OMC Lampung Tak Datangkan Hujan, Fokus Urai Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
soni yuntavia September 09, 2026 06:19 PM

 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Lampung Ganjar Jationo secara langsung membuka konfrensi pers lanjutan perkembangan Gunung Anak Krakatau (GAK) pada, Rabu (9/9/2026) siang.

Baca juga: Operasi Modifikasi Cuaca di Lampung Menghabiskan Delapan Ton Garam

Konferensi pers digelar pukul 13.30 WIB di lantai 2 Kantor BPD Lampung.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi dan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Djohan Luis.

Sejumlah awak media, jajaran pejabat, hingga pegawai Pemprov Lampung juga tampak hadir dalam konferensi pers tersebut.

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menjelaskan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memitigasi dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

OMC tersebut dilaksanakan BPBD Lampung bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Operasi ini telah dilakukan sejak Selasa (8/9/2026) dan kembali dilanjutkan pada Rabu (9/9/2026).

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi mengatakan, OMC yang dilakukan kali ini memiliki tujuan khusus, yakni membantu mengurai konsentrasi debu dan abu vulkanik di sejumlah wilayah terdampak.

Menurut Aswarodi, pelaksanaan OMC kali ini berbeda dengan operasi modifikasi cuaca yang selama ini dikenal sebagai upaya meningkatkan potensi curah hujan.

Ia menjelaskan, pesawat OMC kembali diterbangkan pada Rabu sekitar pukul 11.00 WIB dengan sasaran wilayah Lampung bagian selatan.

Namun, jalur dan area penerbangan tidak dapat ditentukan secara sembarangan.

Tim harus mempertimbangkan kondisi aktual sebaran abu vulkanik sekaligus faktor keselamatan penerbangan.

“Tujuan penerbangan ini adalah mencari area yang memiliki potensi sebaran debu dan abu vulkanik cukup banyak. Namun, apabila konsentrasi abu terlalu tinggi, area tersebut juga harus dihindari karena dapat membahayakan mesin pesawat,” jelasnya.

Aswarodi mengatakan, hingga Rabu, OMC untuk membantu mengurai sebaran abu vulkanik telah dilakukan sebanyak dua kali penerbangan.

Penerbangan pertama dilakukan pada Selasa dan kembali dilaksanakan pada Rabu.

Ia kembali menekankan agar masyarakat tidak mengaitkan pelaksanaan OMC tersebut dengan upaya mendatangkan hujan.

“Kalau masyarakat berharap adanya hujan dari intervensi OMC ini, perlu kami jelaskan bahwa operasi yang dilakukan saat ini bukan untuk menurunkan hujan. Sasaran utama kami adalah mengurai dan meminimalisir konsentrasi debu serta abu vulkanik yang tersebar di wilayah Lampung,” ujarnya.

Menurut Aswarodi, wilayah prioritas pelaksanaan OMC terus disesuaikan dengan perkembangan sebaran abu vulkanik.

Tim akan mencari titik-titik dengan konsentrasi abu yang cukup tinggi, tetapi tetap berada dalam batas aman untuk dilalui pesawat.

Selain memantau sebaran abu vulkanik, faktor keselamatan awak dan pesawat menjadi pertimbangan utama dalam setiap penerbangan.

“Area prioritas disesuaikan dengan kondisi sebaran abu dan faktor keselamatan penerbangan. Karena ada beberapa wilayah dengan konsentrasi abu vulkanik yang berpotensi membahayakan mesin pesawat, sehingga harus dihindari,” tegasnya.

Pemprov Lampung bersama BPBD, BNPB dan instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau beserta dampaknya terhadap wilayah Lampung.

Pelaksanaan OMC menjadi salah satu langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah untuk meminimalisir dampak sebaran abu vulkanik terhadap masyarakat.

BPBD Lampung juga mengimbau masyarakat tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah serta instansi berwenang terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

( Tribunlampung.co.id / Riyo Pratama )

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.