TRIBUNJATENG.COM, BLORA – Gerobak mi ayam itu kini hanya terparkir di samping rumah.
Debu-debu tipis mulai menempel di gerobaknya.
Tak ada lagi aroma kuah mi ayam yang mengepul, tak ada pula suara roda gerobak didorong menyusuri jalan kampung.
Sudah lebih dari sebulan gerobak itu tak digunakan. Hal itu setelah Surono (53), jatuh sakit.
Baca juga: Pemerintah Percepat Bantuan Pangan, Warga Desil 1-4 Terima 10 Kg Beras Tiap Bulan
Pria yang sehari-hari menjadi pedagang mi ayam keliling itu kini lebih banyak duduk di rumah.
Kakinya dibalut kaos kaki.
Sementara, Puji Lestari (53), juga harus ikut menghentikan aktivitas berjualan. Biasanya, Puji mendampingi suaminya berjualan mi ayam.
Kini, keduanya hanya mengandalkan sisa tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga kecil warga RT 04/RW 06, Kelurahan Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, itu justru dihadapkan pada persoalan lain.
Kartu Indonesia Sehat (KIS) milik Surono ternyata sudah tidak aktif.
Puji baru mengetahui hal tersebut ketika membawa suaminya berobat ke Puskesmas Ngawen.
Saat berada di bagian pendaftaran, petugas menanyakan apakah Surono memiliki KIS.
Puji menjawab bahwa suaminya memiliki KIS.
Namun, setelah petugas melakukan pengecekan menggunakan KTP, Puji mendapat kabar yang membuatnya terkejut. KIS tersebut sudah tidak aktif.
"Pas bapaknya sakit terus saya bawa ke Puskesmas. Di tempat pendaftaran ditanyain petugas, punya KIS enggak. Saya jawab, punya. Terus dicek lewat KTP, katanya sudah enggak aktif," kata Puji, saat ditemui Tribunjateng.com, Rabu (9/9/2026).
Puji kemudian disarankan mengurus pengaktifan kembali KIS tersebut. Lalu, Puji pun mendatangi kantor kelurahan.
Dari sana, Dia diarahkan ke Mall Pelayanan Publik (MPP) Blora untuk mengaktifkan KIS suaminya.
Namun, persoalannya justru semakin membuat Puji bingung. Berdasarkan pengecekan, keluarganya tercatat masuk desil 8.
Karena status tersebut, KIS tidak bisa langsung diaktifkan kembali. Puji mendapat penjelasan bahwa status desilnya harus diturunkan terlebih dahulu.
"Kata petugasnya karena desil 8, jadi enggak bisa diaktifkan. Harus diturunkan dulu desilnya," terangnya.
Bagi Puji, hasil tersebut terasa janggal. Puji mengaku kaget mengetahui keluarganya masuk dalam desil 8, mengingat sumber penghasilan mereka sehari-hari hanya berasal dari berjualan mi ayam keliling.
"Masa cuma jualan mi ayam keliling kok masuk desil 8," ujarnya.
Puji sudah dua kali bolak balik datang ke MPP Blora. Namun upaya untuk mengaktifkan KIS suaminya juga nihil. Hal itu membuatnya kecewa.
Suami Sakit, Tak Lagi Berdagang Mi Ayam
Surono sebenarnya sudah menderita sejumlah penyakit sejak 2023. Di antaranya diabetes, tekanan darah tinggi, asam urat, dan kolesterol.
Namun saat itu Surono masih mampu untuk mendorong gerobak dan berdagang mi ayam.
Kondisi kesehatannya semakin parah sejak Agustus 2026. Sejak saat itu, Surono tidak lagi bisa berdagang, karena fisiknya melemah.
Surono harus rutin menjalani pengobatan. Dokter juga meminta Surono melakukan kontrol secara rutin, setidaknya sebulan sekali.
Karena KIS tidak dapat digunakan, biaya pengobatan terpaksa dibayar secara mandiri. Setiap kali kontrol, sang istri, Puji harus menyiapkan uang sekitar Rp100 ribu.
"Namanya orang sakit pengin sembuh. Meskipun bayar ya tetap berobat," tuturnya.
Puji mengatakan suaminya memilih menjalani pengobatan jalan di Puskesmas dan belum menjalani rujukan ke rumah sakit.
Masalahnya, sejak sakit, Surono tak lagi mampu mendorong gerobak mi ayam. Pekerjaan yang selama ini menjadi tumpuan keluarga pun berhenti.
Sebelum sakit, penghasilan dari berjualan mi ayam memang tidak selalu besar.
Menurut Puji, pendapatan tersebut paling tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, kini pemasukan itu benar-benar terhenti. Puji sendiri merupakan ibu rumah tangga. Ia biasanya hanya membantu suaminya berjualan. Ketika Surono tidak berjualan, Puji juga tidak memiliki pekerjaan lain.
Baca juga: Jangan Pasrah Jika Desil Tak Sesuai, Dinsos Batang Buka Jalan Pemutakhiran Data Warga
"Kalau bapaknya sakit seperti ini ya sudah berhenti semua, enggak jalan. Enggak kuat untuk mendorong gerobak, saya juga enggak kuat dorong gerobak, jadi ya nganggur," ujar Puji.
Untuk bertahan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, mereka kini mengandalkan tabungan yang tersisa.
Di tengah keterbatasan yang dialami, kini Puji hanya berharap status desil keluarganya dapat segera diperbaiki sehingga KIS milik suaminya bisa kembali diaktifkan.
"Penginnya ya desilnya diturunkan, secepat mungkin. Demi kesembuhan bapak juga, agar KIS nya bisa kembali aktif," harap Puji.(Iqs)