TRIBUNSUMSEL.COM – Di balik terungkapnya pembunuhan sadis terhadap Rani (18) dan adiknya Ayuhana (13) di Banyuasin, menyisakan duka yang teramat mendalam bagi keluarga.
Sang ayah diketahui telah tutup usia dua tahun lalu pada 2024 tanpa sempat mengetahui nasib kedua putri tercintanya yang mendadak hilang sejak 27 Oktober 2021.
Dua kakak beradik remaja itu baru ditemukan 5 tahun kemudian tepatnya pada Minggu (6/9/2026) dalam kondisi sudah menjadi kerangka di rumah kosong perumahan Amanah yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya di Jalan Kebon Jeruk, Kelurahan Keramat Raya, Kabupaten Banyuasin.
Saat diwawancarai TribunSumsel.com, Helmi Nursidah, ibu korban mengungkapkan pengorbanan dan perjuangannya dan sang suami tanpa lelah mencari keberadaan Rani dan Ayuhana.
"Bapak sudah almarhum 2024 menjelang dua tahun sih September ini," ujar Nursidah pada Selasa (7/9/2026).
Tangis Nursidah makin tak terbendung saat mengingat bahwa sang suami hingga akhir hayat tak mengetahui keberadaan dua putrinya yang ternyata sudah menjadi korban pembunuhan.
"Bapaknya meninggal kecelakaan, waktu itu pulang kerja mau balik ke rumah terus kecelakaan," ujarnya tak sanggup menahan tangis.
Baca juga: Berawal Cari Kayu, Kesaksian Otong Temukan Kerangka Kakak-Adik di Banyuasin, Korban Hilang 5 Tahun
Nursidah menceritakan, pada pagi hari tanggal 27 Oktober 2021 lalu, kedua anaknya pamit berangkat sekolah seperti biasa mengendarai sepeda motor.
"Waktu itu mereka lagi mau pergi sekolah jam 06.30 pagi, masih pamitan biasalah langsung pergi kan. Sampai sore tidak ada bayang-bayang di balik itu," kenang Nursidah.
Mengetahui kedua anaknya tak kunjung pulang, almarhum sang ayah langsung bergerak cepat memimpin pencarian bersama warga dan pengurus RT setempat. Sang ayah bahkan telah mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan secara resmi.
Demi menemukan keberadaan Rani dan Ayuhana, almarhum sang ayah bersama warga menyisir berbagai kawasan hingga ke wilayah pemukiman lain.
"Sama-sama pokoknya bapaknya turun keliling sampai-sampai ke Gasing, daerah Gasing Banyuasin, sudah ngelapor ke polisi juga," tuturnya.
Namun, penantian panjang dan perjuangan sang ayah harus terhenti oleh takdir.
Baca juga: Pekerjaan Rendi Pembunuh Kakak Adik di Banyuasin, Sempat Bersumpah, Baru Nikah Sebelum Ditangkap
Sekitar dua tahun lalu, tepatnya pada bulan Juni, sang ayah meninggal dunia.
Hingga hembusan napas terakhirnya, almarhum belum sempat memeluk kembali kedua putrinya, dan mengetahui kenyataan pahit bahwa anak-anaknya telah dihabisi secara keji oleh Rendi, orang yang selama ini mereka kenal dekat.
"Belum tahu," ujar Nursidah mengenang sang suami belum mengetahui dua anaknya tewas dibunuh.
Misteri hilangnya Rani dan Ayuhana baru terkuak pada Minggu (6/9/2026), saat kerangka kedua korban ditemukan di sebuah rumah kosong di Perumahan Amanah, Banyuasin.
Nursidah dipanggil ke TKP untuk memastikan temuan barang bukti berupa tas dan motor.
"Terkejut, kaget karena olehnya belum tahu kan. Pas lihat kejadian kita ngelihat tanda bukti tas di TKP," kata Nursidah.
Tragisnya, pelaku utama pembunuhan tak lain adalah RS alias Rendi Saputra (27), kekasih Rani yang selama bertahun-tahun sangat akrab dan sering bertamu ke rumah korban.
"Memang sering ke rumah, akrab ke rumah. Bahkan sebelum kejadian itu kalau datang istilahnya apel lah, makan minum di rumah," terangnya.
Baca juga: Melihat Lokasi Penemuan 2 Kerangka Kakak-Adik di Banyuasin Tewas Dibunuh, 5 Tahun Baru Terungkap
Nursidah mengungkapkan bahwa Rendi dan rekannya bahkan berpura-pura tenang dan ikut terlibat dalam proses pencarian bersama warga serta almarhum sang ayah.
"Pas hilang itu melok (ikut) nyari juga dia. Yang dikagetkan seluruh warga dan keluarga ini, kita yasinan dia melok yasinan, kita tahlilan melok tahlilan. Seakan tidak terjadi masalah," tegasnya.
Ia menambahkan, kehadiran Rendi di acara pengajian keluarga dilakukan dengan raut wajah tanpa rasa dosa.
"Dia datang cuma duduk bae (saja), melok yasinan. Wajahnya tenang, jadi seolah-olah bukan dia pelakunya," tambah Nursidah.
Saat dipertemukan dengan pelaku di kantor polisi pascapenangkapan, Nursidah mengaku syok berat dan dipenuhi rasa amarah.
"Semalam pas ketemu langsung, dak sadar lagi saya, kepengin ngantam (memukul). Geram sekali karena dia yang dipercaya, tidak menyangka sama sekali," tuturnya.
Atas perbuatan keji para pelaku yang merenggut nyawa kedua anaknya dan menyisakan luka hingga akhir hayat almarhum suaminya, Nursidah menuntut hukuman terberat.
"Bila perlu nyawa balik nyawa, tengkorak pulang tengkorak. Serenjuk itu kan hukuman, bila perlu tambah lagilah hukumannya," tegas Nursidah.
Kasat Reskrim Polres Banyuasin AKP Shandy Kharisma, mengungkapkan bahwa motif pembunuhan sadis ini dipicu rasa sakit hati Rendi lantaran hubungannya dengan Rani tidak direstui keluarga.
"Hubungan keduanya diduga tidak mendapat restu keluarga, sehingga muncul rasa sakit hati dari pelaku RS. Dari rasa sakit hati karena tidak direstui, pelaku dendam hingga berencana melakukan pembunuhan terhadap korban," kata Shandy, Selasa (8/9/2026).
Aksi pembunuhan tersebut telah direncanakan secara matang.
Rendi dan Andika sempat menginap di rumah kosong lokasi eksekusi.
Pada pagi hari, mereka memasang balok kayu di jalan untuk menghadang sepeda motor yang dikendarai Rani dan Ayuhana saat hendak berangkat sekolah.
"Korban Ayu berusaha melarikan diri, akan tetapi dikejar tersangka Andika. Saat itulah, korban ditikam tersangka Andika di bagian leher hingga membuat korban Ayu meninggal dunia," jelas Shandy.
Setelah membunuh Ayuhana, Rendi menyeret Rani ke dalam rumah kosong. Di sana sempat terjadi adu mulut ketika Rendi kembali mengajak Rani untuk menikah.
"Mendengar apa yang diungkapkan korban Rani, membuat pelaku Rendi naik pitam dan menusuk korban Rani di bagian dada sebanyak satu kali," lanjutnya.
"Penusukan itu membuat korban Rani meninggal di lokasi kejadian. Setelah itu, pelaku membuang sepeda motor korban di aliran air dekat perumahan dan meninggalkan kedua korban di dalam rumah kosong dengan kondisi sudah meninggal dunia," pungkas Shandy.
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com