TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Ratusan pedagang masih bertahan di Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan menolak untuk direlokasi.
Pasar Taman Puring dilanda kebakaran hebat pada 28 Juli 2025 lalu. Hampir seluruh bangunan pasar ludes terbakar.
Salah satu pedagang, Ricky (60), mengaku ingin terus berdagang di Pasar Taman Puring. Ia juga menolak wacana wacana pembangunan taman difabel di lokasi pasar.
"Isu mengenai taman difabel atau mengenai relokasi sebenarnya itu tidak ada pada kami. Maksudnya tidak ada niat kami untuk mau direlokasi atau dengan sukarela menyerahkan menjadi taman difabel," kata Ricky di lokasi, Rabu (9/9/2026).
Menurut Ricky, hanya segelintir orang yang menginginkan pedagang Pasar Taman Puring direlokasi.
Ia juga menyebut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung belum secara langsung menyampaikan rencana pembangunan taman difabel kepada para pedagang.
"Itu hanya segelintir atau orang-orang yang memang menghendaki kami itu pindah. Katakanlah itu sepihak, dan sampai saat ini kami pun belum pernah dikunjungi oleh Gubernur," ungkap dia.
Ia menuturkan, selama ini para pedagang di Pasar Taman Puring selalu menaati aturan termasuk membayar retribusi.
"Kami tetap di sini punya hak karena kami bayar di sini. Maksudnya retribusi kami patuh, kami ya kalau memang ada pajak ya kami bayar pajaknya, dan kami di sini tidak gratis," ujar Ricky.
Ricky pun meminta Gubernur Pramono merealisasikan janjinya untuk segera merevitalisasi Pasar Taman Puring.
"Kami cuma minta janjinya Pak Gubernur. Saat kami kebakaran tanggal 28 menjelang Magrib, tiga jam kemudian beliau mengatakan akan segera dibangun. Itu yang kami tuntut, itu yang kami akan berusaha untuk menagih janjinya kepada Gubernur. Cuma itu," kata Rikcy.
Menurut Ricky, para pedagang masih berupaya memperjuangkan agar Pasar Taman Puring kembali dibangun.
Ia berharap pemerintah mendengar aspirasi para pedagang yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya dari berjualan di pasar.
"Jadi kami tetap berusaha untuk meminta, memohon kepada Bapak Gubernur beserta jajarannya, ataupun siapa itu yang berhak atau berwenang, kami mohon untuk diperhatikan. Dan kami mohon dengan sangat, di belakang kami ada ribuan orang termasuk cucu kami, cucu saya, cucu kami, anak saya, dan saudara-saudara saya yang banyak menanggung hidup dari pasar ini," ujar dia.