Islandia Panggil Duta Besar AS Usai Trump Unggah Peta Kontroversial
Eddy Fitriadi September 09, 2026 11:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Pemerintah Islandia memanggil Duta Besar Amerika Serikat (AS) setelah Presiden Donald Trump mengunggah sebuah peta kontroversial di media sosial.

Peta tersebut tampak menunjukkan Islandia dan sejumlah wilayah lain sebagai bagian dari Amerika Serikat.

Unggahan Trump itu menampilkan AS, Kanada, Greenland, Islandia, Meksiko, Amerika Tengah, hingga Karibia yang dipenuhi gambar bendera Amerika.

Seluruh wilayah tersebut diberi label “Amerika Serikat”.

Menteri Luar Negeri Islandia Þorgerður Katrín Gunnarsdóttir menilai unggahan tersebut sama sekali tidak pantas.

Dikutip Serambinews melalui BBC News (9/9/2026), pemerintah Islandia kemudian memanggil Duta Besar AS untuk Islandia, Billy Long, untuk menyampaikan keberatan atas unggahan tersebut.

Islandia Panggil Duta Besar AS

Menteri Luar Negeri Islandia memanggil Billy Long yang baru resmi menjabat sebagai duta besar AS di negara tersebut pada bulan lalu.

Pemanggilan seorang duta besar biasanya merupakan bentuk komunikasi diplomatik resmi.

Dalam pertemuan tersebut, negara tuan rumah dapat menyampaikan keberatan atau ketidakpuasan terhadap tindakan maupun pernyataan pemerintah negara asal duta besar.

Langkah Islandia ini menunjukkan bahwa unggahan Trump dipandang cukup serius oleh pemerintah negara tersebut.

Pemerintah Islandia tidak ingin wilayah negaranya digambarkan sebagai bagian dari AS.

Sikap tersebut juga muncul di tengah hubungan yang sebelumnya sudah mengalami ketegangan akibat ambisi teritorial Trump di wilayah sekitar Amerika Utara dan Arktik.

Trump Kembali Singgung Ambisi Teritorial

Trump sebelumnya berulang kali menyampaikan ketertarikannya terhadap wilayah Greenland.

Presiden AS tersebut bahkan pernah menyatakan keinginan untuk mengakuisisi Greenland, wilayah otonom yang berada dalam Kerajaan Denmark.

Trump beralasan Greenland penting bagi keamanan nasional AS.

Selain Greenland, Trump juga pernah menyerukan agar Kanada menjadi negara bagian ke-51 AS.

Pernyataan tersebut berulang kali mendapat penolakan dari pemerintah dan masyarakat Kanada.

Unggahan peta terbaru di Truth Social kembali memunculkan kekhawatiran mengenai ambisi teritorial Trump.

Peta yang diunggah pada Senin tersebut tidak disertai keterangan khusus.

Namun, gambar tersebut menunjukkan wilayah yang sangat luas seolah-olah berada di bawah Amerika Serikat.

Greenland Juga Tegaskan Penolakan

Unggahan Trump juga mendapat respons dari Denmark.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen kembali menegaskan bahwa pemerintah dan rakyat Greenland sudah menyampaikan sikap mereka dengan jelas.

Menurut Frederiksen, masyarakat Greenland tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Ia berharap tidak ada pihak yang meragukan sikap tersebut.

Frederiksen menegaskan bahwa penolakan tersebut berlaku baik di Amerika Serikat maupun di negara-negara lain.

Greenland selama ini menjadi bagian dari Kerajaan Denmark, meskipun memiliki pemerintahan sendiri dalam sejumlah urusan domestik.

Ketertarikan Trump terhadap wilayah tersebut telah menjadi salah satu isu yang terus muncul sejak ia kembali menjabat sebagai Presiden AS.

Baca juga: Iran Ancam Perang Ekonomi, Klaim Kerahkan Rudal Canggih ke Kapal Perang Amerika Serikat

Eropa Siapkan Investasi untuk Greenland

Persoalan Greenland juga menjadi perhatian Eropa.

Komisi Eropa baru-baru ini mengumumkan investasi sebesar 200 juta euro atau sekitar 172 juta poundsterling di Greenland.

Pengumuman tersebut dilakukan ketika Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Mette Frederiksen melakukan kunjungan ke wilayah tersebut.

Investasi itu akan diarahkan pada sejumlah sektor penting.

Beberapa di antaranya adalah pendidikan, konektivitas internet, pemanfaatan bahan baku di dalam negeri, serta pengembangan energi tenaga air.

Langkah tersebut menunjukkan adanya perhatian lebih besar dari Eropa terhadap pembangunan dan masa depan Greenland.

Meksiko Ikut Merespons Unggahan Trump

Meksiko juga memberikan respons setelah wilayahnya ikut ditampilkan dalam peta yang diunggah Trump.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menegaskan bahwa negaranya merupakan negara yang merdeka dan berdaulat.

Sheinbaum mengatakan Meksiko bukan dan tidak akan pernah menjadi koloni maupun protektorat negara asing.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui media sosial sebagai respons terhadap unggahan Trump.

Ia menegaskan bahwa Meksiko memiliki identitas dan kedaulatannya sendiri.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa unggahan peta Trump tidak hanya mendapat reaksi dari Islandia.

Sejumlah negara yang wilayahnya tampak dimasukkan ke dalam gambaran “Amerika Serikat” juga menunjukkan sikap tegas terhadap isu kedaulatan.

Hubungan AS dengan Negara Tetangga Kembali Disorot

Unggahan peta tersebut kembali menyoroti hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara di sekitarnya.

Kebijakan dan pernyataan Trump mengenai Greenland dan Kanada sebelumnya telah memicu perdebatan mengenai batas wilayah serta kedaulatan negara lain.

Kini, Islandia ikut mengambil langkah diplomatik dengan memanggil duta besar AS.

Sementara Denmark menegaskan kembali penolakan Greenland untuk menjadi bagian dari AS.

Meksiko juga menyatakan bahwa negaranya akan tetap menjadi negara bebas, merdeka, dan berdaulat.

Respons dari sejumlah negara tersebut menunjukkan bahwa isu kedaulatan menjadi perhatian utama di tengah pernyataan dan unggahan Trump mengenai wilayah negara lain.

Pemanggilan duta besar Islandia menjadi sinyal bahwa unggahan di media sosial sekalipun dapat memicu persoalan diplomatik jika dianggap menyangkut kedaulatan suatu negara.

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.