TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Kualitas udara di 7 dari 9 wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel) masih berada pada kategori "Tidak Sehat" berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), Selasa (9/9/2026) pukul 15.00 WIB.
Data dari http://ispu.kemenlh.go.id menunjukkan Kota Palembang sedikit membaik dan masuk kategori "Tidak Sehat", setelah sebelumnya berada pada kategori "Sangat Tidak Sehat".
Di Stasiun Bukit Kecil, Simpang Icon City, nilai PM₂.₅ tercatat 165 µg/m⊃3; dan PM₁₀ sebesar 110 µg/m⊃3;.
Sementara itu, parameter SO₂, karbon monoksida (CO), O₃, dan NO₂ masih berada dalam kategori baik.
Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk. Nilai PM₂.₅ di PALI mencapai 184 µg/m⊃3;, sedangkan PM₁₀ sebesar 135 µg/m⊃3;.
Wilayah lain yang masuk kategori "Tidak Sehat" yakni Kabupaten Ogan Ilir dengan PM₂.₅ sebesar 143 µg/m⊃3;, Kabupaten Musi Banyuasin 140 µg/m⊃3;, Kabupaten Musi Rawas 131 µg/m⊃3;, Kota Prabumulih 119 µg/m⊃3;, dan Kabupaten Lahat 118 µg/m⊃3;.
Sementara itu, Kabupaten Muara Enim tercatat memiliki nilai PM₂.₅ sebesar 76 µg/m⊃3;. Adapun Kabupaten OKU Selatan menjadi wilayah dengan kualitas udara paling baik, dengan PM₂.₅ sebesar 43 µg/m⊃3; dan PM₁₀ sebesar 19 µg/m⊃3;.
Baca juga: Kualitas Udara Tidak Sehat Imbas Kabut Asap, Disdikbud Muba Belum Terapkan Belajar Daring
Kabid Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumsel Idrus mengatakan, peningkatan partikulat PM₂.₅ dan PM₁₀ menjadi penyebab utama penurunan kualitas udara.
Berdasarkan Permen LHK Nomor P.14 Tahun 2020, kategori "Tidak Sehat" berada pada rentang nilai ISPU 101–200.
Kondisi tersebut diduga kuat dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah sekitar Palembang.
DLH Sumsel mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker, serta memperbanyak minum air putih.
Imbauan khusus diberikan kepada penderita asma dan penyakit jantung agar mengikuti petunjuk kesehatan serta memastikan obat-obatan yang diperlukan selalu tersedia.
"Terakhir, hentikan pembakaran hutan dan lahan," pesan Idrus.
DLH juga mengingatkan bahwa 50 hingga 80 persen kematian akibat kebakaran disebabkan oleh menghirup asap.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com