Erupsi GAK Sebabkan Hasil Tangkapan Nelayan Bandar Lampung Turun hingga 20 Persen
Robertus Didik Budiawan Cahyono September 09, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau turut berdampak terhadap aktivitas nelayan di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung.

Baca juga: Harga Ikan di Pantai Sukaraja Melonjak Akibat Berkurangnya Hasil Tangkapan Nelayan

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bandar Lampung, Ricardo BNW, mengatakan hasil tangkapan nelayan mengalami penurunan sekitar 20 persen dibandingkan kondisi sebelum aktivitas erupsi meningkat.

"Kalau untuk hasil penangkapan, turun sekitar 20 persen dari sebelumnya," kata Ricardo, Rabu (9/9/2026).

Menurut Ricardo, jumlah nelayan yang berada di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung, khususnya Kecamatan Panjang, Telukbetung Timur, Telukbetung Selatan, dan Bumiwaras, mencapai kurang lebih 688 orang.

Dari jumlah itu, tercatat sebanyak 423 nelayan memiliki kapal. Sementara itu sebanyak 154 kapal diketahui tidak melaut.

Kapal lainnya tidak beroperasi karena sejumlah faktor, termasuk sedang menjalani perbaikan. "Jumlah yang punya kapal ada 423, kemudian yang tidak melaut 154 kapal. Sisanya ada yang sedang perbaikan dan lain-lain," ujarnya.

Meski terdapat penurunan hasil tangkapan, Ricardo menyebut kondisi di wilayah perairan Bandar Lampung sejauh ini belum menunjukkan dampak yang signifikan. 

Penurunan hasil tangkapan tersebut turut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi ketersediaan komoditas hasil laut di pasaran.

Kondisi itu kemudian dapat berpengaruh terhadap harga ikan yang mengalami kenaikan di tingkat pedagang.

Namun demikian, Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bandar Lampung hingga kini belum melakukan pemeriksaan maupun pengambilan sampel air laut untuk memastikan kondisi perairan pascaaktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Belum ada pemeriksaan atau pengambilan sampel air laut," ujar Ricardo.

Salah seorang nelayan di Pantai Sukaraja, Sapturi (37), mengatakan aktivitas melaut bersama rekan-rekannya masih dilakukan seperti biasa meski erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.

"Kalau jadwal melaut masih seperti biasa. Kami berangkat sekitar pukul 05.00 WIB, kemudian pulang sore atau malam," kata Sapturi, saat diwawancarai sedang duduk diatas kapalnya, yang telah selesai melaut, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, para nelayan tetap memperhatikan kondisi keselamatan dengan tidak pergi terlalu jauh ke tengah laut.

Dia dan teman-temannya memilih mencari ikan di sekitar perairan pinggiran Teluk Bandar Lampung. 

Sapturi mengatakan lokasi tangkapan mereka tidak berada di jalur yang mengarah ke Gunung Anak Krakatau.

Hal itu karena, kondisi Gunung Anak Krakatau yang sedang erupsi, sehingga membuat dia dan teman-temannya lebih berhati-hati dan memilih untuk tidak mendekati kawasan gunung api itu.

Rasa khawatir, lanjut dia, tetap dirasakan dia dan teman-temannya. Terlebih, abu vulkanik dari aktivitas erupsi dapat mengganggu penglihatan dan kesehatan saat berada di laut.

Untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik, dia dan teman-temannya menggunakan perlengkapan pelindung sederhana seperti masker dan kacamata ketika melaut.

Selain persoalan keselamatan, erupsi Gunung Anak Krakatau juga dirasakan dari sisi hasil tangkapan. Sapturi menyebut jumlah ikan yang diperoleh nelayan mengalami penurunan dibandingkan kondisi normal.

"Biasanya dapat sekitar 10 kilogram, sekarang paling sekitar 7 sampai 8 kilogram sekali melaut," ujarnya.

Penurunan hasil tangkapan itu turut berdampak terhadap pendapatan nelayan. Jika sebelumnya dalam sehari bisa mendapatkan sekitar Rp 50 ribu, kini penghasilan mereka hanya berkisar Rp 30 ribu.

Meski hasil tangkapan menurun, Sapturi menyebut harga jual ikan di pasaran sejauh ini masih relatif stabil dan tidak mengalami perubahan berarti.

Hal serupa disampaikan nelayan lainnya, Jaka (50), yang sehari-hari lebih dikenal dengan sapaan Pak Alim ketika berada di laut.

Jaka mengatakan aktivitas melaut tetap dilakukan sehari setelah erupsi Gunung Anak Krakatau hingga saat ini.

Menurut dia, abu vulkanik sempat terasa mengganggu karena membuat mata pedih dan terasa seperti berpasir.

"Kami tahu dari kabar dan foto yang beredar di HP sesama nelayan kalau gunung mulai mengeluarkan api. Tapi kalau di laut, informasi yang kami dapat terbatas, jadi belum tahu pasti bagaimana kondisi erupsinya," kata Jaka.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat nelayan berhenti mencari ikan. Sebab, penghasilan dari melaut menjadi salah satu sumber utama untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Jaka mengatakan hasil tangkapan nelayan setiap hari tidak dapat dipastikan. Ada kalanya hasil tangkapan cukup banyak, tetapi pada hari tertentu mereka bahkan tidak mendapatkan ikan.

"Kadang dapat banyak, kadang tidak dapat apa-apa. Pernah juga sekali tarik jaring cuma dapat sekitar Rp30.000," ujarnya.

Jaka menjelaskan, aktivitas nelayan di kawasan tersebut juga bergantung pada kerja sama antaranggota atau yang biasa disebut mayang.

Untuk perahu kecil, misalnya, aktivitas menarik perahu dan jaring masih dilakukan secara manual dari pinggir perairan. Satu perahu membutuhkan sekitar delapan hingga 10 orang.

Jumlah tersebut diperlukan agar posisi tenaga tetap seimbang ketika menarik perahu atau jaring, dengan pembagian sekitar empat berbanding empat atau lima berbanding lima di sisi kiri dan kanan.

Sementara untuk sistem perahu tengah, nelayan menggunakan kapal yang lebih besar, dilengkapi mesin serta jaring untuk menebar ikan.

Karena itu, jika jumlah anggota tidak mencukupi, aktivitas melaut bisa terganggu. Nelayan yang tersisa terpaksa membatalkan keberangkatan atau menunggu kesempatan untuk ikut menumpang pada perahu lain.

"Kalau orangnya kurang, ya tidak bisa berangkat. Harus menunggu teman yang lain atau ikut perahu lain," jelasnya.

Jaka sendiri merupakan perantau asal Bengkulu yang kini menggantungkan penghasilan dari pekerjaan sebagai nelayan di Bandar Lampung.

Ia mengaku tidak memiliki kapal sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Jaka bekerja sebagai nelayan lepas dengan ikut melaut menggunakan perahu milik nelayan lain.

Kondisi tersebut membuat penghasilannya sangat bergantung pada hasil tangkapan dan kesempatan untuk ikut melaut.

Sementara terkait isu kelangkaan solar, Jaka menyebut kondisi tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap aktivitas perahu kecil yang digunakannya.

Menurut dia, perahu kecil lebih banyak menggunakan bensin sebagai bahan bakar.

Ketersediaan bensin di kawasan pesisir juga masih relatif mudah karena terdapat sejumlah penjual bahan bakar di sekitar permukiman nelayan.

Dengan kondisi erupsi yang masih berlangsung, para nelayan pun memilih tetap bekerja dengan menyesuaikan jarak melaut dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi di perairan.

Salah seorang pedagang ikan di Pantai Sukaraja, Asnwati (47), mengatakan kenaikan harga terjadi seiring berkurangnya pasokan ikan dari hasil tangkapan nelayan.

Menurutnya, kondisi tersebut turut dipengaruhi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berdampak terhadap aktivitas nelayan di laut.

"Sudah sekitar enam bulan ini harga ikan naik. Hasil tangkapan nelayan juga berkurang, apalagi sekarang ada erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Asnwati, Rabu (9/9/2026).

Ia menjelaskan, berkurangnya hasil tangkapan membuat pasokan ikan yang masuk ke tingkat pedagang menjadi lebih sedikit.

Kondisi tersebut kemudian berdampak pada harga jual kepada konsumen. Untuk ikan kembung, misalnya, saat ini dijual sekitar Rp 60 ribu per kilogram. Padahal, harga normal sebelumnya berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram.

Sementara harga udang kini mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Harga tersebut naik dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram. Kenaikan serupa juga terjadi pada cumi-cumi.

Komoditas tersebut kini dijual sekitar Rp 100 ribu per kilogram, dari harga sebelumnya yang hanya berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram.

Asnwati mengatakan kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual karena pasokan dari nelayan tidak sebanyak sebelumnya. "Kalau tangkapan sedikit, ikan yang masuk juga sedikit. Jadi harganya ikut naik," ujarnya.

Ia berharap kondisi di laut kembali normal sehingga hasil tangkapan nelayan meningkat dan pasokan ikan ke pasar kembali bertambah.

Dengan bertambahnya pasokan, harga komoditas hasil laut diharapkan dapat kembali turun sehingga tidak terlalu membebani masyarakat sebagai konsumen.

Sementara itu, Pemerintah Kota Bandar Lampung mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana mengingatkan warga untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama jika tidak ada keperluan mendesak.

Selain itu, warga diminta melindungi mata dan kulit dengan menggunakan kacamata serta pakaian lengan panjang. Pintu, jendela, dan ventilasi rumah juga dianjurkan ditutup rapat agar abu vulkanik tidak masuk ke dalam hunian.

Pemkot Bandar Lampung mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan mengutamakan kesehatan serta keselamatan selama aktivitas Gunung Anak Krakatau masih meningkat.

(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.