BANJARMASINPOST.CO.ID - Kasus kepala sekolah dan guru SD yang viral karena video hubungan intim berdurasi 21 detik beredar.
Ternyata, kelakuan keduanya sudah lama dicurigai. Kecurigaan yang awalnya hanya berupa bisik-bisik di lingkungan sekolah akhirnya berubah menjadi persoalan serius.
Diketahui, kepala sekolah dan seorang guru perempuan di sebuah SD di Desa Langkap, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, diduga terlibat hubungan terlarang di lingkungan sekolah.
Perilaku keduanya mulai dicurigai setelah mereka disebut kerap berada berdua di sekolah meski kegiatan belajar mengajar telah selesai.
Pintu ruangan yang sering tertutup semakin membuat warga bertanya-tanya.
Kecurigaan itu akhirnya mendorong komite sekolah dan warga mengambil langkah tak biasa. Sebuah kamera CCTV portabel dipasang secara tersembunyi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan tersebut.
Baca juga: Hibahkan Harta Gono Gini, Audi Marissa dan Anthony Xie Bikin Kaget Dewi Perssik: Termasuk Rumah
Dari situlah dugaan perilaku asusila keduanya akhirnya terungkap.
Tokoh masyarakat Desa Langkap, Saim (46), mengungkap fakta yang membuat kasus tersebut semakin menjadi perhatian.
Menurutnya, dugaan hubungan terlarang itu bukan peristiwa yang terjadi satu kali.
Saim bahkan menyebut aktivitas keduanya diduga berlangsung berulang dan memiliki waktu tertentu.
"Ya sangat, sangat gereget sekali, karena apa? Itu dilakukan bukan hanya sekali. Bahkan itu sudah menjadi kegiatan rutinitas yang dilakukan setiap hari Rabu dan hari Sabtu," kata Saim dikutip TribunTrends dari Kompas.com, Rabu (9/9/2026).
Pernyataan tersebut membuat kecurigaan warga yang sebelumnya hanya berupa dugaan semakin serius.
Sebab, keduanya disebut memiliki kesempatan untuk bertemu secara rutin setelah aktivitas sekolah berakhir.
Yang lebih mengejutkan, keberadaan keduanya secara berduaan di sekolah ternyata bukan hanya diketahui warga.
Menurut Saim, sejumlah pihak di lingkungan sekolah bahkan disebut pernah memergoki kepala sekolah dan guru tersebut berada berdua.
Mulai dari guru, siswa, hingga wali murid disebut pernah melihat keduanya berada di sekolah di luar jam kegiatan belajar.
Namun, ketika mendapatkan teguran, keduanya disebut mengelak.
"Sempat kepergok dengan guru, sempat kepergok dengan wali murid. Ketika ditegur itu mengelak. Makanya dari komite sekolah ada inisiatif memasang CCTV itu untuk bisa mengambil bukti apa yang dilakukan," ujar Saim.
Situasi tersebut membuat keresahan di lingkungan sekolah semakin berkembang.
Komite sekolah akhirnya memutuskan untuk mencari bukti agar dugaan yang beredar tidak berhenti sebagai rumor.
Kamera CCTV tersebut dipasang sekitar akhir Juli 2026.
Perangkat yang digunakan disebut merupakan kamera portabel dengan harga sekitar Rp200.000. Pembeliannya dilakukan secara patungan oleh warga dan komite sekolah.
Namun, cara pemasangannya cukup tersembunyi.
Kamera tersebut hanya berjumlah satu unit dan ditempatkan di bagian atas ruangan, tepatnya memanfaatkan celah atap yang mengalami kerusakan.
Dengan posisi tersebut, kamera dapat memantau kondisi ruangan tanpa diketahui orang-orang yang berada di dalamnya.
"Jadi kebetulan di ruang guru itu ada atap yang jebol. Itu dimanfaatkan untuk menyisipkan CCTV di atasnya. Jadi yang di ruangan itu juga tidak mengetahui bahwa di atas itu ada CCTV," kata Saim.
Pemasangan tersebut dilakukan setelah berbagai dugaan mengenai kedekatan keduanya semakin kuat.
Pemantauan CCTV kemudian membuahkan hasil.
Menurut Saim, komite sekolah menemukan dua rekaman yang memperlihatkan dugaan tindakan asusila kedua oknum ASN tersebut.
Rekaman pertama kemudian beredar di media sosial dan menjadi viral.
Sementara rekaman lainnya disebut masih diamankan karena dinilai lebih sensitif dan dikhawatirkan menimbulkan dampak lebih besar jika tersebar.
"Dari hasil CCTV itu ditemukan dua rekaman berdasarkan kecurigaan komite sekolah. Akhirnya kan memantau setiap hari yang dicurigai. Nah, terjadilah saat itu. Ada kecurigaan, akhirnya dimonitor, ternyata terjadi," ujarnya.
Temuan tersebut sekaligus mengubah dugaan yang sebelumnya hanya menjadi pembicaraan menjadi persoalan yang harus ditangani secara resmi.
Salah seorang warga Langkap yang ikut dalam pemasangan CCTV mengungkap bagaimana kecurigaan itu mulai tumbuh.
Menurut warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, awalnya tidak ada yang merasa curiga.
Namun, pola yang berulang membuat warga mulai memperhatikannya.
Kepala sekolah dan guru tersebut disebut kerap pulang lebih sore dari jadwal sekolah. Bahkan, warga beberapa kali melihat dua sepeda motor masih berada di lingkungan sekolah ketika aktivitas belajar sudah selesai.
"Awalnya enggak curiga. Curiga-curiganya kok sering seperti itu dan pintu tertutup," ujarnya.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, bukan hanya di kalangan warga, tetapi juga di lingkungan sekolah.
Menurut warga tersebut, sejumlah siswa juga mulai mempertanyakan kebiasaan kepala sekolah dan guru itu yang kerap berada di sekolah hingga sore.
Situasi tersebut dinilai tidak semestinya menjadi sesuatu yang diketahui atau dipikirkan oleh para siswa.
"Ini sampai menimbulkan pertanyaan dan imajinasi yang tidak semestinya siswa bayangkan," ujarnya.
Keresahan itulah yang akhirnya mendorong komite sekolah dan warga untuk mencari kepastian.
"Sebenarnya karena keresahan guru dan masyarakat, itu akhirnya timbul inisiatif untuk membongkar perilaku kepala sekolah itu," kata Saim.
Kasus tersebut akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Pekalongan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Kholid, sebelumnya membenarkan bahwa kedua orang dalam rekaman tersebut merupakan kepala sekolah dan guru.
Keduanya juga diketahui telah memiliki rumah tangga masing-masing.
Sebagai tindak lanjut, keduanya kini sudah tidak lagi bertugas di sekolah tersebut.
Kepala sekolah ditempatkan di Dinas Pendidikan, sedangkan guru perempuan tersebut dipindahkan ke sekolah lain.
Kasus yang bermula dari kecurigaan warga ini pun kini menjadi pelajaran pahit bagi lingkungan pendidikan.
Dari pintu ruangan yang sering tertutup, dua sepeda motor yang masih terparkir selepas jam sekolah, hingga sebuah kamera kecil yang diselipkan di balik celah atap semuanya menjadi rangkaian yang akhirnya membuka dugaan perilaku terlarang yang sebelumnya hanya menjadi bahan pembicaraan.
Namun, di balik viralnya kasus tersebut, muncul persoalan lain yang tak kalah penting: bagaimana menjaga lingkungan sekolah tetap menjadi ruang yang aman, profesional, dan pantas bagi para siswa.
(Banjarmasinpost.co.id/Tribuntrends.com)