Eksim Kambuh Bisa Dipicu Cuaca hingga Stres, Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya
willy Widianto September 09, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kulit yang semula terlihat baik-baik saja tiba-tiba bisa berubah menjadi kering, kemerahan, gatal, bahkan terasa perih dan meradang.

Baca juga: Anak Bisa Kena Penyakit Eksim Imbas Perubahan Cuaca Mendadak

Bagi penderita eksim, kondisi seperti ini bukan sesuatu yang asing. Gejala yang kembali muncul atau menjadi lebih berat tersebut dikenal sebagai eczema flare-up atau kekambuhan eksim.

Eksim, khususnya dermatitis atopik, merupakan penyakit peradangan kulit kronis yang dapat kambuh berulang dan dialami oleh berbagai kelompok usia.

Sebuah meta-analisis yang mencakup 310 studi dengan sekitar 25,5 juta orang menunjukkan prevalensi dermatitis atopik secara global mencapai 11,1 persen pada anak dan remaja serta 6,3 persen pada orang dewasa.

Dalam studi tersebut, proporsi kasus dermatitis atopik berat berkisar 1,9-7,2 persen pada anak dan remaja serta 2,8-15,6 persen pada orang dewasa.

Kekambuhan dapat muncul kapan saja. Masalahnya, pemicu flare tidak selalu sama pada setiap orang.

Karena itu, mengenali pola pemicu dan mengetahui apa yang perlu dilakukan sejak gejala awal muncul menjadi bagian penting untuk membantu mencegah kondisi kulit semakin berat.

Picu Eksim

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah perubahan cuaca, terutama ketika udara menjadi dingin dan kering dalam waktu cukup lama.

Anggota Asosiasi Dermatologi Vietnam, Dr Nguyen Tien Thanh, mengatakan kondisi tersebut dapat menjadi "katalis" yang memicu munculnya maupun memperburuk dermatitis atopik.

Menurutnya, pada periode tersebut jumlah pasien yang mencari pengobatan untuk dermatitis atopik dapat meningkat.

Sebagian pasien bahkan membutuhkan penanganan lebih intensif ketika lesi kulit semakin luas, rasa gatal menjadi berat, atau muncul tanda-tanda infeksi sekunder.

Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kelembapan udara. Udara yang kering dapat membuat kulit kehilangan air lebih cepat sehingga lapisan pelindung kulit atau skin barrier ikut terganggu.

Pada penderita dermatitis atopik, skin barrier memang cenderung lebih rentan. Paparan udara dingin dan kering dapat membuat kulit semakin kering, pecah-pecah, kemerahan, dan gatal.

Meski demikian, cuaca bukan satu-satunya pemicu. Setiap orang dapat memiliki pemicu flare yang berbeda.

“Eczema flare up tidak selalu memiliki satu pemicu yang jelas. Karena itu, yang penting adalah mengenali perubahan pada kulit dan memiliki rencana ketika gejala mulai muncul, sehingga respons terhadap flare bisa lebih cepat dan terarah,” ujar Firdha Wanda, Senior Brand Manager PT Galderma Indonesia, dalam keterangan yang dikutip Rabu (9/9/2026).

Kenali Pemicu Eksim Kambuh

Selain perubahan cuaca, ada sejumlah faktor lain yang dapat memicu atau memperburuk kekambuhan eksim.

Baca juga: Cemas Amenna Didiagnosis Eksim, Atta Halilintar Masih Cari Cara Mengobatinya

American Academy of Dermatology (AAD) menyebut produk berpewangi, deterjen, sabun yang keras, keringat, stres, serta pakaian berbahan wol sebagai beberapa pemicu yang umum.

Bahan tertentu dalam produk perawatan kulit juga dapat mengiritasi kulit, terutama ketika skin barrier sedang mengalami gangguan.

Gesekan dari pakaian, label pakaian, hingga kebiasaan menggaruk juga bisa membuat kondisi kulit semakin buruk.

Pada sebagian orang, stres, kurang tidur, dan perubahan rutinitas juga dapat berkaitan dengan munculnya flare.

Alergen maupun infeksi dapat berperan dalam kondisi tertentu, tetapi penyebabnya perlu dinilai berdasarkan kondisi dan riwayat masing-masing.

“Daripada langsung menyimpulkan satu hal sebagai penyebab, lebih baik melihat pola. Misalnya, kapan flare muncul, apa yang sedang digunakan, bagaimana kondisi cuaca, atau apakah ada perubahan aktivitas dan pola tidur,” jelas Firdha.

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Eksim Kambuh?

Ketika gejala mulai terasa, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengurangi paparan terhadap hal-hal yang diduga menjadi pemicu iritasi.

Pada saat yang sama, hindari mencoba banyak produk baru sekaligus. Selain berisiko menambah iritasi, kebiasaan tersebut juga membuat sulit mengetahui produk mana yang cocok atau justru memperburuk kondisi.

Mandi tetap dapat dilakukan menggunakan air hangat, bukan air panas, selama sekitar 5-10 menit.

Gunakan pembersih yang lembut dan bebas pewangi bila diperlukan. Setelah mandi, keringkan kulit dengan menepuknya secara perlahan, bukan menggosoknya.

Selanjutnya, gunakan pelembap yang sesuai dengan kondisi kulit, terutama ketika kulit masih sedikit lembap.

AAD merekomendasikan pelembap berbentuk krim atau salep yang bebas pewangi untuk membantu menjaga kelembapan kulit.

Penggunaan pelembap juga sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika eksim sedang kambuh. Perawatan kulit secara rutin dapat membantu mengurangi kekeringan dan pecah-pecah sekaligus membantu mempertahankan fungsi skin barrier.

Jika sebelumnya dokter sudah memberikan obat atau flare action plan, penggunaannya perlu mengikuti petunjuk yang diberikan.

Kompres sejuk menggunakan kain bersih selama beberapa menit juga dapat membantu meredakan rasa gatal. Namun, hindari menempelkan es secara langsung ke kulit karena dapat menyebabkan iritasi atau cedera akibat suhu dingin.

“Pada fase flare, bukan saatnya bereksperimen dengan banyak produk. Justru semakin sederhana rutinitasnya, semakin mudah kita mengetahui apa yang cocok,” kata Firdha.

Untuk kulit yang sangat kering, pelembap dengan tekstur krim dapat menjadi salah satu pilihan, sesuai kebutuhan dan kecocokan kulit. Salah satu produk yang tersedia di pasaran adalah Cetaphil Pro AD Derma Repair Cream.

Baca juga: Kulit Bayi Tampak Kering dan Berkerak? Waspada Terkena Eksim

Namun, pemilihan produk perawatan kulit tetap perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing, terutama pada kulit yang sedang mengalami iritasi atau peradangan.

Jangan Sembarangan Menghindari Makanan

Ketika eksim kambuh, sebagian orang mungkin langsung mengaitkannya dengan makanan atau produk tertentu. Padahal, tidak semua kekambuhan eksim disebabkan oleh alergi.

Karena itu, menghilangkan banyak jenis makanan atau produk sekaligus tanpa alasan yang jelas justru dapat menyulitkan proses untuk menemukan pemicu sebenarnya.

Pada anak-anak, pembatasan makanan yang terlalu banyak juga berisiko memengaruhi kecukupan asupan nutrisi.

Jika seseorang mencurigai adanya alergi makanan, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum melakukan perubahan pola makan secara signifikan.

Untuk membantu menemukan pola pemicu, penderita dapat mencatat kapan flare terjadi, kondisi cuaca saat itu, aktivitas yang dilakukan, produk yang digunakan, pakaian yang dikenakan, kualitas tidur, hingga obat yang sedang digunakan.

Catatan tersebut dapat membantu melihat apakah terdapat pola tertentu yang berulang setiap kali eksim kambuh.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Tidak semua flare dapat ditangani hanya dengan perawatan kulit di rumah. Pemeriksaan medis diperlukan apabila muncul cairan atau nanah, kerak kekuningan, nyeri, kemerahan yang menyebar dengan cepat, demam, atau kondisi kulit memburuk dalam waktu singkat.

Konsultasi dengan dokter juga diperlukan jika flare terus berulang atau mulai mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari.

Dokter dapat menentukan terapi berdasarkan kondisi kulit pasien. Penanganan dapat mencakup perawatan kulit, obat yang dioleskan pada kulit, hingga terapi lain pada kondisi tertentu. Rencana perawatan pun perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

“Pelembap dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi kulit, tetapi tidak semua flare dapat diselesaikan hanya dengan pelembap. Jika gejalanya berat, menetap, atau muncul tanda infeksi, pemeriksaan dokter tetap menjadi langkah yang penting,” tegas Firdha.

Baca juga: Apa Itu Eksim? Kondisi Peradangan pada Kulit yang Menyebabkan Gatal-gatal

Setelah flare mereda, perawatan kulit tetap perlu dilanjutkan. Menjaga kulit tetap lembap, menghindari pemicu yang sudah diketahui, serta mengikuti rencana perawatan yang diberikan tenaga medis dapat membantu menjaga kondisi kulit.

Dengan mengenali tanda-tanda awal dan memahami pola pemicunya, penderita eksim dapat lebih cepat mengambil langkah ketika kekambuhan kembali muncul.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.