Desa Puding Besar di Kabupaten Bangka Diguyur Hujan Lokal, Ini Penjelasan BMKG
suhendri September 09, 2026 09:50 PM

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Hujan lebat mengguyur kawasan Desa Puding Besar dan sekitarnya, Rabu (9/9/2026) siang.

Hujan yang turun di wilayah Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. itu merupakan hujan lokal akibat pertumbuhan awan hujan di wilayah Bangka.

Demikian disampaikan Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir Pangkalpinang, Putri Ulza.

Putri mengatakan, hujan lokal memiliki cakupan wilayah yang relatif kecil dan tidak merata.

"Hujan lokal adalah hujan yang cakupannya kecil, tidak merata, dan biasanya dalam waktu relatif singkat," kata Putri kepada Bangka Pos, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, meski bersifat lokal, awan hujan yang terbentuk tetap dapat bergerak dan menyebabkan hujan di wilayah lain karena terbawa oleh angin. 

Kondisi tersebut terlihat dari pertumbuhan awan kumulonimbus yang terpantau di sebagian besar wilayah Kabupaten Bangka dan Bangka Barat. Awan kumulonimbus tersebut bergerak ke arah barat hingga barat laut.

BMKG kemudian mengeluarkan peringatan dini pada Rabu (9/9/2026) pukul 14.30 WIB.

Hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang berpotensi terjadi mulai pukul 14.52 WIB.

Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kecamatan Mendo Barat, Bakam, Riau Silip dan Puding Besar di Kabupaten Bangka.

Kemudian Kecamatan Jebus, Kelapa, dan Tempilang di Kabupaten Bangka Barat, serta wilayah sekitarnya.

Cuaca buruk tersebut juga berpotensi meluas ke sejumlah wilayah lainnya, seperti Kabupaten Bangka meliputi Belinyu, Merawang dan Pemali.

Di Kabupaten Bangka Tengah meliputi Sungaiselan dan Simpang Katis. 

Sementara di Kabupaten Bangka Barat meliputi Mentok, Simpang Teritip, dan Parittiga.

Adapun di Kota Pangkalpinang, wilayah yang berpotensi terdampak yakni Kecamatan Gerunggang dan sekitarnya. 

BMKG memperkirakan kondisi tersebut masih dapat berlangsung hingga sekitar pukul 16.30 WIB.

Putri menjelaskan, pertumbuhan awan kumulonimbus menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai karena dapat memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir maupun angin kencang.

"Karena pergerakan awan mengikuti kondisi angin, hujan yang awalnya terjadi di satu wilayah dapat kemudian bergeser ke wilayah lainnya," tuturnya. (t2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.