dewi dan Sofyan sama-sama menggantungkan hidup dari pekerjaan sebagai pengemudi ojol.
Dewi bekerja sebagai mitra Gojek, sedangkan Sofyan menjadi pengemudi Grab.
Penghasilan mereka pun tidak menentu.
Motor matik yang dikendarai Dewi baru saja memasuki gang sempit di kawasan Putat Jaya Sekolahan, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Selasa (8/9/2026) siang.
Dewi kemudian melangkah perlahan menuju rumah mertuanya. Jaket ojol berwarna hijau yang dikenakannya langsung dilempar dan digantungkan pada paku di pagar.
Panasnya siang Surabaya terasa semakin menyesakkan.
Bukan hanya karena cuaca, tetapi juga karena persoalan data yang kini berdampak langsung pada kehidupan keluarganya.
Baca juga: Dinsos P3A Lumajang Catat Ribuan Usulan Pemutakhiran Desil DTSEN, Begini Syarat dan Prosedurnya
Di rumah tersebut, teras sempit berukuran sekitar 1,5 x 4 meter menjadi ruang multifungsi. Area itu digunakan sebagai ruang tamu, tempat memasak, hingga tempat beristirahat.
"Tak menentu. Kadang sehari bisa dapat Rp 100.000," ucap Dewi sambil menghela napas.
Penghasilan dari jalanan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Namun, Dewi mengaku tak memahami bagaimana sistem pendataan justru menempatkan keluarganya dalam kategori masyarakat sejahtera.
Masalah tersebut bermula ketika Dewi menerima notifikasi melalui aplikasi Mobile JKN di ponselnya.
Ia terkejut saat mengetahui status kepesertaan BPJS Kesehatan PBI miliknya mendadak tidak aktif.
Setelah melakukan pengecekan, Dewi dan suaminya mengetahui bahwa posisi keluarganya dalam pemeringkatan kesejahteraan berubah.
Keluarga yang sebelumnya berada di desil 4, atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah, kini tercatat berada pada desil 6 hingga 10 yang masuk kategori masyarakat lebih mampu.
"Saya kaget dan lemas begitu ada notifikasi kalau BPJS saya tidak aktif lagi. Setelah saya cek, saya tak lagi jadi peserta PBI. Yang paling saya tidak terima, BPJS PBI lenyap. Bagaimana ini pendataannya?" protes Dewi dengan suara bergetar.
Baca juga: Sempat Pasrah Bansos Dicabut, Data Desil Rusdiana Malah Pulih Otomatis Tanpa Sanggah
Perubahan status tersebut langsung berdampak pada sejumlah bantuan yang selama ini menopang kebutuhan keluarganya.
Selain kehilangan status PBI BPJS Kesehatan, anak Dewi yang kini duduk di bangku SMA juga tak lagi bisa menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).
Status keluarga mereka yang tak lagi masuk kategori Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Surabaya membuat akses terhadap program bantuan pendidikan ikut terdampak.
Padahal, bantuan tersebut selama ini sangat dibutuhkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya, termasuk biaya seragam dan jahit seragam di SMA Negeri tempat sang anak bersekolah.
Situasi Dewi semakin berat karena ia juga harus tetap bekerja di tengah kondisi fisik yang tidak sepenuhnya prima.
Ia mengaku berjuang melawan penyakit hipotiroid hingga pengapuran tulang pada kaki. Meski demikian, Dewi tetap menarik ojek demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Jaket ojol yang digunakannya dibiarkan menggantung di tiang teras, berhimpitan dengan berbagai peralatan dapur.
Dewi mengaku tetap bekerja meski kakinya kerap terasa sakit. Ia memaksakan diri tetap berada di atas motor demi mencari penghasilan dan melunasi sisa cicilan kendaraan yang menjadi modal utamanya mencari nafkah.
"Saya dulu gali lubang tutup lubang hingga pinjol (pinjaman online). Saya kapok. Sekarang tinggal cicilan motor saja dan biaya satu anak sekolah SMA," akunya.
Dewi mengaku sebelumnya sempat terlilit utang demi memenuhi kebutuhan pokok keluarga.
Ia bahkan terpaksa mengandalkan pinjaman sambil tetap bekerja sebagai pengemudi ojol untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli seragam sekolah anaknya.
Kisah Dewi dan Sofyan menjadi gambaran persoalan akurasi data kesejahteraan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Dua pengemudi ojol dengan pendapatan harian yang tidak menentu, masih menumpang di rumah mertua, serta hidup dalam keterbatasan, justru tercatat sebagai keluarga yang dinilai lebih sejahtera.
Perubahan status dalam sistem data tersebut membuat akses keluarga Dewi terhadap jaminan kesehatan dan bantuan pendidikan ikut terhenti.
Kini, di tengah aktivitasnya mengantar penumpang dan pesanan di jalanan Surabaya, Dewi tidak hanya mengejar pendapatan harian.
Ia juga berharap data keluarganya dapat kembali menggambarkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
"Kapan saya kembali di desil yang riil, yang sebenarnya," harap Dewi. (Nuraini Faiq)