Pasar Pondok Labu Sepi, Pemkot Jaksel Dorong Program Pangan Murah
Dwi Rizki September 09, 2026 07:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, CILANDAK - Suku Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Jakarta Selatan mendorong pelaksanaan program pangan murah di Pasar Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan aktivitas dan kunjungan masyarakat ke pasar yang kini dinilai semakin sepi.

Kepala Sudin PPKUKM Jakarta Selatan, Djaharuddin mengatakan, program pangan murah, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan Kartu Jakarta Pintar (KJP), diharapkan dapat kembali digelar di Pasar Pondok Labu.

"Mendorong kegiatan pangan murah, termasuk program KJP agar dapat kembali dilaksanakan di Pasar Pondok Labu sehingga ikut meningkatkan kunjungan masyarakat," kata Djaharuddin dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).

Selain itu, Sudin PPKUKM Jakarta Selatan akan mengoptimalkan berbagai program pemberdayaan bagi pelaku usaha di sekitar pasar.

Program tersebut antara lain pelatihan digitalisasi, Jakpreneur, sertifikasi halal, pemasaran digital dan kegiatan pemberdayaan lainnya dengan melibatkan pedagang Pasar Pondok Labu.

Djaharuddin mengatakan, upaya tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andriano ke Pasar Pondok Labu.

Menurut dia, berbagai program pemerintah dan kolaborasi antarinstansi perlu dioptimalkan untuk menghidupkan kembali aktivitas di pasar tersebut.

"Kami ingin Pasar Pondok Labu kembali hidup melalui aktivitas, pelayanan, UMKM dan kolaborasi antarinstansi," tuturnya.

Baca juga: Jadwal Kereta Api dari Jakarta, Perjalanan Aman dan Nyaman Tanpa Macet

Sudin PPKUKM Jakarta Selatan juga mendorong optimalisasi kerja sama dengan Bank DKI untuk memberikan dukungan kepada para pedagang.

Dukungan tersebut mencakup layanan transaksi, digitalisasi pembayaran hingga pembiayaan usaha.

"Optimalisasi kerja sama Bank DKI dengan para pedagang, baik terkait layanan transaksi, digitalisasi pembayaran maupun dukungan pembiayaan usaha," katanya.

Selain itu, pihak kelurahan didorong mengarahkan sebagian kegiatan masyarakat dan kegiatan kewilayahan untuk dilaksanakan di lingkungan pasar.

Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan aktivitas dan pergerakan pengunjung di kawasan Pasar Pondok Labu.

Djaharuddin juga meminta pengelola pasar menyampaikan data kios yang masih kosong, termasuk harga sewa dan ketentuannya.

Data tersebut nantinya dapat membantu promosi kepada pelaku UMKM maupun masyarakat yang membutuhkan tempat usaha.

"Kepala pasar agar dapat menyampaikan data kios-kios kosong, termasuk harga sewa dan ketentuannya, sehingga dapat kita bantu promosikan dan informasikan kepada UMKM atau masyarakat yang membutuhkan tempat usaha," tuturnya.

Dari sisi fasilitas, penataan dan sterilisasi sarana prasarana juga dinilai perlu dilakukan, terutama pada area parkir serta akses keluar-masuk pasar.

"Perlu dilakukan penataan dan sterilisasi sarana prasarana, khususnya area parkir dan akses keluar-masuk, agar lebih tertib, nyaman dan mendukung aktivitas pasar," lanjut Djaharuddin.

Ia menuturkan, sejumlah program dan langkah tersebut diharapkan dapat mulai dilaksanakan dalam waktu dekat untuk mendorong kembali aktivitas perdagangan di Pasar Pondok Labu.

Pedagang Keluhkan Pasar Sepi

Sebelumnya, kondisi Pasar Pondok Labu dikeluhkan sejumlah pedagang yang merasakan penurunan jumlah pengunjung dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satunya Firdaus (46), pedagang makanan di Pasar Pondok Labu. Ia mengatakan suasana pasar kini jauh berbeda dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

"Sepi banget, enggak ada pengunjung," kata Firdaus saat ditemui di Pasar Pondok Labu, Rabu (2/9/2026).

Firdaus berjualan makanan, nasi padang, serta aneka minuman dan kopi. Dalam kondisi pasar yang sepi, omzet hariannya kini berkisar Rp500.000 hingga Rp600.000.

Angka tersebut turun cukup jauh dibandingkan saat Pasar Pondok Labu masih ramai dikunjungi pembeli.

Menurut Firdaus, sebelum pandemi Covid-19, omzet usahanya bisa mencapai sekitar Rp1,5 juta per hari atau sekitar Rp45 juta per bulan.

Saat kondisi pasar sedang ramai, omzetnya bahkan dapat mencapai Rp60 juta per bulan.

"Sepinya semenjak habis COVID," ujar pria asal Pesisir Selatan, Terusan, Nagari Mandeh, Sumatra Barat tersebut.

Namun, menurut Firdaus, pandemi bukan satu-satunya persoalan yang membuat pasar semakin sepi.

Perubahan kebiasaan masyarakat yang semakin terbiasa berbelanja secara daring juga menjadi tantangan bagi pedagang pasar tradisional.

"Sekarang orang belanja online. Orang duduk manis di rumah, barangnya datang," katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan pedagang pakaian. Menurut Firdaus, berjualan secara daring membutuhkan modal lebih besar, sementara jumlah pembeli yang datang langsung ke pasar semakin berkurang.

Pelanggan lama pun kini hanya sesekali terlihat berbelanja.

Firdaus mengatakan, barang dagangannya diperoleh dari sejumlah pusat grosir, seperti Tanah Abang dan Pasar Cipulir.

Untuk produk fesyen, ia biasa berbelanja di Tanah Abang. Sementara kebutuhan harian seperti celana dalam dan daster diperoleh dari Pasar Cipulir.

"Yang laku itu harian, yang dibutuhkan orang banyak," katanya. (M31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.