Grid.ID - Penelitian di perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan publikasi atau berhenti di laboratorium. Hasil riset diharapkan dapat menjawab persoalan nyata, digunakan masyarakat, hingga membuka peluang komersialisasi.
Hal itu menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan mengenai riset berdampak. Perguruan tinggi didorong untuk tidak lagi melihat keberhasilan penelitian hanya dari jumlah output, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkan setelah penelitian selesai.
Dalam pemaparannya, narasumber menyebut pendanaan riset telah menghasilkan 2.185 produk teknologi, sekitar 7.600 artikel publikasi, dan 3.900 hak kekayaan intelektual.
Capaian tersebut menunjukkan banyaknya hasil penelitian yang telah dihasilkan. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan hasil tersebut tidak berhenti sebagai prototipe, konsep, atau publikasi.
“Tidak hanya berada pada prototype, pada konsep pembicaraan, tapi harusnya ini menjadi manfaat di masyarakat,” ujar Ayom Wiadipaminto, Direktur Fasilitasi Riset LPDP, dalam Diskusi Terbatas Berdampak Sains dan Teknologi di Menara Kompas, Selasa (8/9/2026).
Ayom Wiadipaminto juga menjelaskan bahwa hasil riset dapat diarahkan lebih jauh melalui lisensi, pembentukan bisnis baru, hingga startup. Dengan demikian, penelitian tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki peluang untuk digunakan oleh industri dan masyarakat.
Riset Tidak Cukup Berhenti pada Output
Persoalan pemanfaatan hasil penelitian juga disoroti dalam pembahasan mengenai ekosistem riset. Penelitian dinilai masih sering dilakukan secara terpisah dari kebutuhan masyarakat.
Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Tekhnologi, Kemendiktisaintek, menilai peneliti perlu lebih banyak melibatkan komunitas dalam proses riset. Pengetahuan lokal dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat juga diharapkan dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
“Jangan sampai kita hanya mendorong para peneliti untuk menjalankan apa yang dia sukai. Kemudian, masing-masing peneliti bekerja di laboratorium, terisolasi dari keramaian, sehingga tidak ada intervensi dengan kebutuhan masyarakat,” paparnya.
Menurutnya, penelitian yang berdampak membutuhkan proses yang lebih panjang. Mulai dari menentukan persoalan, melibatkan pemangku kepentingan, menghasilkan penelitian, hingga memastikan hasilnya dapat dimanfaatkan.
Karena itu, keberhasilan riset tidak cukup hanya dilihat dari jumlah publikasi atau produk yang dihasilkan. Perlu ada perhatian terhadap apa yang terjadi setelah hasil penelitian tersebut selesai.
“Komunikasi itu bukan hanya untuk karya pribadi. Komunikasi itu adalah output dari kegiatan penelitian,” pungkas Yudi Darma.

Pendanaan Didorong Lebih Dekat ke Pemanfaatan
Dalam pemaparan mengenai pendanaan riset, Ayom Wiadipaminto, Direktur Fasilitasi Riset LPDP, menyebut bahwa program pendanaan juga diarahkan untuk menghasilkan penelitian yang lebih dekat dengan komersialisasi.
Ia menilai, riset dasar dan publikasi tetap penting. Namun, hasil penelitian juga perlu memiliki jalur pemanfaatan yang jelas agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Pendanaan riset, lanjutnya, diharapkan dapat mendorong peneliti menghasilkan inovasi yang lebih dekat dengan kebutuhan industri maupun masyarakat.
Hal ini sejalan dengan arah program pendanaan riset yang tidak hanya mencakup publikasi, tetapi juga pengembangan produk, teknologi, dan kekayaan intelektual.
Kolaborasi Jadi Kunci
Untuk memastikan hasil riset dapat dimanfaatkan, perguruan tinggi tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat.
Yudi Darma menjelaskan, hasil penelitian yang dihasilkan perguruan tinggi perlu didorong untuk dapat diadopsi oleh institusi, kemudian digunakan lebih luas oleh masyarakat sebagai pengguna akhir.
“Jadi, perguruan tinggi yang berdampak itu merupakan proses kolaboratif.”
Dengan pendekatan tersebut, penelitian diharapkan tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih nyata.
Pada akhirnya, tantangan riset berdampak bukan sekadar memperbanyak jumlah penelitian, melainkan memastikan hasilnya benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Jadi, sekarang mungkin waktunya kita mulai menggeser dari output-based activity menjadi outcome-based program’, menjadi sesuatu yang lebih berdampak,” ujar Yudi Darma.